loading...

Lapoaran Praktikum | Gejala Serangan Hama Pada Tanaman


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
“GEJALA SERANGAN HAMA PADA TANAMAN”











Oleh:
            Nama:  FITRI ANDELA






JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016






BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam hal peningkatan produksi pertanian seringkali dihadapkan pada permasalahan gangguan serangan hama tanaman. Hama adalah hewan atau binatang  yang merusak tanaman sehingga menyebabkan kerugian secara ekonomi (Beroza,1970). Penyebab hama tanaman dapat berupa serangga dan hewan vertebrata (seperti tikus, burung, babi hutan), tungau, dan moluska. Kerugian yang ditimbulkannya beragam, tergantung beberapa factor, seperti factor makanan, iklim, musuh alami dan manusia sendiri. Sehubungan Indonesia terletak di daerah tropis, maka masalah gangguan serangan hama tanaman hampir selalu ada sepanjang tahun, hal ini disebabkan faktor lingkungan yang sesuai bagi perkembangan populasi hama. Selain itu juga karena tanaman inangnya hampir selalu ada sepanjang waktu. Gangguan serangan hama pada tanaman sangat merugikan, sehingga upaya pengendaliannya harus senantiasa diupayakan.
Penyebab hama sebagian besar adalah berasal dari golongan serangga, namun demikian serangga yang berperan sebagai hama ternyata hanya 1-2 persen saja, sedangkan sisanya yang 98-99 persen adalah merupakan serangga berguna yang dapat berperan sebagai parasitoid, predator, penyerbuk (pollinator), pengurai (decomposer), dan serangga industry. Menurut banyak ahli entomologi, serangga terdiri 30 ordo, namun hanya 13 ordo yang merupakan ordo penting dalam perlindungan tanaman. Pengenalan gejala serangan hama sangat penting untuk diketahui karena untuk menentukan binatang penyebabnya umumnya lebih mudah diketahui dari gejala serangannya.

