loading...

Laporan Praktikum | INFILTRASI


LAPORAN PRAKTIKUM
AGROHIDROLOGI DAN MANAJEMEN DAS

INFILTRASI









DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2








PRODI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016




KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat hidayah dan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan praktikum dengan judul ”INFILTRASI” dapat diselesaikan dengan baik.
Dalam menyelesaikan laporan ini banyak menemukan hambatan, tetapi berkat dukungan pihak-pihak yang telah membantu, sehingga dapat menyelesaikannya dengan baik.Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam penulisan laporan ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, oleh karena itu untuk perbaikan kami mengharapkan kritik-kritik dan saran-saran yang membangun.Semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih

Jambi,   Mei 2016
                                                                                                    
                                                                                                                
                                                                                                                
                                                                                                     Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................... 2
DAFTAR ISI ..................................................................................... 3
DAFTAR TABEL.............................................................................. 4
DAFTAR GAMBAR......................................................................... 5
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang ..................................................................... 6
1.2  Tujuan .................................................................................. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................... 8
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan waktu ............................................................. 14
3.2 Bahan dan alat ................................................................... 14
3.3 Prosedur kerja .................................................................... 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil.................................................................................... 16
4.2 Pembahasan......................................................................... 17
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan ....................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 22



DAFTAR TABEL

1.      Table hasil pengukuran laju infiltrasi................................................ 16
2.      Tabel hasil pengukuran kadar air tanah............................................ 17









DAFTAR GAMBAR

1.      Gambar kurva gradient M................................................................ 16
2.      Gambar kurva fitting model horton................................................. 17
3.      Gambar lampiran kegiatan praktikum.............................................. 23







BAB I
 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Infiltrasi merupakan peristiwa atau proses masuknya air ke dalamtanah, umumnya (tetapi tidak mesti) melalui permukaan tanah dan secara vertikal. Pada beberapa kasus, air dapat masuk melalui jalur atau rekahantanah, atau gerakan horizontal dari samping, dan lain sebagainya.
Dalam bidang konservasi tanah, infiltrasi merupakan komponen yang sangat penting karena masalah konservasi tanah pada azasnya adalah pengaturan hubungan antara intensitas hujan dan kapasitas infiltrasi, serta pengaturan aliran permukaan.Aliran permukaan hanya dapat diatur dengan memperbesar kemampuan tanah menyimpan air, utamanya dapat ditempuh melalui perbaikan atau peningkatan kapasitas infiltrasi.Kapasitas infiltrasi merupakan laju maksimum air yang dapat masuk ke dalam tanah pada suatu saat.
Infiltrasi merupakan interaksi kompleks antara intensitas hujan,karakteristik dan kondisi permukaan tanah.Intensitas hujan berpengaruhterhadap kesempatan air untuk masuk ke dalam tanah.Bila intensitashujan lebih kecil dibandingkan dengan kapasitas infiltrasi, maka semua airmempunyai kesempatan untuk masuk ke dalam tanah. Sebaliknya, bilaintensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan kapasitas infiltrasi,maka sebagian dari air yang jatuh di permukaan tanah tidak mempunyaikesempatan untuk masuk ke dalam tanah, dan bagian ini akan mengalirsebagai aliran permukaan. Penutupan dan kondisi permukaan tanahsangat menentukan tingkat atau kapasitas air untuk menembuspermukaan tanah, sedangkan karakteristik tanah, khususnya strukturinternalnya berpengaruh terhadap laju air saat melewati masa tanah.
Unsur sruktur tanah yang terpenting adalah ukuran pori dan kemantapanpori. Laju infiltrasi dapat diukur di lapangan dengan mengukur curah hujan, aliran permukaan, dan menduga faktor-faktor lain dari siklus air,atau menghitung laju infiltrasi dengan analisis hidrograf. Mengingat cara tersebut memerlukan biaya yang relatif mahal, maka penetapan infiltrasi sering dilakukan pada luasan yang sangat kecil dengan menggunakansuatu alat yang dinamai infiltrometer.
Ada beberapa macam infiltrometer yang dapat digunakan untukmenetapkan laju infiltrasi, yaitu: (1) ring infiltrometer (single ataudouble/concentric-ring infiltrometer); (2) wells, auger hole permeameter;(3) pressure infiltrometer; (4) closed-top permeameter; (5) crust test; (6)tension and disc infiltrometer; (7) driper; dan (8) rainfall (Clothier, 2001;Reynold et al., 2002). Metode yang akan diuraikan dalam bab ini adalahpengukuran infiltrasi dengan menggunakan ring infiltrometer.
1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui besarnya kapasitas  tanah terhadap laju infiltrasi.



BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA


 Infiltrasi adalah proses aliran air masuk ke dalam tanah yang umumnya berasal dari curah hujan, sedangkan laju infiltrasi merupakan jumlah air yang masuk ke dalam tanah per satuan waktu. Proses ini merupakan bagian yang sangat penting dalam daur hidrologi yang dapat mempengaruhi jumlah air yang terdapat dipermukaan tanah, dimana air yang terdapat dipermukaan tanah akan masuk ke dalam tanah kemudian mengalir ke sungai. Air yang dipermukaan tanah tidak semuanya mengalir ke dalam tanah, melainkan ada sebagian air yang tetap tinggal di lapisan tanah bagian atas (top soil) untuk kemudian diuapkan kembali ke atmosfer melalui permukaan tanah atau soil evaporation (Elfiati dan Delvian, 2010).
Dalam pengukuran laju infiltrasi di lapangan diperlukan adanya penggunaan ring infiltrometer. Keunggulan dari penggunaan ring infiltrometer dibandingkan dengan beberapa alat lainnya adalah relatif murah, mudah untuk menggunakan dan menganalisis datanya, serta tidak memerlukan keterampilan yang tinggi dari penggunanya. Kelemahan dari alat iniadalah peluang untuk terjadinya gangguan terhadap tanah relatif tinggi (Clothier, 2001), sehingga untuk mendapatkan hasil pengukuran yang mewakili, diperlukan ulangan pengukuran yang relatif banyak, baik ulangan secara spasial maupun temporal.
Ring infiltrometer utamanya digunakan untuk menetapkan infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi, sorptivitas, dan kapasitas infiltrasi. Ada dua bentuk ring infiltrometer, yaitu single ring infiltrometer dan double atau concentric-ring infiltrometer. Penggunaan double-ring infiltrometer ditujukan untuk mengurangi pengaruh rembesan lateral. Oleh karena adanya rembesan lateral, sering menyebabkan hasil pengukuran dari alat ini menjadi tidak mudah untuk diekstrapolasikan ke dalam skala lapangan.
Infiltrasi (vertikal) ke dalam tanah yang pada mulanya tidak jenuh,terjadi di bawah pengaruh hisapan matriks tanzssah dan gravitasi. Laju infiltrasi pada awalnya tinggi, dengan masuknya air lebih dalam dan lebih dalamnya profil tanah yang basah, maka hisapan matriks tanah berkurang dan akhirnya hanya tinggal tarikan gravitasi yang berpengaruh terhadap pergerakan air, menyebabkan laju infiltrasi semakin menurun dengan berjalannya waktu mendekati kondisi kesetimbangan (steady-state). Kandungan air tanah pada saat mulai terjadinya infiltrasi juga berpengaruh terhadap laju infiltrasi. Oleh karena itu Sharma et al. (1980) menyatakan bahwa secara tidak langsung infiltrasi dipengaruhi oleh evapotranspirasi melalui pengaruhnya terhadap kadar air tanah awal.

