loading...

Laporan Praktikum | Analisis Data Hujan


                LAPORAN PRAKTIKUM
               AGROKLIMATOLOGI
              ANALISIS DATA HUJAN

           FITRI ANDELA
            D1A014072
           KELAS B











                     PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
                 FAKULTAS PERTANIAN
                  UNIVERSITAS JAMBI
                   2015




                   BAB I
                   PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Hujan adalah jatuhnya hydrometeor yang berupa partikel-partikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih. Jika jatuhnya sampai ketanah maka disebut hujan, akan tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara. Satuan curah hujan menurut SI adalah millimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk lonjong, lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampir bulat. Air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang lebih besar jatuh lebih cepat berbanding air hujan yang lebih kecil. Beberapa kebudayaan telah membentuk kebencian kepada hujan dan telah menciptakan berbagai peralatan seperti payung dan baju hujan. Banyak orang juga lebih gemar tinggal di dalam rumah pada hari hujan. Biasanya hujan memiliki kadar asam PH 6. Air hujan dengan PH di bawah 5,6 dianggap hujan asam.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktium ini adalah untuk menganalisis curah hujan di suatu daerah dan mengklasifikasikannya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hujan adalah jatuhnya hydrometeor yang berupa partikel-partikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih. Jika jatuhnya sampai ketanah maka disebut hujan, akan tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga. Hujan  juga dapat didefinisikan dengan uap yang mengkondensasi dan jatuh ketanah dalam rangkaian proses hidrologi. Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi  lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara. Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan millimeter (mm).
              Apabila dikatakan intensitasnya besar berarti hujan lebat dan kondisi ini sangat berbahaya karena  berdampak dapat menimbulkan banjir, longsor dan efek negatif terhadap tanaman. Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara  umum. Oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya)  seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Bayong (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan  sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.
Data jumlah curah hujan (CH) rata -rata untuk suatu daerah tangkapan air (catchment area) atau daerah aliran sungai (DAS)  merupakan informasi yang sangat diperlukan oleh pakar bidang hidrologi.  Dalam bidang pertanian data CH sangat berguna,  misalnya untuk  pengaturan air irigasi, mengetahui neraca air lahan, mengetahui besarnya aliran permukaan (run off). Untuk dapat mewakili besarnya CH di suatu wilayah/daerah diperlukan penakar CH dalam jumlah yang cukup.  Semakin banyak penakar dipasang di lapangan diharapkan dapat diketahui besarnya rata -rata CH yang menunjukkan besarnya CH yang terjadi di daerah tersebut. Disamping itu juga diketahui variasi CH di suatu titik pengamatan. Menurut (Hutchinson, 1970; Browning, 1987 dalam Asdak C. 1995) Ketelitian hasil pengukuran CH tegantung pada variabilitas spasial CH, maksudnya diperlukan semakin banyak lagi penakar CH bila kita mengukur CH di suatu daerah yang variasi curah hujannya besar. Ketelitian akan semakin meningkat dengan semakin banyak penakar yang dipasang, tetapi memerlukan biaya mahal dan juga memerlukan banyak waktu dan tenaga dalam pencatatannya di lapangan.
Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, terjadinya peredaran dan tagihannya, sifat-sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan makhluk hidup (internatial Glossary of hidrology, 1974) [EsinSeyhan,1990]. Karena perkembangan yang ada maka ilmu hidrologi telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari siklus air. Jadi dapat dikatakan, hidrologi adalah ilmu yang mempelajari: presipitsai (precipitation), evaporasi (evaporation), aliran permukaan (surface stream flow), dan air tanah (groun water).
Pada prisipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan “siklus hidrologi”. Siklus hidrologi adalah suatu proses yang berkaitan, dimana air diangkut dari lautan ke atmosfer (udara), ke darat dan kembali lagi ke laut.
Hujan jatuh ke bumi baik langsung maupun melalui media misalnya ,melalui tanaman (vegetasi). Di bumi air mengalir dan bergerak dengan berbagai cara. Pada retensi (tempat penyimpanan) air akan menetap untuk beberapa waktu. Retensi dapat berupa retensi alam seperti daerah-daerah cekungan,danau tempat-tempat yang rendah,dll. Maupun reteni buatan seperti tampungan, sumur, embung, waduk,dll.
Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut.aliran ini disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas permukaan tanah. Aliran ini biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju ke system jaringan sungai, system danau atau waduk. Dalam system sungai aliran mengalir mulai dari sistem sungai kecik ke system sungai besar dan akhirnya menuju mulut sungai atau sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya sungai dengan laut.
Air hujan sebagian mengalir meresap ke dalam kedalam tanah atau yang sering disebut dengan infiltrasi, dan bergerak terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap (evaporasi dan transpirasi) dan membentuk uap air. Sebagian lagi mengalir masuk kedalam tanah (infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah air yang bergerak didalam tanah yang terdapat didalam ruang-ruang antara butir-butir tanah dan di dalam retak-retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah (fissure water). Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow). Disebut aliran dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi system jaringan sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau, ketika hujan tidak turun untuk beberapa waktu, pada suatu system sungai tertentu aliran masih tetap dan kontinyu. Sebagian air yang tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan keluar ke permukaan tanah sebagai limpasan permukaan (surface runoff) yang terkumpul di sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut kembali terjadi penguapan dan begitu seterusnya mengikuti siklus hidrologi. (Anonim,2011)
Penyimpanan air tanah besarnya tergantung dari kondisi geologi setempat dan waktu. Kondisi tata guna lahan juga berpengaruh terhadap tampungan air tanah, misalnya lahan hutan yang beralih fungsi menjadi daerah pemukiman dan curah hujan daerah tersebut. Sebagai permulaan dari simulasi herus ditentukan penyimpangan awal (initial storage).
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi, arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi (Handoko, 2003).
Curah hujan di hitung harian, mingguan, hingga tahunan, sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan saluran drainase, selokan, irigasi, serta pengendalian banjir selalu menggunakan data curah hujan ini, untuk mengetahui berapa jumlah hujan yang pernah terjadi di suau tempat, sebagai perkiraan pembuatan besarnya saluran atau sarana pendukung lainnya saat hujan sebesar itu akan datang lagi dimasa mendatang(Bocah,2008).
Iklim merupakan gabungan berbagai kondisi cuaca sehari-hari atau dikatakan iklim merupakan rata-rata cuaca. Iklim yang terdapat di suatu daerah atau wilayah tidak dapat dibatasi hanya oleh satu analisir iklim tetapi merupakan kombinasi berbagai anasir iklim ataupun cuaca. Untuk mencari harga rata-rata tergantung pada kebutuhan dan keadaan. Hal yang penting adalah; untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan iklim harus berdasarkan pada harga normal, yaitu harga rata-rata cuaca selama 30 tahun. Angka 30 tahun merupakan persetujuan internasional (Wikipedia).
Klasifikasi iklim merupakan usaha untuk mengidentifikasi dan mencirikan perbedaan iklim yang terdapat di bumi. Akibat perbedaan latitudo (posisi relatif terhadap khatulistiwa, garis lintang), letak geografi, dan kondisi topografi, suatu tempat memiliki kekhasan iklim (Wikipedia).


