loading...

Laporan Praktikum | Penentuan Waktu Setempat


                LAPORAN PRAKTIKUM
                AGROKLIMATOLOGI
                PENENTUAN WAKTU SETEMPAT











              FITRI ANDELA
           KELAS B









             PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
            FAKULTAS PERTANIAN
           UNIVERSITAS JAMBI
            2015






BAB I
               PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Waktu adalah saat orang menghabisi atau melewati aktivitasnya. Dengan waktu manusia bisa melakukan dan merencanakan segala hal. Tanpa waktu yang ditunjukkan dengan jarum jam, maka manusia akan kesulitan untuk melakukan apapun.
Umumnya orang menghitung waktu dari saat matahari terbit sampai matahari terbit berikutnya. Tetapi karena kedudukan bumi terhadap matahari berubah sehingga selama selama rentang waktu tertentu di kutub tidak pernah terlihat matahari terbit dan selama rentang waktu lain tidak terlihat waktu terbenam. Oleh karena itu perhitungan waktu dengan menggunakan saat matahari terbit dan terbenam tidak dapat digunakan secara luas. Dengan adanya jarum jam yang menunjukkan waktu, waktu bisa dibagi dalam hitungan jam, menit dan detik serta kontinyu sepanjang masa.
Secara Astronomis,bumi terdiri atas garis bujur dan garis lintang. Garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan Kutub Utara & Kutub Selatan bumi. Garis lintang adalah garis khayal yang melintang mengelilingi bumi dari barat ke timur. Garis bujurdigunakan sebagai pedoman untuk pembagian wilayah waktu. garis lintang sebagai pedoman untuk pembagian wilayah iklim.
Wilayah Indonesia terbagi kedalam 3 zona waktu, yaitu Waktu Indonesia Bagian Barat, Waktu Indonesia Bagian Tengah, dan Waktu Indonesia Bagian Timur. Pembagian Zona Waktu ini didasarkan pada garis Bujur letak suatu daerah di Indonesia. Dalam pembagian Zona Waktu ini, tak hanya waktu (jam) saja yang berbeda, tetapi segala aktivitas sosial masyarakat dan aktivitas bumi juga berbeda.

1.2.  Tujuan
Adapun tujuan praktikum yang kami lakukan yaitu untuk mengetahui cara dalam menentukan keseragaman waktu pengamatan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Waktu atau Masa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Jenis-jenis pengukur waktu atau jam adalah: Jam matahari, Jam analog, Jam digital.
Dasar penentuan WSt
Indonesia dibagi atas 3 daerah waktu yaitu :
1.    Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Barat (WIB) = 105° Bujur Timur (BT)
2.    Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Tengah (WITA) = 120° Bujur Timur (BT)
3.    Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Timur (WITim) = 135° Bujur Timur (BT)
Pada tempat-tempat yang terletak pada garis bujur dasar (GBD) maka WS sama dengan WIB, WITA atau WIT (WS = WI).
Maksudnya :
Lokasi x pada 105° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WIB.
Lokasi y pada 120° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WITA
Lokasi z pada, 135° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WIT.
Pada daerah yang terletak di sebelah timur garis bujur dasar maka : WS = WI - beda waktu berdasarkan garis bujur dasar. Sedangkan daerah di sebelah barat garis barat garis bujur dasar dihitung dengan : WS = WI + beda waktu berdasarkan garis bujur dasar.
Cara pengamatan :
Untuk menentukan waktu setempat dalam waktu wilayah dan kemudian dikoreksi dengan waktu revolusi dapat dipakai rumus :
                                     WW= Wst + B + K
Dimana :
WW     : Waktu Wilayah ( WIB, WITa, WITim )
Wst      : Waktu Setempat
B         : Beda waktu dalam menit, nilainya bisa positif, atau negatif
K         : Koreksi waktu akibat revolusi bumi menurut tabel yang ditentukan
Untuk menentukan nilai B ( beda waktu dalam menit ) adalah :
B= 4( dww-dbt ) menit
Dimana :
dww = derajat waktu wilayah
dbt : derajat bujur timur, dari tempat yang akan ditentukan. 

