loading...

Laporan Praktikum | Sifat Fisik Gabah dan Beras


LAPORAN AWAL PRATIKUM
KARAKTERISTIK TEKNIK BAHAN HASIL PERTANIAN
“SIFAT FISIK GABAH DAN BERAS”



OLEH :
WAHYU HANDOKO (J1B116054)







PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Karakter beras secara umum dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik padi merupakan faktor utama penentu karakter gabah dan beras. Ukuran dan bentuk, warna, pengapuran (chalky), kandungan amilosa-amilopektin, konsistensi gel, suhu gelatinisasi, dan aroma beras merupakan karakter yang diturunkan secara genetik. Faktor lingkungan yang mempengaruhi karakter varietas antara lain adalah butir kuning rusak, butir hijau mengapur, butir retak, dan kadar air beras.
Karakteristik umum yang banyak mempengaruhi mutu beras di pasaran adalah (1) ukuran dan bentuk, (2) derajat sosoh, (3) keterawangan, (4) kebersihan dan kemurnian, (5) kepulenan dan Aroma beras, tidak seperti kebanyakan sereal lainnya, dikonsumsi dalam bentuk butiran utuh. Dengan demikian sifat fisik beras seperti ukuran, bentuk, keseragaman, dan kenampakan juga berperan penting dalam hal mutu. Selanjutnya, karena beras mengalami proses penyosohan, maka sifat penting yang menyangkut karakter fisik tersebut ditentukan terutama oleh butiran endosperm beras.
Terdapat korelasi antara karakter beras yang dijual di pasaran dengan preferensi beras yang dibeli konsumen. Semakin baik karakter beras makin disukai oleh konsumen sehingga mereka membelinya untuk dikonsumsi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumen di pedesaan dan kota di Jawa Barat membeli beras dengan mempertimbangkan karakter fisik dan fisikokimia beras (Rachmat et al. 2006)..
Ditinjau dari sisi penerapan standar mutu beras, karakter mutu yang paling disukai konsumen dapat diartikan sebagai identifikasi status pemahaman dan penerimaan standar atau kelas mutu beras yang ada.Preferensi konsumen terhadap beras pada kelas mutu tertentu dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain penampilan fisik beras, kepulenan nasi, budaya, dan tingkat sosial-ekonomi konsumen. Konsumen mengapresiasi kesesuaian karakter beras yang disukai dengan cara membayar insentif harga untuk tingkat mutu beras tertentu. Hasil identifikasi dan pengujian mutu beras ini dapat digunakan sebagai bahan kajian pemilihan dan pengembangan varietas padi dengan karakteristik mutu beras yang disukai di wilayah setempat.

1.2  Tujuan
Tujuan dilaksanakannya pratikum ini yaitu :
a.       Menentukan bulk density (g/cm3)
b.      Menentukan angle of respose gabah dan beras (o)
c.       Menentukan angle of friction gabah dan beras (o)