1.2. Tujuan Praktikum
Laporan praktikum ini dibuat bertujuan untuk mengetahui jenis serangga hama yang menyerang tanaman dan gejala serangannya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hama
Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman,merusak tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu tanaman berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga hama mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan thorax.Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.  Hama dari jenis serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian.  Hama dan penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga tanaman akan layu dan bahkan mati(Harianto, 2009).
Hama merupakan semua serangga maupun binatang yang aktifitasnya menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu dan berdampak pada kerugian secara ekonomis.Serangga terbagi dalam beberapa ordo sesuai dengan ciri khas masing-masing, diantaranya berdasarkan tipe mulut yang terbagi atas tipe mulut menggigit, mengunyah, menjilat, menusuk, mengisap, menggerek (rioardi, 2009).
Hama adalah serangga yang mengurangi kualitas dan kuantitas bahan makanan, pakan ternak, tanaman serat, hasil pertanian atau panen, pengolahan dan dalam penggunaannya. Serta dapat bertindak sebagai factor penyakit pada tanaman, binatang dan manusia, dapat merusak tanaman, bunga, serta merusak bahan bangunan dan milik pribadi lainnya. ( Nash, 2005 )
Kerusakan oleh serangga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kerusakan langsung dan kerusakan tidak langsung.Kerusakan langsung terdiri dari konsumsi bahan yang disimpan oleh serangga, kontaminasi oleh serangga dewasa, pupa, larva, telur, kulit telur, dan bagian tubuhnya, serta kerusakan wadah bahan yang disimpan. Kerusakan tidak langsung antara lain adalah timbulnya panas akibat metabolisme serta berkembangnya kapang dan mikroba-mikroba lainnya (Cotton dan Wilbur, 1974).
            Beberapa ordo serangga:
1.      Ordo Coleoptera
Kata coleoptera berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu coleos yang berarti pelindung dan ptera yang berarti sayap. Serangga ini dinamakan demikian karena sayap luarnya mengeras seperti seludang sedangkan sayap di dalam yang tertutup tipis seperti membran. Mulut pada tipe serangga ini adalah menggigit dan mengunyah. Makanan imago dan larvanya berbeda, umumnya serangga dewasa memakan hewan dan tanaman yang masih hidup maupun yang sudah mati sedangkan larvanya memakan kompos batang dan akar pohon. Orod ini berkembang biak dengan cara holometabola atau sempurna. Contoh serangga jenis ini adalah kumbang-kumbangan seperti kumbang kelapa, kumbang jagung, ladybug, dan lain-lain.
2.      Ordo Lepidoptera
Bagian mulutnya dilengkapi dengan alat menggigit dan pengisap seperti belalai yang disebut proboscis. Badan larva ini terdir dari 13 segmen mempunyai 3 pasang kaki pada thoraks dan ada juga kaki pada bagian perut yang disebut kaki semu. Tiap pasang kaki semu terikat pada segmenperut ke 6,7,8,9 dan 12, pada ujung kaki semu terdapat semacam kait dari kitin. serangga dewasanya mempunyai sayap yang menutupi tubuhnya jika istirahat (Heterocera), ada juga yang sayapnya tegak lurus diatas badannya(Rhopalocera) jika istirahat, kupu-kupu yang aktif pada malam hari disebut ngengat sedangkan yang aktif pada siang hari disebut kupu-kupu.
3.      Ordo Orthoptera
Serangga ini memiliki mulut yang berfungsi untuk menggigit-mengunyah. Prothoraksnya besar dan jelas dan metamofosisnya bertahap. Contohnya : bangsa belalang, jangkrik (Grylidae) dan orong-orong (Gryllotalpidae).
4. Ordo Hemiptera
Hemi berarti setengah, sedangkan ptera berarti sayap. Berarti sayap serangga dalam ordo ini setengah tebal dan setengahnya lagi tipis sayap seperti ini biasa disebut hemelytra, mulutnya berbentuk alat penusuk atau penghisap, ordo ini dibagi menjadi dua subordo yaitu cryptocerata dan gymnocerata. Yang termasuk heteroptera biasanya serangga yang pasangan sayap mukanya pada bagian dasarnya menebal dan bagian ujungnya tipis seperti membran. Contoh serangga yang masuk dalam ordo ini adalah kepik-kepikan, kalajengking air dan kutu busuk
5. Ordo Homoptera
Ordo serangga ini mempunyai sayap dua pasang dan tersusun layaknya genteng ketika sedang beristirahat. Alat mulut pada ordo ini mirip pada ordo hemiptera Cuma berbeda pada, tetapi mempunyai rostum yang pendek dan berpangkal pada bagian belakang dari bagian bawah kepala. Mempunyai antenna yang bervariasi mulai dari yang berbentuk benang sampai ada yang kaku seperti rambut. Alat mulut menusuk-mengisap. Metamorphosis paurometabola. Serangga yang masuk dalam ordo ini adalah kutu putih, aphids,tonggeret, wereng dan lain-lain.
6. Ordo Dipteral