Pengaturan zona waktu dunia memang telah mengalami pergeseran, dari yang dulu berada dalam ranah astronomis menjadi ranah politis-ekonomis di masa kini. Secara astronomis rumus dasar pengaturan zona waktu dunia cukup sederhana. Bumi berputar pada sumbunya sehingga setiap titik di permukaan Bumi (kecuali kutub utara dan selatan) pada hakikatnya akan berputar tepat 360 derajat terhadap sumbu rotasi Bumi. Periode rotasi Bumi rata-rata adalah 24 jam. Ini adalah angka rata-rata, sebab nilai senyatanya bervariasi dimana pada satu kesempatan bisa lebih dari 24 jam dan di lain waktu bisa kurang dari 24 jam. Dalam astronomi, selisih periode rotasi Bumi senyatanya dengan nilai rata-rata dinamakan perata waktu atau equation of time atau ta’diluzzaman, yang amat penting peranannya dalam penentuan waktu Matahari (Sudibyo,2014)
Waktu Greenwich atau Greenwich Mean Time atau GMT adalah rata-rata waktu surya seperti yang dilihat dari Royal Greenwich Observatory (Observatorium Kerajaan di Greenwich), yang terletak di Greenwich, London, Inggris, yang melalui konvensi dikenal terletak di 0 derajat garis bujur. Secara teori, tengah hari GMT adalah saat di mana matahari melewati Meridian Greenwich (dan mencapai titik tertinggi di langit di Greenwich). Karena bumi memiliki kecepatan yang tidak teratur dalam orbit lonjongnya, kejadian ini (tengah hari di Greenwich) bisa 16 menit berbeda dari waktu Matahari nyata (apparent solar time) (perbedaan ini dikenal sebagai persamaan waktu). Namun tengah hari Greenwich ini diambil rata-ratanya sepanjang tahun, dengan menggunakan waktu Matahari.( Wikipedia )
Penetapan Kota Greenwich sebagai mula perhitungan waktu, menurut geolog Mesir Dr Zaglur Najjar yang juga dosen ilmu bumi di Wales University, Inggris, tidak terlepas dari pengaruh Inggris pada kala itu yang merupakan kekuatan kolonial super power dunia. Dari Greenwich-lah, bumi dibagi menjadi garis-garis bujur imajiner. Setiap 15 derajat sama dengan satu jam. Dan, setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda satu jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari dan penanggalan internasional pun bermula dari bujur yang berjarak 180 derajat dari Greenwich. Perbedaan waktu setiap belahan bumi juga bisa dihitung berdasarkan posisi kita di garis bujur. Karena satu putaran bumi itu memakan waktu 24 jam, perbedaan waktu satu jam adalah pada 360 derajat/24 = 15 derajat garis bujur. Artinya, setiap tempat yang memiliki perbedaan posisi bujur sebesar 15 derajat akan memiliki perbedaan waktu satu jam. Inilah pembagian zona yang dirintis oleh orang Kanada, Sir Stanford Fleming (1827-1915).( renzdtama, 2011)
Indonesia terletak di antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT, antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia, dan pada pertemuan dua rangkaian pergunungan, iaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterranean.
Letak astronomi mengakibatkan terjadinya perbedaan waktu sekitar 3 jam (yang lebih tepatnya 46 x 4 minit = 184 minit) antara bagian paling timur dengan bagian paling barat Indonesia.
Sejak tanggal 1 Januari 1988 di Indonesia diberlakukan pembahagian daerah waktu yang baru, menggantikan pembahagian waktu lama yang berlaku sejak 1 Januari 1964. Dengan berlakunya pembahagian daerah waktu baru ini, terjadi pergeseran waktu di beberapa tempat.
Daerah Waktu Indonesia Barat (WIB). Waktu Indonesia Bahagian Barat berdasarkan meridian pangkal 105º BT, meliputi keseluruhan Provinsi di pulau Sumatera, seluruh Provinsi di pulau Jawa, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah (mempunyai selisih waktu 7 jam lebih awal daripada waktu Greenwich).
Daerah Waktu Indonesia Tengah (WITA). Berdasarkan meridian pangkal 120º BT, meliputi Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB),Nusa Tenggara Timur (NTT), dan seluruh Provinsi di Sulawesi (mempunyai selisih waktu 8 jam lebih awal daripada Greenwich).
Daerah Waktu Indonesia Timur (WIT). Waktu Indonesia Bahagian Timur berdasarkan meridian pangkal 135º BT, meliputi seluruh provinsi di Irian Jaya (Papua), Maluku, danMaluku Utara (mempunyai selisih waktu 9 jam lebih awal daripada waktu Greenwich).(wikipedia )