Laju infiltrasi sebagai fungsi dari waktu untuk dua tanah dengan perbedaan kandungan air pada awal infiltrasi (Sumber: Arsyad, 2000)
Pada pengukuran laju infiltrasi dengan menggunakan ring infiltrometer, istilah steady state seringkali diganti dengan quasi-steadystate/kesetimbangan semu. Istilah ini digunakan karena dalam beberapa kasus ”true”steady-state (kesetimbangan yang sesungguhnya) dapat menjadi sangat lambat untuk menuju ke asymptote. Young (1987) menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai laju infiltrasi dalam kondisi kesetimbangan (quasi-steady-state infiltration rate) semakin berkurang dengan semakin kecilnya ukuran/diameter ring yang digunakan. Namun demikian, penggunaan ring yang terlalu kecil juga menyebabkan semakin tingginya tingkat kesalahan (error) pengukuran (Tricker, 1978).
Keragaman alami yang tinggi dari tanah di lapangan juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan laju infiltrasi secara tidak menentu dengan berjalannya waktu, sehingga identifikasi dari true steady state menjadi sulit dilakukan. Beberapa praktisi telah mencoba untuk melakukan estimasi true steady state dengan memplot laju infiltrasi, q, (yaxis) terhadap inverse waktu, t-1, (x-axis). Selanjutnya mengekstrapolasi intersep dari y-axis untuk mendapatkan laju infiltrasi pada waktu yang tak terbatas/ ”infinite” time (Reynold et al., 2002).
Infiltrasi pada quasy-steady state melalui ring infiltrometer dapat digambarkan dengan menggunakan persamaan Reynolds dan Elrick (1990), yakni:
q K Q a2K H C d C a C d C a s fs fs (1)
dimana: qs (Lt-1) = laju infiltrasi pada kondisi kesetimbangan (quasi-steady infiltration rate); Q (L3t-1) = volume air yang terinfiltrasi per satuan waktu(the corresponding quasi-steady flow rate); a (L) = radius ring, H (L) = kedalaman genangan dalam ring pada kondisi kesetimbangan (the steadydepth of ponded water), d (L) = kedalaman/bagian ring yang masuk kedalam tanah, C1 =0,361π dan C2 = 0,184 π (merupakan konstanta untuk d 3 cm dan H 5 cm), α* = sifat pori tanah/soil macroscopis capillarity.
Persamaan (1) mengindikasikan bahwa infiltrasi (quasy-steadystate infiltration) ditentukan oleh konduktivitas hidrolik tanah dalam keadaan jenuh (Kfs), kedalaman penggenangan (H), kedalaman ring/tinggi ring yang masuk ke dalam tanah/cylinder insertion depth (d), jari-jari ring infiltrometer (a), dan panjang pori makro/soil macroscopic capilarity length(α*). Persamaan tersebut juga mengindikasikan adanya tiga komponen aliran (quasy-steady flow) pada ring infiltrometer, yaitu aliran yang disebabkan oleh tekanan hidrostatik dari genangan air dalam ring (termasuk satu dari persamaan satu bagian kanan), aliran yang dipengaruhi oleh kapilaritas tanah dalam keadaan tidak jenuh/capilarity suction (term kedua dari persamaan satu bagian kanan), dan aliran yang dipengaruhi oleh gravitasi (term ketiga dari persamaan satu bagian kanan). Aliran lateral (penyimpangan aliran) yang disebabkan oleh tekanan hidrostatik dan kapilaritas dinyatakan secara implisit dalam term (C1d+C2a).
Pada kondisi tertentu dimana H=d=0, misalnya pada kondisi genangan dangkal, maka persamaan (1) dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan yang dikemukakan oleh Wooding dalam Reynolds et al.(2002), yakni:
/ /( ) 1/( * 1 2 3 q K Q a Kfs C a s fs (2)
dimana: C3=0,23 π. Untuk kasus seperti ini, hanya komponen kapilaritasdan gravitasi yang berpengaruh.
Hanafiah (2005) menyatakan bahwa klasifikasi laju infiltrasi di bagi menjadi beberapa bagian, sebagai berikut:
Tabel Kriteria laju infiltrasi konstan
Kls
Kategori
Infiltrasi
Laju
Infiltrasi
Konstan
(mm/jam)
Keterangan
1
2
3
4