BAB III
METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu
            Praktikum Analisis Data Hujan ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 10 Desember 2015 pukul 10.00 WIB sampai selesai yang bertempat di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

3.2.  Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum Analisis Data Hujan  ini adalah laptop dengan program apikasi MS Excel, data curah hujan dan alat tulis

3.3. Prosedur Praktikum
1.       Menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan praktikum
2.       Mendengar penjelasan dari dosen pengampu mengenai analisis data hujan
3.       Mengerjakan secara berkelompok yang di tugaskan dosen pengampu pada program apikasi MS Excel







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
DATA CURAH HUJAN SELAMA 10 TAHUN UNTUK KOTA JAMBI


                       
             




4.2. Pembahasan
            Pada pratikum yang kami lakukan, kelompok 4 mendapat wilayah di kota Jambi untuk melakukan analis data hujan. Data hujan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Dilihat dari hietograf dan kurva, rata-rata ml curah hujan terjadi kenaikan dan penurunan. Curah hujan maksimal terjadi pada bulan Desember sedangkan curah hujan minimal terjadi pada bulan Juni. Pada bulan-bulan yang memiliki curah hujan rata-rata tinggi, ini berarti pada bulan-bulan tersebut sedang mengalami musim hujan. Sedangkan bulan-bulan yang memiliki rata-rata curah hujan rendah, ini berarti pada bulan-bulan tersebut sedang mengalami musim kemarau.
Dalam mengklasifikasikan iklim, kami menggunakan Sistem Schimidt dan Ferguson.
Schmidt dan Fergusson menggunakan dasar adanya bulan basah dan bulan kering seperti yang dikemukakan oleh Mohr. Perbedaan terdapat pada cara mencari bulan basah dan bulan kering. Hal ini juga merupakan alasan pembagian iklim tersendiri untuk Indonesia.
·         Bulan Basah (BB) jika Curah Hujan >100 mm
·         Bulan Lembab (BL) jika Curah Hujan 60-100 mm
·         Bulan Kering (BK) jika Curah Hujan <60 mm
Schmidt dan Fergusson mendapatkan bulan basah dan bulan kering bukan mencari harga rata-rata curah hujan untuk masing-masing bulan tetapi dengan cara tiap tahun, adanya bulan basah dan bulan kering dihitung kemudian dijumlahkan untuk beberapa tahun kemudian dirata-rata. Hal ini mengingat, jika digunakan harga rata-rata masing-masing bulan adanya bulan basah dan bulan kering yang tiap tahun bergeser kemungkinan sekali tidak nampak pada harga rata-rata bulan basah.
Q = 0,049
            Berdasarkan besarnya nilai Q, Schmidt dan Fergusson menentukan tipe hujan di Indonesia menjadi:
v Iklim A : 0 < Q < 0,143 = Daerah sangat basah, vegetasinya hutan hujan tropis
v Iklim B : 0,143 < Q < 0,333 = Daerah basah, vegetasinya hutan hujan tropis
v Iklim C : 0,333 < Q < 0,6 = Daerah agak basah, hutan rimba, ada daun gugur di musim kemarau
v Iklim D : 0,6 < Q < 1,0 = Daerah sedang, vegetasinya hutan musim
v Iklim E : 1,0 < Q < 1,67 = Daerah agak kering, vegetasinya hutan sabana
v Iklim F : 1,67 < Q < 3,0 = Daerah kering, hutan sabana
v Iklim G : 3,0 < Q < 7,0 = Daerah sangat kering, vegetasinya padang ilalang
v Iklim H :  7,0 < Q =  Daerah ekstrim kering, vegetasinya padang ilalang.