Kata diptera berasal dari kata yunani yaitu di (dua) dan ptera (sayap). Karena serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai sepasang sayap, sebenarnya serangga ini ada yang mempunyai dua pasang sayap yaitu lalat tapi tereduksi menjadi halter yang berfungsi sebagai alat keseimbangan. Larva pada ordo ini disebut belatung (maggot) serta jentik. Belatung berbentuk ulat pendek yang tidak memiliki kaki, kepalanya kecil dan semakin kebelakang akan semakin membesar. Serangga yang masuk dalam ordo ini lalat buah(drosophilidae), lalat buas (asilidae), nyamuk (culicidae) dan lain-lain.
7. Ordo Thysanoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini disebut thrips. Panjang thrips sekitar 1-2 mm, badannya berwarna hitam, kadang ada titik merah atau garis merah, datar dan langsing. Sementara itu warna thrips yang masih muda ada yang pucat keputihan, kekuningan atau jernih, serta kulit mengkilap jingga atau merah. Bagian mulut thrips digunakan untuk menusuk dan mengisap. Thrips mengisap cairan dari permukaan daun sehingga akan terjadi bercak yang berwarna putih, seperti perak. Meskipun umumnya merugikan tetapi ada juga thrips yang tidak merugikan tetapi ada juga jenis thrips yang memakan madu dari bunga-bungaan atau terdapat pada cendawan dan ganggang pada kulit pohon. Dan ada juga yang menjadi predator tungau dan kutu-kutu kecil seperti thrips aleurodothrips yang menyerang kutu-kutu perisai.
8. Ordo Hymenoptera
Kata hymenoptera berasal dari bahasa yunani yaitu uman atau hymen(kulit tipis, membrane,selaput) dan ptera (sayap). Disebut demikian karena sayap serangga ini tipis seperti membrane yang halus, sayap depan lebih besar dari sayap belakang dan sayap dua pasang dan bervena. Ordo ini terdapat beberapa keluarga pemakan tanaman, tetapi sebagian besar merupakan pemakan serangga lain. Hymenoptera terbagi menjadi dua subordo yaitu, chalastogastra dan clistogastra. Contoh serangga dalam ordo ini adalah tabuhan dan lalat gergaji batang gadung.
9. Ordo Odonata
Kata odonata berasal dari yunani yang artinya bergigi. Serangga dengan panjang dan tubuh yang ramping. Sayap memanjang dan berantena dan bervena banyak serta membraneus. Sayap depan dan sayap belakangnya hampir sama bentuk dan ukuran. Antenna pendek seperti bulu yang keras. Saat istirahat sayap dikatupkan di atas tubuh atau kadang hanya dibentangkan. Metamorphosis hemimetabola. Serangga ini biasanya melakukan perkawinan saat terbang. Nimfa dan imagonya merupakan predator hama. Ordo odonata dibagi dua subordo yaitu anisoptera dan zigoptera. Contohnya capung raksasa dan capung jarum.
10. Ordo Isoptera
Isoptera berasal dari kata iso (sama) dan ptera ( sayap) . Serangga ini berukuran kecil, bertubuh lunak dan biasanya berwarna coklat pucat. Antenna pendek dan berbentuk seperti benang atau seperti rangkaian manic. Sersi biasanya pendek. Serangga dewasa ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Jika bersayap, maka jumlahnya dua pasang, bentuk bentuk memanjang. Ukuran serta bentuk sayap sama. Pada saat istirahat sayap diletakkan Mendatar Di Atas Tubuh. Alat Mulut Mengigit-Mengunyah Kadang Mempunyai Mata Majemuk. Tarsus beruas tiga sampai empat. Bermetamorfosis paurometabola dan hidup dan berkembang pada kayu yang lapuk. Contohnya rayap
11. Ordo Neuroptera
Neuroptera berasal dari kata neuro (urat) dan ptera (sayap). Serangga ini memiliki tubuh yang sangat kecil sampai besar. Antenna umumnya panjang dan mulut pada larva menghisap dan pada imago menggigit. Sayap dua pasang, seperti selaput, sayap depan dan sayap belakang hampir sama dalam bentuk dan susunan venanya. Pada saat istirahat sayap diletakkan diatas tubuh. Larva serangga ini mempunyai rahang yang berkembang baik dan digunakan untuk menangkap mangsa. Serangga dari ordo ini adalah lalat ular (Rhapidia adnixa), lalat dorson (Corydalus cornutus), undur-undur (Dendroleum obsotelum) dan mantispid (Mantispa cincticornis).
Tipe mulut serangga dan gejala kerusakannya
a. Tipe alat mulut menggigit mengunyah
    Jenis alat mulut ini terdiri atas sepasang bibir, organ penggiling untuk menyobek dan menghancur serta organ tipis sebagai penyobek. Makanan disobek kemudian dikunyah lalu ditelan. Secara struktural alat makan jenis ini terdiri dari:
  1. Labrum, berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut.
  2. Epifaring, berfungsi sebagai pengecap.
  3. Mandibel, berfungsi untuk mengunyah, memotong, atau melunakkan makanan.
  4. Maksila, merupakan alat bantu untuk mengambil makanan. Maxila memiliki empat cabang, yaitu kardo, palpus, laksinia, dan galea.
  5. Hipofaring, serupa dengan lidah dan tumbuh dari dasar rongga mulut.
  6. Labium, sebagai bibir bawah bersama bibir atas berfungsi untuk menutup atau membuka mulut. Labium terbagi menjadi tiga bagian, yaitu mentum, submentum, dan ligula. Ligula terdiri dari sepasang glosa dan sepasang paraglosa.