5

6

7
Sangat lambat
Lambat
Agak lambat
Sedang

Agak cepat

Cepat

Sangat cepat
<1
1-5
5-20
20-60

60-125

125-250

> 250
Non
irigasi
Perlakuan
khusus
Faktor Yang Mempengaruhi Infiltrasi
Suryatmojo (2006) menjelaskan bahwa infiltrasi di pengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
·     Tekstur Tanah
Tekstur tanah menunjukkan perbandingan butir-butir pasir ( 2 mm–50 µ), debu (50-2µ), dan liat (<2µ) di dalam tanah. Kelas tekstur tanah dibagi dalam 12 kelas yaitu: pasir, pasir berlempung, lempung berpasir, lempung, lempung berdebu, debu, lempung liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu, liat berpasir, liat berdebu, liat.
Berdasarkan ukurannya, bahan padatan tanah digolongkan menjadi tiga partikel atau juga disebut sebagai separat penyusun tanah yaitu pasir, debu, dan liat. Tanah berpasir yaitu tanah dengan kandungan pasir > 70 %, porositasnya rendah (< 40 %), sebagian besar ruang pori berukuran besar, sehingga aerasenya baik, daya hantar air cepat tetapi kemampuan menahan air dan zat hara rendah. Tanah disebut bertekstur liat jika kandungan liatnya > 35 %, porositasnya relatif tinggi (60 %), tetapi sebagian besar merupakan pori berukuran kecil, daya hantar air sangat lambat dan sirkulasi udara kurang lancar. Pada tekstur tanah pasir , laju infiltrasi akan sangat cepat, pada tekstur lempung laju infiltrasi adalah sedang hingga cepat dan pada tekstur liat laju infiltrasi tanah akan lambat.
·     Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunan agregat-agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang. Struktur tanah dapat dinilai dari stabilitas agregat, kerapatan lindak, dan porositas tanah. Struktur tanah ditentukan oleh tiga group yaitu mineral-mineral liat, oksida-oksida besi, dan  mangan, serta bahan organik koloidal gum yang dihasilkan oleh jasad renik.
Bentuk struktur tanah yang membulat (granular dan remah) menghasilkan tanah dengan daya serap tinggi sehingga air mudah meresap kedalam tanah. Struktur tanah remah (tidak mantap), sangat mudah hancur oleh pukulan air hujan menjadi butir-butir halus, sehingga menutup pori-pori tanah. Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat.
·     Berat Isi (Bulk Density)
Semakin tinggi kepadatan tanah, maka infiltrasi akan semakin kecil. Kepadatan tanah ini dapat disebabkan oleh adanya pengaruh benturan-benturan hujan pada permukaan tanah. Tanah yang ditutupi oleh tanaman biasanya mempunyai laju infiltrasi lebih besar dari pada permukaan tanah yang terbuka. Hail ini disebabkan oleh perakaran tanaman yang menyebabkan porositas tanah lebih tinggi, sehingga air lebih banyak dan meningkat pada permukaan yang tertutupi oleh vegetasi, dapat menyerap energi tumbuk hujan dan sehingga mampu mempertahankan laju infiltrasi yang tinggi.
Kerapatan isi adalah berat persatuan volume tanah kering oven, biasanya ditetapkan sebagai g / m3. Contoh tanah yang ditetapkan untuk menentukan beratjenis palsu harus diambil secara hati-hati dari dalam tanah, tidak boleh merusak struktur asli tanah. Terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi pori-por tanah, demikian pula berat persatuan volume. Empat atau lebih bongkah (gumpal) tanah biasanya diambil dari tiap horizon untuk memperoleh nilai rata-rata.
·    Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah merupakan penimbunan, terdiri sebagian dari sisa dan sebagian dari pembentukan dari sisa tumbuahan dan hewan. Bahan organik yang dikandung oleh tanah hanya sedikit, kurang lebih hanya 3 % sampai 5 % dari berat tanah dari topsoil tanah mineral yang mewakili. Bahan organik berperan sebagai pembentuk butir (granulator) dari butir-butir mineral yang menyebabkan. Terjadinya keadaan gembur pada tanah produktif. Bahan ini biasanya berwarna hitam atau coklat bersifat koloida. Daya menahan air dan ion-ion hara jauh lebih besar dari pada lempung.
Persamaan Horton    (f = fc + (f0 – fc) e-kt)
                        f      = Kapasitas infiltrasi (laju infiltrasi maksimum)
                        fc     = laju infiltrasi konstan
                        f0      = laju infiltrasi awal
                        k     = konstanta
                        t      = waktu
                        e     = bilangan alami (2.71828)










BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
   Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 03 April 2016 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Jambi.
3.2 Bahan dan Alat
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah ring infiltrometer dengan diameter 22.5 cm dan 90 cm, ember dan gayung, penggaris berskala, pencatat waktu (stopwatch), kantong plastik kecil dan karet gelang serta ATK. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu lahan dan air.
3.3  Prosedur Kerja
1.      Tentukan lokasi pengukuran yang dapat mewakili kondisi lapangan yang dimaksud, proporsional terhadap luasan yang direncanakan (mewakili kondisi tanah, lereng, penggunaan lahan). Bila pengukuran pada suatu kemiringan lereng, maka dilakukan pengukuran pada bagian atas, tengah dan bawah.
2.      Lokasi pengukuran pada lahan yang relatif datar umtuk memudahkan proses pemasukan ring kedalam tanah.
3.      Bersihkan tempat pengukuran dari serasah atau sisa tanaman dipermukaan tanah dengan tidak menyebabkan kerusakan permukaan tanah (rumput atau semak dipotong dengan gunting, tidak dicabut)
4.      Ambil sampel tanah (± 200 gram) disekitar lokasi pengukuran dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk penetapan kadar air tanah saat awal pengukuran dengan metode gravimetrik.
5.      Masukkan ring besar dan ring kecil secara bersamaan dengan men-set kedua ring pada alat penekan (tutup penekan), jika kedua ring yang akan dimasukkan sudah stabil dipermukaan tanah (agar tidak menyebabkan kerusakan struktur tanah) lakukan pemukulan papan penekan dengan palu secara hati-hati.
6.      Pasang penggaris di dalam ring kecil dan kondisikan alat pencatat waktu (stopwatch) untuk siap pakai.
7.      Masukkan air kedalam kedua ring secara bersamaan hingga ketinggian 10-20 cm (sesuaikan dengan ukuran ring yang digunakan, tinggi muka air harus sama pada kedua ring untuk menghindari rembesan ke samping).
8.      Pengukuran dilakukan melalui pengamatan penurunan muka air pada kedua ring sudah terlalu dalam dan menyulitkan pengamatan, maka harus dilakukan penambahan air pada kedua ring tersebut hingga lebih kurang sama dengna kondisi awal. Setelah itu pengukuran dilanjutkan (selama penambahan air dianggap tidak ada pengukuran).


BAB IV
 HASIL DAN PEMBAHASAN


 4.1. Table Hasil Pengukuran Laju Infiltrasi





4.2. Tabel Penghitungan Kadar Air Tanah
no
Berat cawan
Berat basah
Berat kering
Kadar air tanah (%)
1
4.5 gram
30.0 gram
27.9 gram
7.52
2
4.6 gram
30.0 gram
28.0 gram
7.14