BAB III
METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu
            Praktikum Penentuan Waktu Setempat ini dilaksanakan pada hari senin, tanggal 7 Desember 2015 pukul 11.00 WIB sampai selesai yang bertempat di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

3.2.  Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Alat tulis, Penuntun praktikum dan Tabel koreksi waktu dalam menit.

3.3. Prosedur Praktikum
1.       Menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan praktikum
2.       Mendengar penjelasan dari dosen pengampu mengenai penentuan waktu setempat
3.       Mengerjakan soal yang diberikan dosen mengenai waktu setempat



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
            Tabel koreksi waktu dalam menit
Tgl
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agus
Sept
Okt
Nov
Des
1
04
14
13
04
-03
-02
04
06
00
-10
-16
-10
4
05
14
12
03
-03
-02
04
06
-01
-11
-16
-09
7
07
15
11
02
-03
-01
05
06
-02
-12
-16
-08
10
08
15
11
01
-04
-01
05
05
-03
-13
-16
-07
13
09
15
10
01
-04
00
06
05
-04
-14
-15
-05
16
10
15
09
00
-04
01
06
04
-05
-14
-15
-04
19
11
14
08
-01
-03
01
06
04
-06
-15
-14
-02
22
12
14
07
-02
-03
02
06
03
07
-15
-13
-01
25
13
14
06
-02
-03
03
06
02
-08
-16
-12
01
28
13
13
05
-02
-03
03
06
01
-09
-16
-11
02
31
14
04
-02
06
00
-16
04

1.      Denpasar 115o 131  pukul 07.00 pada tanggal 26 Februari
 B = 4 (dww-dbt) menit
     = 4 (120o – 115o 131) menit
     = 4 ( 5 o 131) menit
     = 4 (5.22o) menit
     = 20.88 menit
     = 21 menit 28 detik
K  = 14 menit
WW  = Wst + B + K
         = 07.00 + 21 menit 28 detik + 14 menit
         = 07.00 + 35 menit 28 detik
         = 07.35.28
         = Jam 07 lewat 35 menit 28 detik
Jadi, pukul 07.00 Wst sama dengan pukul 07.35.28 WITA

2.      Jakarta 106o 991 pukul 07.00 pada tanggal 15 April
B  = 4 (dww-dbt) menit
     = 4 (105o– 106o 991) menit
     = 4 (-1o991) menit
     = 4 (0,65o) menit
     = 2,6 menit
K  = 00 menit
WW  = Wst + B + K
         = 07.00 + 2,6 menit + 00 menit
         = 07.02.6
         = jam 07 lewat 2 menit 6 detik
Jadi, pukul 07.00 Wst sama dengan pukul 07.02.6 WIB