Berdasarkan tipe diatas, kota Jambi yang memiliki nilai Q = 0,049 hal ini berarti kota jambi termasuk kedalam tipe Iklim A : 0 < Q < 0,143 yaitu daerah sangat basah dan vegetasinya hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropika atau sering juga ditulis sebagai hutan hujan tropis adalah bioma berupa hutan yang selalu basah atau lembap. Hutan hujan tropis bisa juga diartikan sebagai hutan yang terletak di daerah tropis yang memiliki curah hujan tinggi. Hutan-hutan ini didapati di Asia, Australia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah, Meksiko dan Kepulauan Pasifik. Hutan hujan tropika merupakan rumah untuk setengah spesies flora dan fauna di seluruh dunia.
Hutan basah ini tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 m dpl., di atas tanah-tanah yang subur atau relatif subur, kering (tidak tergenang air dalam waktu lama), dan tidak memiliki musim kemarau yang nyata (jumlah bulan kering < 2).
Hutan hujan tropis merupakan vegetasi yang paling kaya, baik dalam arti jumlah jenis makhluk hidup yang membentuknya, maupun dalam tingginya nilai sumberdaya lahan (tanah, air, cahaya matahari) yang dimilikinya. Hutan dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk tajuk berlapis-lapis (layering), sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas rata-rata adalah 45 m (paling tinggi dibandingkan rata-rata hutan lainnya), rapat, dan hijau sepanjang tahun (Wikipedia).
            Ada dua faktor pengendali iklim, yaitu:
1. Faktor Luar Bumi
Faktor pengendali iklim dari luar bumi ialah matahari. Sinar matahari adalah sebagai sumber panas atau energi bagi bumi. Panas matahari atau energi mampu mempengaruhi keberadaan dan perkembangan terhadap: angin, awan, hujan, temperatur, tekanan udara, dll. Kedudukan matahari terhadap bumi atau sebaliknya, sepanjang tahun tidak sama, tetapi selalu bergeser. Hal ini dapat terjadi karena rotasi dan revolusi oleh bumi terhadap matahari, sehingga luasan daerah di bumi yang mendapat energi selalu berubah, baik kuantitas, kualitas, dan lama waktunya. Kedudukan matahari terhadap bumi berpengaruh besar bagi pembagian daerah iklim di bumi.
2. Faktor Dalam Bumi
Faktor pengendali iklim dari dalam bumi ditentukan oleh manusia dan faktor fisis daerah bersangkutan. Pengendali iklim oleh manusia tidak banyak merubah keadaan dan perkembangan iklim, tetapi hanya mampu memperkecil pengaruh iklim, seperti membuat hujan buatan. Keadaan fisis daerah yang berperan sebagai pengatur iklim adalah:
a.       Garis Lintang
b.       Muka bumi
c.       Topografi
d.      Daerah tekanan udara
e.      Permukaan tanah
f.        Luas darat dan laut



BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum yang kami lakukan pengklasifikasian iklim menggunakan Sistem Schimidt dan Ferguson didapatkan bahwa Kota Jambi yang memiliki nilai Q = 0,049 termasuk kedalam tipe Iklim A : 0 < Q < 0,143 yaitu daerah sangat basah dan vegetasinya hutan hujan tropis.
            Hutan hujan tropis merupakan vegetasi yang paling kaya, baik dalam arti jumlah jenis makhluk hidup yang membentuknya, maupun dalam tingginya nilai sumberdaya lahan (tanah, air, cahaya matahari) yang dimilikinya. Hutan dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk tajuk berlapis-lapis (layering), sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas rata-rata adalah 45 m (paling tinggi dibandingkan rata-rata hutan lainnya), rapat, dan hijau sepanjang tahun.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Diunduh dari situs https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hutan-hujan-tropis.html pada tanggal 13 Desember 2015 pukul 09.00 WIB
Siagian P. 2011. Analisis Data Hujan. Diunduh dari situs http://llmu-tanah.blogspot.com/2011/12/analisi-data-hujan.htmlpada tanggal 13 Desember 2015 pukul 08.30 WIB

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Analisis Data Hujan"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!