4.3. Pembahasan
            Pada praktikum kali ini dilakukan untuk menghitung laju infiltrasi yang terjadi dalam suatu luasan tanah. Perlu diketahui bahwa infiltrasi adalah proses masuknya air kedalam tanah yang tidak terlalu dalam secara vertikal kedalam tanah akibat adanya pori-pori di dalam tanah yang masih kosong dan belum penuh oleh adanya air. Sementara laju infiltrasi adalah total air yang masuk kedalam tanah dan tidak terlalu dalam per satuan waktu tertentu. Proses ini merupakan salah satu daur hidrologi yang sangat penting dimana infiltrasi dapat memengaruhi aliran air yang mengalir di permukaan tanah dimana air yang mengalir di prmukaan tanah akan masuk kedalam tanaha dan seterusnya mengalir menuju badan air atau sungai.
            Dalam pengukuran laju infiltrasi ini alat utama yang digunakan adalah dua buah ring infiltrometer yang memiliki diameter berbeda. Ring pertama merupakan ring paling kecil dengan diameter sekitar 22,5 cm dan ring kedua merupakan ring terbesar dengan diameter 90 cm. posisi peletakan ring yaitu ring terkecil tepat berada ditengah tengah ring yang paling besar dengan pemasangan ring yang sama tinggi sehingga tidak terjadi ketimpangan saat melakukan pengukuran laju infiltrasi. Dari pengukuran laju infiltrasi dilapangan, dalam mempertahankan tinggi muka air yang konstan, yang diukur laju infiltrasi dan waktunya adalah hanya pada cincin bagian dalam sedangkan bagian luar hanya untuk mengurangi batas dari tanah sekitarnya yang kebih kering. Selain itu juga sebagai batas agar air dari ring dalam tidak bergerak masuk secara horizontal akibat adanya permiabilitas tanah.
Selain itu sebelum melakukan pengukuran laju infiltrasi diperlukan untuk mengambil sampel tanah yang ada disekitar ring infiltrometer. Sampel tanah yang telah didapatkan dibawa ke laboratorium untuk diketahui berat basah serta berat kering tanah tersebu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kadar air tanah serta tekstur tanah tersebut dalam mempengaruhi laju infiltrasi. Penghitungan awal kadar air tanah ini menggunakan metode gravimetric dengan cara selisih antara berat basah dan berat kering dibagi dengan berat kering lalu dikalikan dengan 100% maka didapatkan hasil rata-rata pada dua cawan yang dioven yaitu kadar air sebanyak 7.33%.
Pengukuran laju infiltrasi pada praktikum kali ini menggunakan perhitungan berdasarkan metode Horton. Metode Horton digunakan biasa digunakan untuk menentukan kapasitas infiltrasi (laju infiltrasi maksimum). Pada hasil yang praktikum yang telah dilakukan, laju infiltrasi maksimum yang didapat adalah 16,6 cm dengan jumlah waktu 290 menit dan nilai log adalah 1,21. Data tesebut dipengaruhi oleh faktor tanaman penutup tanah. Lahan yang digunakan untuk praktikum infiltrasi pada lahan yang kelompok kami gunakan adalah lahan dengan kondisi ilalang dan tanpa naungan ataupun adanya pohon.
Pada awal melakukan pengamatan infiltrasi, air yang ditumpahkan kedalam infiltrometer bagian dalam dan luar masih terus masuk kedalam tanah sehingga waktu masih terus berjalan dalam pengamatan. Penghitungan laju infiltrasi akan berhenti jika telah menemukan nilai konstan dan tidak berubah lagi. Nilai konstan didapatkan karena kondisi tanah yang sudah jenuh dengan air sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya infiltrasi sehingga air yang masuk atau jatuh ke permukaan tanah tersebut hanya akan menjadi air aliran permukaan tanpa mengalami infiltrasi.
Jika dilihat dari table maka dapat dinyatakan bahwa laju infiltrasi konstan pada tanah yang diamati adalah 2.2. angka tersebut didapatkan dengan pengamatan selama kurang lebih 290 menit dan nilai konstan mulai muncul pada 159 menit terakhir. Jika dinyatakan dengan metode perhitungan Horton maka dapat dilihat pada kurva gradient dan kurva Horton pada gambar hasil diatas dimana keadaan laju infiltrasi yang awalnya tinggi lama-kelamaan akan melambat dan akhirnya konstan karena keadaan tanah yang telah jenuh oleh air sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya infiltrasi. Selain itu laju infiltrasi bias dikatakan lambat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hanafiah (2005) yang menyatakan bahwa laju 1-5 berarti lambat.
Factor lain juga mempengaruhi terjadinya laju infiltrasi yang ada di suatu lahan seperti keadaan pori tanah serta kadar air tanah. Oleh karena itu diatas juga sudah diterangkan bahwa kadar air tanah penting diketahui untuk mengatahui sifat tanah tersebut yang dapat memengaruhi laju infiltrasi. Kadar air tanah mempengaruhi ifiltrasi karena kadar air tanah yang banyak akan menyebabkan tanah menjadi jenuh dan laju infiltrasi menjadi berkurang. Kadar air tanah akan berbanding terbalik dengan laju infiltrasi. Semakin tinggi kadar air tanah sebelum diinfiltrasi maka laju infiltrasi semakin rendah. Begitupun sebaliknya, jika kadar air tanah sebelum diinfiltrasi maka besar kemungkinan laju infiltrasi akan semakin cepat dan memiliki kapasitas infiltrasi yang lebih besar. Maka hal ini sesuai dengan kadar air tanah yang dihitung dimana dengan sampel yang diambil memiliki berat basah tanah 30 gram didapatkan kadar air tanah sebanyak rata-rata 7.33% angka ini termasuk tinggi yang menyebabkan laju infiltrasi semakin rendah.
Jenis tanah pada umumnya juga mempengaruhi laju infiltrasi yang terjadi dimana pada tanah dengan tekstur berpasir memiliki laju infiltrasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan laju infiltrasi pada tekstur tanah liat dikarenakan tidak adanya kemampuan tanah dalam menahan air pada tanah berpasir.
Ketika air menyentuh permukaan tanah, sebagian atau seluruh air tersebut masuk kedalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah. Proses masuknya air hujan kedalam tanah ini disebabkan oleh tarikan gaya grafitasi dan kapiler tanah.. laju infiltrasi yang dipengaruhi oleh gaya grafitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-pori tanah. Dibawah pengaruh gaya grafitasi , air  mengalir tegak lurus kedalam tanah melalui profil tanah. Tanah dapat ditembusi air karena adanya celah yang tak kapilar melalui mana aliran air grafitas mengalir kebawah menuju air tanah, dengan mengikuti suatu jalan berhambatan paling lemah. Gaya-gaya kapilar mengalihkan air grafitas secara terus menerus kedalam rongga-rongga pori kapilar, sehingga jumlah air grafitas yang melalui horizon-horizon yang lebih rendah secara berangsur-angsur berkurang.





BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Infiltrasi adalah proses masuknya air kedalam tanah yang tidak terlalu dalam secara vertikal kedalam tanah akibat adanya pori-pori di dalam tanah yang masih kosong dan belum penuh oleh adanya air. Sementara laju infiltrasi adalah total air yang masuk kedalam tanah dan tidak terlalu dalam per satuan waktu tertentu. Proses ini merupakan salah satu daur hidrologi yang sangat penting dimana infiltrasi dapat memengaruhi aliran air yang mengalir di permukaan tanah dimana air yang mengalir di prmukaan tanah akan masuk kedalam tanaha dan seterusnya mengalir menuju badan air atau sungai.
Laju infiltrasi yang terjadi pada awalnya berlangsung cepat namun pada lama-kelamaan berlangsung lambat dan akhirnya konstan.hal ini disebabkan karena kondisi tanah yang sudah jenuh oleh adanya air yang masuk melalui proses infiltrasi sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya infiltrasi dan pada akhirnya air yang jatuh ke permukaan tanah hanya akan menjadi aliran air permukaan.
Jenis tanah pada umumnya juga mempengaruhi laju infiltrasi yang terjadi dimana pada tanah dengan tekstur berpasir memiliki laju infiltrasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan laju infiltrasi pada tekstur tanah liat dikarenakan tidak adanya kemampuan tanah dalam menahan air pada tanah berpasir.





DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman A, U Haryati dan I Juarsah. 2010. Penetapan Kadar Air Tanah Dengan Metode Gravimetrik. Lembaga Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Clothier, B. 2001. Infiltration. p. 237-277. In Soil and Environmental Analyses: Physical methods. In Smith et al. (Eds.). Marcel Dekker, Inc. United States of America.
Dariah A dan A Rachman. 2009. Pengukuran Infiltrasi. ITB Press. Bandung.
Elviati, D dan Delvian. 2010. Laju Infiltrasi Pada Berbagai Tipe Kelerengan Dibawah Tegakan Ekaliptus Diareal HPHTI PT, Toba Pulp Lestrai Sektor Aek Nauli. Dep Kehutanan, Fakultas Pertanian, USU. J. Hidrolitan. 1:2:29-34, 2010.
Reynold, W. D., D. E. Elrick, dan E. G. Young. 2002. Ring or cylinder infiltrometer (Vadose Zone). p. 804-808. In Method of Soil Analysis Part 4-Physical Method. (Eds. Dane and Topp). Soil Sccience Society of America, Inc. Madison, Wisconsin, USA.
Tricker, A. S. 1978. The infiltration cylinder: Some comments on its use. Journal of Hydrology. 36: 383-391. Esevier Scicientific Publishing Company, Amsterdam.





LAMPIRAN



 










 






                                                                               



 








                                                                               




 














                                                                                



 



                               

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | INFILTRASI "

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!