3.      Ambon 128o 141 pukul 06.00 pada tanggal 3 Juni
B  = 4 (dww-dbt) menit
     = 4 (135o– 128o 141) menit
     = 4 ( 7o141) menit
     = 4 (7.23) menit
     = 28.92 menit
     = 29 menit 32 detik
K  = -02 menit
WW  = Wst + B + K
         = 06.00 + 29 menit 32 detik – 02 menit
         = 06.27.32
         = jam 06 lewat 27 menit 32 detik
Jadi, pukul 06.00 Wst sama dengan 06.27.32 WIT

4.      Banda aceh 95o 701 pukul 06.00 pada tanggal 10 November
B  = 4 (dww-dbt) menit
     = 4 (105o– 95o 701) menit
     = 4 (10o701) menit
     = 4 (11.17) menit
     = 44.68 menit
     = 45 menit 08 detik
K  = -16 menit
WW  = Wst + B + K
     = 06.00 + 45 menit 08 detik -16 menit
     = 06.29.08
     = jam 06 lewat 29 menit 8 detik
Jadi, pukul 06.00 Wst sama dengan pukul 06.29.08 WIB

5.      Jayapura 140o 381 pukul 10.00 pada tanggal 20 Desember
B  = 4 (dww-dbt) menit
     = 4 ( 135o– 140o 381 ) menit
     = 4 (-5o 381) menit
     = 4 (-4.37) menit
     = -17.48 menit
K  = -02 menit
WW  = Wst + B + K
         = 10.00 -17.48 menit – 02 menit
         = 09.40.52
         = jam 09 lewat 40 menit 52 detik
Jadi, pukul 10.00 Wst sama dengan pukul 09.40.52 WIT



4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil yang diperoleh perbedaan waktu setempat dengan waktu yang sebenarnmya tidaklah jauh, melainkan hanya beberapa menit. Hal ini terjadi karena kecepatan rotasi bumi yang berbeda.
Kelompok 4 melakukan perhitungan waktu pada 5 wilayah yang berbeda di Indonesia, yaitu Denpasar, Jakarta, Ambon, Banda aceh dan Jayapura. Dan dengan jam yang berbeda-beda pula.
Indonesia terbagi menjadi 3 zona waktu karena panjang wilayah Indonesia secara “membujur” barat-timur adalah 44°, sehingga 44° : 15° = 2,93 (dibulatkan menjadi 3). Sehingga “panjang” zona waktu Indonesia secara keseluruhan adalah 3 jam yang pada akhirnya menyebabkan zona waktu Indonesia dibagi menjadi 3 zona. Zona-zona di Indonesia yaitu Bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur.
            Pada penentuan waktu ini, berguna untuk menetapkan waktu sholat dan waktu berpuasa. Dengan perubahan waktu yang terjadi setiap harinya, rumus ini berguna menentukan waktu yang tepat untuk daerah yang kita tempati.



BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
                  Adapun kesimpulan dari praktikum yang kami lakukan yaitu Indonesia memiliki tiga zona waktu yaitu waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), waktu Indonesia bagian Timur (WIT).
Untuk menentukan berbagai perbedaan waktu diperoleh dengan menggunakan rumus :
B = 4 (dww-dbt) menit         dan        WW = Wst + B + K
Kelompok 4 melakukan perhitungan waktu pada 5 wilayah yang berbeda di Indonesia, yaitu Denpasar, Jakarta, Ambon, Banda aceh dan Jayapura. Dan dengan jam yang berbeda-beda pula.






DAFTAR PUSTAKA

Pane M. 2015. Laporan Praktikum Agroklimatologi Penentuan Waktu Setempat. Diunduh dari situs http://meidapane05.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-agroklimatologi.html pada tanggal 09 Desember 2015 pukul 09.00 WIB.
Purba WB. 2013. Tugas Agroklimatologi Laporan Praktikum. Diunduh dari situs https://plus.google.com/107678876451574334534/posts/ANCJHmfCvvz pada tanggal 09 Desember 2015 pukul 09.00 WIB.







Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Laporan Praktikum | Penentuan Waktu Setempat"

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!