     Identifikasi berdasarkan gejala serangannya yakni dengan memperhatikan tipe alat mulut menggigit dan mengunyah maka akan ditemukan bagian tanaman yang hilang, apakah dimakan, digerek atau digorok.Contoh serangga dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah yaitu ordo Coleoptera, Orthoptera, Isoptera, dan Lepidoptera.
 b. Tipe alat mulut meraut dan menghisap
      Tipe alat mulut ini diwakili oleh tipe alat mulut lebah madu Apis cerana (Hymenoptera, Apidae) merupakan tipe kombinasi yang struktur labrum dan mandibelnya serupa dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah, tapi maksila dan labiumnya memanjang dan menyatu. Glosa merupakan bagian dari labium yang berbentuk memanjang sedangkan ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut flabelum yang dapat bergerak menyusup dan menarik untuk mencapai cairan nektar yang ada di dalam bunga. Hama ini meraut jaringan hingga keluar cairan , cairan ini kemudian dihisap paruh konikal. Jaringan yang terserang cenderung berwarna putih atau belang yang kemudian tampak mengerut.
 c. Tipe alat mulut menjilat mengisap (Sponge)
      Tipe alat mulut ini misalnya pada alat mulut lalat (Diptera). Pada bagian bawah kepala terdapat labium yang bentuknya berubah menjadi tabung yang bercelah. Ruas pangkal tabung disebut rostrum dan ruas bawahnya disebut haustelum. Ujung dari labium ini berbentuk khusus yang berfungsi sebagai pengisap, disebut labellum. Bahan pangan padat menjadi lembek dan busuk akibat ludah yang dikeluarkan hama ini untuk melunakkan makanan, kemudian baru dihisapnya.
d. Tipe Alat Mulut Mengisap
      Tipe alat mulut ini biasanya terdapat pada ngengat dan kupu-kupu dewasa (Lepidoptera) dan merupakan tipe yang khusus, yaitu labrum yang sangat kecil, dan maksila palpusnya berkembang tidak sempurna. Labium mempunyai palpus labial yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen. Bagian alat mulut ini yang dianggap penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung. Biasanya dimiliki oleh imago dari ordo lepidoptera. Serangga dewasa umumnya bukan merupakan hama yang bertindak sebagai hama adalah serangga yang mempunyai alat mulut mengunyah pada stadia larva.
e.  Tipe Alat Mulut Menusuk Mengisap
Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya Scotinophara (Heteroptera). Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi menjadi selongsong stilet.Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman. Keempat stilet berasal dari sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut serangga pengunyah. Serangga hama dengan tipe alat mulutnya menusuk dan mengisap gejala serangan yang ditimbulkan yaitu pada bagian tanaman akan ditemukan bekas tusukan stilet yang akan menyebabkan terjadinya perubahan warna atau perubahan bentuk pada bagian tanaman yang diserangnya. (Gendroyono, 2006)
2.2. Gejala
Gejala adalah setiap perubahan pada tanaman yang mengarah pada pengurangan kualitas maupun kuantitas dan hasil yang diharapkan. ( Anonymous A, 2010).
Gejala adalah keadaan patologi dan fisiologi dari tumbuhan terhadap akitivitas dari patogen atau faktor yang lain. Gejala ialah perubahan yang terjadi pada suatu tanamanbudi daya akibat serangan hama.
2.3. Kerusakan
Kerusakan adalah kehilangan yang dirasakan oleh tanaman akibat serangan OPT antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dan kualitas produksi. (Anonymous, 2012)
Kerusakan adalah kondisi abnormal yang terjadi pada tanaman akibat serangan hama, dimana kondisi tersebut menyebabkan tanaman mengalami penurunan kapasitas produksi. (Anonymous, 2012).
2.4. Tanda
Tanda adalah semua pengenal dari penyakit selain reaksi tumbuhan inang (gejala), misalnya bentuk tubuh buah parasit, miselium, warna spora, bledeok, lendir dan sebagainya. Tanda adalah bekas atau jejak yang ditinggalkan oleh hama pada bagian tanaman.
Tanda adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh hama dan menunjukkan kehadiran hama tersebut. (AnonymousA, 2010).
Tanda adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktifitas atau serangan hama. (Main, 1977).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1  Tempat dan Waktu
            Praktikum mata kuliah Dasar–Dasar Perlindungan Tanaman dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 16 Maret 2016 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai di Laboraturium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi.   
3.2        Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Tanaman yang terserang hama dan Alat Tulis Kantor (ATK)
3.3   Cara Kerja
1.      Amati morfologi tanamanyang terserang hama
2.      Catat tanaman-tanaman yang terserang hama, gejala serta penyebabnya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hama pada tanaman Terong
1.      Kumbang Daun (Epilachna spp.)

a. Gejala

Serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah. Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja.
b. Pengendalian
Kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan dengan pestona atau pentana + aero 810 setiap 1-2 minggu sekali.
2.      Kutu Daun (Aphis spp.)

a. Gejala

Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung, sebagai vektor atau perantara virus
b. Pengendalian
Mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, pencegahan semprot pentana + aero 810 atau natural bvr setiap 1-2 minggu sekali.
3.      Tungau ( Tetranynichus spp.)

a. Gejala

Bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.
b. Pengendalian
Dengan mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, sama seperti pada pengen dalian kutu daun.
4.      Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)

a. Gejala

Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh, bersifat polifag, aktif senja atau malam hari.
b. Pengendalian
Kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan siram atau semprotkan pestona atau pentana + aero 810.
5.      Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)

a. Gejala

Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang, bersifat polifag
b. Pengendalian
Mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, semprot dengan natural vitura.
6.      Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)

a. Gejala

Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah.
b. Pengendalian
Kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun, pencegahan semprotkan pestona atau pentana + aero 810 setiap 1-2 minggu sekali.

B. Hama pada tanaman padi
1.      Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
a.       Gejala
Tanaman padi yang terserang hama wereng coklat menunjukkan gejala menguning dan mengering dengan cepat. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Selain sebagai hama, wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.
b.      Pengendalian
Penanaman Varietas tahan, Tanam padi serentak, Perangkap lampu, Penggunaan insektisida, Waktu persemaian padi  yaitu
·         Wereng imigran tidak tumpang tindih : 15 hari setelah puncak imigran
·         Wereng imigran tumpang tindih 15 hari setelah puncak imigran ke-2 g. 
2.      Wereng hijau
a. Gejala
·         Wereng lebih menyukai menghisap cairan   tanaman pada daun bagian pinggir.
·         Sangat menyukai tanaman yg dipupuk dgn  Nitrogen dosis tinggi.
·         Tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah warna menjadi kuning hingga   kuning oranye.
b. Pengendaliannya                
Ø  Menanam varietas tahan seperti Tukad Petanu, Tukad Balian   
Ø  Tindakan pengendalian dilakukan jika  sudah terlihat gejala tungro.
Ø  Insektisida yg dianjurkan berbahan   aktif
3.      Tikus sawah  ( rattus argentiventer)
Cara Pengendalian Tikus
a. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan memadukan beberapa cara pengendalian yaitu : Gropyokan, pengemposan, tanam serempak, sanitasi habitat, musuh alami dan  Rodentisida serta pengendalian dengan TBS-LTBS.
b. Langkah-langkah pengendalian :
Ø  Pengendalian mulai pratanam sampai panen 
Ø  Pengorganisasian gerakan operasional 
Ø   Kerjasama antar pemerintah daerah/batas wilayah 
Ø   Koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait
4.       Kepinding tanah (scotinophara coarctata)
a.        Gejala
• Hama merusak tanaman dengan   menghisap cairan  tanaman.
• Di sekitar lubang bekas hisapan  berubah warna menjadi coklat menyerupai       penyakit blas.
• Daun menjadi kering dan menggulung   membujur.
• Gabah yg terbentuk umumnya berisi separo/ hampa.
b.      Pengendalian
Ø  Kepinding tanah bertelur pada pelepah daun di ketinggian 10 cm dari permukaan lumpur.  Oleh karena itu pengendalian dapat dilakukan dengan menggenang lahan setinggi 15 cm selama semalam. 
Ø  Memasang lampu petromak yang digantungkan diatas bejana yang telah diisi minyak tanah (kerosin), sehingga kepinding yang jatuh dari lampu dapat ditampung dalam bejana. 
Ø   Aplikasi dengan Beauveria bassiana atau Metarhizium anisopliae 
Ø   Pengendalian dengan kimia masih sedikit informasinya 
5.       Walang sangit
Tanda  Serangan
a. Fase padi yg rentan adalah mulai keluarnya malai hingga masak susu.
b. Hama menghisap butiran gabah yang sedang mengisi/ masak susu. 
c.     Kerusakan yg terjadi: gabah hampa, beras berubah warna   dan mengapur.   Cara Pengendalian
a. Membersihkan gulma di pematang, pertanaman, dan di sekeliling tanaman padi, Walang sangit datang di pertanaman sebelum tanaman padi berbunga, hidup pada gulma 
b. Memasang bangkai binatang.  Walang sangit tertarik kapada bau bangkai, setelah berkumpul dapat disemprot dengan insektisida 
c. Menggunakan bahan kimia (Regent, BPMC) bila populasi sudah mencapai ambang ekonomi 10 ekor/20 rumpun
6.       Hama pelipat daun
Tanda  Serangan
a. Larva menggerek jaringan hijau daun (klorofil) dari dalam lipatan daun. 
b. Kerusakan yg terjadi berupa adanya  warna   putih pada daun di pertanaman              Pengendaliannya
c. Bila menyerang padi dibawah umur 30 hari tdk  perlu dilakukan penyemprotan, cukup diberikan air   dan pupuk yang dikelola dgn baik. b. Secara kimiawi gunakan insektisida karbofuran atau fipronil (seperti : Regent)
7.       Hama putih
Tanda serangannya adalah daun tanaman padi yang terserang seperti terpotong dengan gunting   
Cara Pengendalian: Keringkan lahan selma 3-5 hari pada stadia larva sering dipermukaan air dan Gunakan insektisida pada saat mencapai ambang ekonomi 
8.       Ulat grayak
a. Menyerang tanaman pada malam hari secara tiba-tiba 
b. Bersifat polypag
c. Menyerang pucuk dan daun tanaman
d. Pada serangan berat dapat menimbulkan puso Cara Pengendalian Ulat gryak dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida yaitu disemprot dengan insektisida sistemik seperti Regent.   
9.      Anjing tanah /orong-orong
Tanda Serangan
a. Menyerang bagian akar dan dasar tanaman padi yang sedang tumbuh di  pesemaian kering  
b.  Anjingtanah menyerang tanaman padi di pesawahan irigasi, lebak, dan pasang surut apabila tidak ada genangan air 
Cara Pengendaliannya
a. Pengolahan tanah akan membantu membunuh telur dan nimfa 
b. Mekanis pada saat pengolahan tanah terhadap anjing tanah  yang berenang 
c. Penggenangan air pada lahan (pada lahan pasang surut penggenangan pada tipe luapan A dan B)
d. Penggunaan bibit umur 35-42 hari dianjurkan hanya untuk
e. varietas berumur panjang seperti IR42 dan Lematang 
f. Penggunaan insektisida karbofuran pada saat tanam dapat 
g. menekan intensitas serangan sampai menjadi 10% 
h. Umpan beracun yang terdiri dari satu bagian Sodium fluosilicate (atau insektisida lain) dan satu bagian gula merah yang dicampur dengan 10 bagian karir (dedak beras), kemudian dibuat pasta dengan mencampurkan air secukupnya  i. Menggunakan perangkap lampu  
10.   Keong Mas
Tanda Serangan/ kerusakan
a.  Pesemaian, tanaman yang baru tumbuh dipotong daunnya hingga tanaman mati b.  Menyerang tanaman dibawah umur 15 hari setelah   tanam       
 Cara Pengendaliannya
a.  Secara mekanik ; dilakukan  terus menerus dengan cara mengumpulkan keong kemudian dimusnahkan  
b.  Pengendalian secara budi daya 
Ø  sebar benih lebih banyak untuk persiapan nyulam 
Ø   Tanam bibit lebih tua 
Ø   tidak menggenangi sampai 7 hari setelah tanam 
Ø   Buat caren untuk memudahkan mengambil keong 
Ø   Pupuk dasar sebelum tanam + saponin 
c.   Pengendalian secara kimiawi
Ø  Hanya untuk lahan yang sangat tinggi populasi  keong dan sukar diatur air, sebab pestisida juga toksik terhadap fauna air lain 
Ø  Perlakuan benih 
Ø   Aplikasi dengan bahan nabati seperti rerak  
11.   Burung   
Serangan mengakibatkan:
Ø  Biji hampa 
Ø  Adanya gejala seperti beluk 
Ø  Biji banyak hilang  
Cara Pengendaliannya
a. Penjaga burung mulai jam 6-10 pagi dan jam 2-6 sore, karena waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang kritis bagi tanaman diserang burung 
b. Gunakan jaring untuk mengisolasi sawah dari serangan burung; luas sawah yang diisolasi kurang dari 0,25 hektar    

C. Hama pada tanaman kacang hijau
1.      Lalat kacang (Agromyza phaseoli )
Gejala Serangan
            Gejala awal berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama. Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar adventif di bagian terbawah dari batang.
2.      Penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.)
Gejala Serangan
            Gejala serangannya terlihat pada kulit polong berupa bercak hitam dan bila dibuka terdapat larva yang gemuk dengan kotoran-kotorannya berwarna hijau basah. Serangan pada polong kedua ditandai dengan satu lubang gerek yang bentuknya bundar.
3.      Ulat jengkal (Plusia chalcites Esp.)
Gejala Serangan
            Ulat ini menyerang tanaman yang sudah agak tua dan memakan daunnya sehingga tinggal tulangnya saja. Hama penyebabnya adalah ulat jengkal kedelai (PIusia chalcites Esp.).
4.      Kepik hijau (Nezara viridula)
Gejaia Serangan
            Polong muda isinya terisap. Bila polong dibuka tampak bijinya pipih tanpa isi. Bagian yang terserang tampak berbercak hitam.
5.      Thrips sp.
Gejala Serangan
            Serangan hama ini menyebabkan daun menggulung ke dalam (keriting) karena sel-sel di bagian atasnya mengerut.
Penyebab
            Kutu Thrips menyerang tanaman dengan mengisap cairan tanaman sehingga mengganggu proses fotosintesis dan mengakibatkan menurunnya hasil.
6.      Kumbang Callosobruchus
 Gejala Serangan
            Kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang baru menetas langsung menggerek masuk ke dalam biji dan memakan kotiledon serta bagian biji lainnya.
7.      Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala Serangan
            Serangan ulat grayak mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala: kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Ulat grayak muda menyerang daun sehingga bagian daun yang tertinggal hanya epidermis atas dan tulang-tulangnya saja. Ulat tua juga merusak tulang-tulang daun sehingga tampak lubang-lubang bekas gigitan pada daun. Di samping memakan daun, ulat juga memakan polong muda. hal ini mengakibatkan penurunan jumlah produksi.
8.      Belalang Kembara ( Locusta migratoria)
            Belalang menyerang tanaman kedelai dan kacang hijau, gejala serangan yang ditimbulkan adalah terdapat robekan pada daun, dan pada serangan yang hebat dapat terlhat tinggal tulang-tulang daun saja.
  
D. Hama pada tanaman Kedelai
1.      Kumbang daun kedelai
Kumbang hadir di pertanaman sejak kecambah muncul ke permukaan tanah hingga tanaman masih memiliki daun atau polong muda. Kumbang dan larva merusak pucuk, daun muda, tangkai daun muda, bunga dan polong muda. Tanaman kedelai yang diserang larva maupun kumbang mengalami perompesan sehingga mengakibatkan penurunan hasil panen. Serangan hama pada tanaman muda mengakibatkan tanaman mati, serangan pada tanaman stadium pembungaan mengakibatkan jumlah bunga dan polong berkurang, dan serangan pada stadia perkembangan polong dan biii mengakibatkan jumlah polong dan kualitas biji berkurang.
2.      Ulat penggulung daun
Sesuai dengan namanya, ulat berdiam didalam gulungan daun. Gulungan daun mulai dibentuk oleh ulat muda pada bagian pucuk, tempat telur diletakkan. Setelah tumbuh menjadi lebih besar, ulat berpindah ke daun yang lebih tua.
3.      Ulat jengkal
Ulat jengkal menyerang tanaman muda dan tua dengan gejala serangan berupa perompesan, baik sebagian dengan masih tersisanya tulang daun, maupun total. Di samping memakan daun, ulat juga sering memakan polong muda.
4.      Ulat grayak
Ulat grayak muda menyerang daun sehingga bagian daun yang tertinggal hanya epidermis atas dan tulang-tulangnya saja. Ulat tua juga merusak tulang-tulang daun sehingga tampak lubang-lubang bekas gigitan pada daun. Di samping memakan daun, ulat juga memakan polong muda.
5.      Aphis SPP (Aphis Glycine)
Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat.
6.      Lalat kacang (Agromyza phaseoli )
Gejala Serangan
            Gejala awal berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama. Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar adventif di bagian terbawah dari batang.
7.      Cantalan (Epilachana Soyae)
Gejala
Pada hama kumbang ini serangannya yaitu memakan daun tetapi masih ada lapisan daun yang tertinggal seperti tulang daun hingga daun menjadi transparan.Menyerang tanaman berjaringan lunak dan lebih menyukai pada bagian ujung pucuk daun.
8.      Ulat polong (Etiela Zinchenella)
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal. Merusak biji dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian masuk serta menggerek biji, sebelum menggerek larva baru menetas menutupi dirinya dengan selubung putih hingga ada bintik coklat tua sebagai jalan masuk hama tersebut.
9.      Kepik hijau (Nezara Viridula)
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal. Merusak biji dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian masuk serta menggerek biji, sebelum menggerek larva baru menetas menutupi dirinya dengan selubung putih hingga ada bintik coklat tua sebagai jalan masuk hama tersebut.
10.  Belalang Kembara ( Locusta migratoria)
            Belalang menyerang tanaman kedelai dan kacang hijau, gejala serangan yang ditimbulkan adalah terdapat robekan pada daun, dan pada serangan yang hebat dapat terlhat tinggal tulang-tulang daun saja.

E.Hama pada tanaman jagung ( Zea mays. L.)
1.      Ulat grayak  (Spodoptera Litura)
Gejala Serangan
        Ulat  Grayak ini merupakan hama pada hampir semua tanaman baik dari tanaman pangan seperti padi,kedele dan jagung, juga pada tanaman hortikultura seperti cabe, kubis, kacang panjang dan lainnya. Ulat grayak juga menyerang tanaman perkebunan seperti tembakau. 
Bahkan ulat ini juga menyerang berbagai macam gulma seperti Limnocharissp., Passiflora foetida , Ageratum sp., Cleome sp., Clibadium sp., dan Trema sp.
Serangan Ulat ini terjadi pada stadium larva (ulat). Larvyanmasimudmerusadaun dengan meninggalkansisasisa epidermis bagian atas (transparan) dan tulang daun. Larva instar lanjut merusak tulang daun dakadang,kadanmenyeranpolong. Biasanylarvberaddpermukaan bawadaudamenyeransecara serentak danberkelompok. Serangan berat menyebabkatanamagundukarena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat.
2.      Kutu daun jagung,Rhopalosiphum maidis (Fitch)
Serangan hebat kutu daun jagung menyebabkan daun layu, keriting, dan terlihat kuning.  R. maidis menghasilkan embun madu yang dikeluarkan melalui anusnya. Embun madu tidak berbahaya, namun keberadaannya yang melekat pada permukaan daun dapat mendukung pertumbuhan cendawan saprofit (Capnodium sp.) sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis tanaman (Long 1994, Ratcliffe et al 2004).
3.      Ryzaephylus surrinamensis (Linnaeus)
Gejala serangan yang ditimbulkan mirip dengan gejala serangan Necrobia tetapi liang gerekannya sempit dan bercabang-cabang. Kumbang betina meletakkan telur pada celah-celah atau di antara butiran-butiran bahan secara tersebar atau terpisah-pisah. Produksi telur tiap induk antara 45-285 butir.
4.      Hama kepik

Gejala:
Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai dengan cara menghisap cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering. Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji menghitam dan busuk.
Pengendalian;
Menggunakan musuh alami: jenis tabuhan Ooencyrtus malayensis Ferr. dan Telenomus sp. merupakan parasit pada telur kepik hijau.pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah tanam.

F. Hama pada tanaman Bawang merah
1.      Hama ulat bawang (Spodoptera spp).
Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. Pengendaliannya adalah :
- Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan
- Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha
- Jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac.
2.      Hama trip (Thrips sp.)
Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun. Penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC.

G. Hama pada tanaman Mangga
1.      Puru daun manga
Bagian tanaman yang diserang
Hama ini menyerang tanaman yang sedang tumbuh secara vegetative , yaitu pada daun-daun yang masih muda. Serangan yang berat akan menyebabkan daun menjadi menggulung
Gejala :
Timbul bintil-bintil pada daun, jika diraba daun manga terasa keras. Jika bintil disayat dengan silet akan ditemukan belatung atau larva kecil, berwarna putih, panjang 1-2 mm. Sebelum serangan belatung ini terjadi , mula-mula lalat betina bertelur pada permukaan daun manga muda. Telur dimasukkan dalam jaringan daun dengan memasukkan ovipositornya. Sekali bertelur, seekor lalat betina mampu mengeluarkan 100-250 butir . Warna telur kuning muda , berukuran 0,1-0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3-4 hari menjadi larva, yang menetap dalam jaringan daun dan menghisap cairan. Daun yang terserang hama ini pertumbuhannya tidak normal, terutama bagian permukaan daun tepat dibagian belatung menetap, timbul bintil-bintil puru. Setiap bintil hanya terdapat 1 belatung yang menetap selama 10-14 hari. Setelah itu keluar dengan cara membuat lubang pada ujung bintil, lalu menjatuhkan diri ke tanah , dan masuk ke dalamnya lalu berkepompong. Masa berkepompong hanya 8-12 hari , yang berakhir dengan munculnya lalat muda Procontarinia matteiana yang nantinya akan menjadi sumber penularan. Lalat ini bergerak pada malam hari
Pencegahan
Menggunakan insektisida sistemik yaitu teknik 10G, Curater 3G, dan furadan 3G. Insektisida ini dimasukkan ke dalam tanah di dekat akar agar bisa dihisap akar untuk diedarkan ke daun. Jika larvamenghisap cairan daun, tentu akan mati keracunan.
Perlakuan injeksi batang untuk pengendalian penggerek batang dan lalat puru.
Pengendalian
1.      Pucuk tanaman yang sudah terserang harus segera dipangkas dan dibakar supaya kutu, nimfa dan telur mati
2.      Tanaman disemprot dengan insektisida sistemik yang bisa menyusup ke jaringan daun, misalnya menggunakan Elsan 60 EC Dan Nuvacron 20 EC.
3.      Penyemprotan dengan insektisida kontak, hasilnya akan kurang memuaskan karena tidak bisa menembus perisai yang melindungi kutu.
4.      Penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.













BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
1.      Beberapa hama pada tanaman Terong diantaranya Kumbang daun, Kutu daun, Tungau, Ulat tanah, Ulat grayak, Ulat buah.
2.      Hama pada tanaman padi diantaranya Wereng coklat, Wereng hijau, Tikus sawah, Kepinding tanah, Walang sangit, Hama pelitat daun, Hama putih, Ulat grayak, Orong-orong, Keong mas, Burung.
3.      Hama pada tanaman kacang hijau diantaranya Lalat kacang, Penggerek polong, Ulat jengkal, Kepik hijau, thrips, Kumbang Callosobruchus ulat grayak, Belalang kembara
4.      Hama pada tanaman kedelai diantaranya Kumbang daun, Ulat penggulung daun, Ulat jengkal, Ulat grayak, Aphis SPP, Lalat kacang, Cantalan, Ulat polong, Kepik hijau, Belalang kembara.
Hama pada tanaman jagung diantaranya Ulat grayak, Kutu daun jagung,Rhopalosiphum maidis (Fitch), hama kepik, Ryzaephylus surrinamensis (Linnaeus)
6.      Hama pada tanaman bawang merah diantaranya Ulat bawang, hama thrips
7.      Hama pada tanaman mangga salah satunya Puru daun.




DAFTAR PUSTAKA

Adawiah. 2013. Laporan Pengenalan Gejala Serangan Hama. Diunduh dari situs http://adawiiah.blogspot.co.id/2013/11/laporan-pengenalan-gejala-serangan-hama.htmlpada tanggal 21 Maret 2016 pukul 19.00 WIB
Ardiyansyah RA. 2011. Laporan Dasar Perlindungan Tanaman. Diunduh dari situs http://laporanpraktikumpertanian.blogspot.co.id/2011/04/laporan-dasar-perlindungan-tanaman_5768.htmlpada tanggal 21 Maret 2016 pukul 19.00 WIB
Bachrul M. 2015. Laporan Pengenalan Hama dan Gejala. Diunduh dari situs http://mbachrul.blogspot.co.id/2015/05/laporan-pengenalan-hama-dan-gejala.htmlpada tanggal 21 Maret 2016 pukul 19.00 WIB
Sari F. 2012. Hama-Hama Pada Tanaman Kedelai Dan Kacang Hijau Serta Gejala Serangannya. Diunduh dari situs  http://poenyalha.blogspot.co.id/2012/05/laporan-praktikum-hama.htmlpada tanggal 21 Maret 2016 pukul 19.00 WIB
Zullhizah S. 2014. Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Sayuran. Diunduh dari situs http://dzoelhizzah93.blogspot.co.id/pada tanggal 21 Maret 2016 pukul 19.00 WIB





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lapoaran Praktikum | Gejala Serangan Hama Pada Tanaman"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!