1.3  Manfaat
Manfaat dilaksanakannya pratikum ini yaitu :
a.       Agar praktikan mampu memahami sifat fisik gabah dan beras.
b.      Agar praktikan mampu membedakan Angle of respose dan Angle of friction.
c.       Agar praktikan dapat  mengetahui mana beras yang berkulitas baik mana yang tidak.
d.      Agar mampu menentukan sifat fisik gabah dan beras serta menentukan faktor ilmiah yang mempengaruhi sifat tersebut.
e.       Agar praktikan memahami tentang sifat fisik utama dari bahan pertanian terutama gabah dan beras sebagai hasil pertanian yang paling utama untuk penelitian dimasa mendatang.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sifat fisik bahan pertanian merupakan faktor yang sangat penting dalam masalah-masalah dalam merancang suatu alat khusus untuk suatu produk pertanian atau analisa perilaku produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik pertanian adalah bentuk, ukuran, luas permukaan,  warna, penampakan, berat, prositas, densitas, dan kadar air.                                                                               Angle of repose merupakan sifat teknik dari suatu bahan berbentuk granular yang dituang dalam suatu permukaan horizontal yang akan membentuk suatugundukan berbentuk kerucut. Sudut antara permukaan gundukan terhadap permukaan horizontal inilah yang disebut dengan angle of respose. (Adhiguna, 2013)   Angle of friction adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan kayu dengan bidang horizontal, pada saat gabah diatas permukaan tersebut karena gaya berat. Gaya berat adalah massa partikel yang menempati satu unit volume tertentu. Densitas bulk ditentukan dengan oleh berat wadah yang diketahui volumenya dan merupakan hasil pembagian dengan berat granular dengan volume wadah. Porositas merupakan bagian yang tidak ditempati oleh partikel atau bahan padatan.                                       Kriteria untuk bentuk dan dapat dibagi atas berbagai macam diantaranya:
1.      Charterd Standards (Gambar standar)                                                                           Yaitu dengan mengukur penampang memanjang dan menglintang akan menghasilkan gambar standar. Contoh: round, oblate, oblong, cone, dan lain-lain. Charted standard sangat sederhana namun bersifat sangat subjektif.
2.      Roundnes                                                                                                           Yaitu ukuran keruncingan sudut dari suatu bahan padat. Ada beberap persamaan untuk melakukan perhitungan dengan roundness diantaranya:
Rd=  Ap/Ac       atau          Rd= r/R       atau         Rd= dr/dt 
3.      Sphericity                                                                                                                       Yaitu perbandingan antara luas permukaan bola yang mempunyai volume sama dengan diameter bak terkecil yang dapat mengelilingi objek. Nilai dari skala penentuan sphericity dorentang dari 0-1. Dimana jika suatu benda mendekati nilai 1 maka benda tersebut dapat dinyatakan mendekati nilai kebulatan.                                                Asumsi dari bahan yang dianggap memiliki bentuk ellips. Sphericity secara jelas dapat dijelaskan dengan rumus:
Sphericity= (volume bahan/volume bola yang mengeliling)^1/3 
4.      Reseblance to Geometric Bodies (Kemiripan dengan Benda Geometris)                     Yaitu penentuan sifat fisik suatu benda dengan benda standar yang selain standar tersebut dihubungkan dengan benda geometri. Benda geometri yang dimaksud dapat dikelompokkan menjadi:
a.       Bulat  memanjang (prolate spheroid)
b.      Bulat membujur (oblate spheroid)
c.       Kerucut berputar/silinder.
Dimana dapat didefinisikan masing-masingnya sebagai berikut:
a.       Bulat memanjang (prolate spheroid)                                                                    Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah bentuk ellips berputar pada sumbu panjangnya. Contoh : lemon.
b.      Bulat membuju (oblate spheroid)                                                                         Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah ellips berputar pada sumbu pendeknya. Contoh : anggur.
c.       Kerucut berputar/silinder                                                                                                 Yaitu bentuk yang menyerupai kerucut/ tabung. Contoh: wortel dan timun.
            Bahan pada pangan biasanya berbentuk cairan dan padatan, meskipun demikian bukan berarti bahan mengandung air tidak mengandung bahan padatan begitu juga sebaliknya. Bahan pangan juga memiliki sifat cair seperti airan encer. Kedua sifat inilah yang dinamakan sifat alir bahan pangan.                                             Beras adalah butiran padi yang telah dibuang, namun kulit sekam telah menjadi bagian bagian kasar yang secara konvensional disebut dengan dedak. Gabah merupakan hasil panenpad dari tangkai induknya. Gabah tersusun atas 15-30% kulit luar atau sekam, 4-5% kulit ari, 12-14% katul, 65-67% endosperm dan sisanya merupakan lembaga.                                                                                                                        Sekam membentu jaringan keras sehingga menjadi perisai pelindung bagi butir beras terhadap pengaruh luar. Kulit ari bersifat kedap terhadap oksigen, karbon dioksida, dan kedap air. Sehingga dapat melindungi butir beras dari kerusakan oksidasi dan enzimatis. Lapisan katul merupakan lapisan yang banyak mengandung vitamin B1, B2, B6, B12, dan niasir. Endosperm merupakan bagian utama dari butir beras dengan pati sebagaikomposisi utamanya. Endosperm juga mengandung protein dan selulosa dalam jumlah banyak  serta vitamin dan mineral dalam jumlah kecil.
            Berikut ini dikemukakan secara umum kritera dan mutu beras diantaranya:
1.      Mutu Pasar                                                                                                                     Mutu beras dipasaran umumnya berkaitan dengan harga beras tersebut. Dalam kaitan ini Badan Logistik (Bulog) telah menetapkan ciri penetapan mutu beras yang akan dibeli badan tersebut. Namun ketentuan ini tidak berlaku dipasar bebas. Ukuran beras adalah panjang butiran beras utuh menggunakan mikrometer.
2.      Mutu Rasa                                                                                                                      Mutu rasa beras yang dapat dijadikan tolak ukur memiliki sifat subjektif yang dipengaruhi oleh daerah, suku bangsa, dan sebagainya. Meskipun belum ada ketentuan yang pasti untuk menetapkan mutu beras, namun mutu rasa sudah menjadi acuan memperkirakan jenis varietas dari produk tersebut.
3.      Mutu Tanak                                                                                                                    Yaitu persyaratan utama dalam pengolahan beras dalam dunia internasional. Hal ini telah diterapkan dalam penerapan mutu beras di Amerika. Ciri utama dari mutu tanak adalah pengembangan volume,  kemampuan mengikat air, stabilitas pengalengan nasi, lama waktu dalam penanakan, serta viskositas padi yang digunakan tesebut.
4.      Komposisi Beras                                                                                                            Kandungan standar gizi beras adalah sebesar 360 kalori ,protein sebesar 6,8 gram, kalsium 6 mg dan zat besi 8 mg. Salah satu faktor yang mempengaruhi biologis tanah adalah suhu. Perubahan secara kimia pada proses penyimpanan secara cepat dapat terjadi pada tingkat suhu 30-40°C, sedangkan pada tingkatan suhu lebih dari itu akan menyebabkan hilangnya daya kecambah dari gabah.
Butiran-butiran gabah memiliki karakteristik bentuk dan beragam, tergantung varietasnya. Secara umum, subspecies padi yang ditanam di dunia dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu Japonica,Javanica, dan Indica. Padi jenisJaponica memiliki bentuk butiran gabah pendek membulat, sedangkan pdadi jenis Indica memiliki bentuk butiran bulat memanjang. Di Indonesia jenis padi yang banyak ditanam yaitu padi jenis Indica. Butiran gabah dapat diuraikan menjadi bagian-bagian. Secara garis besar, bagian-bagian gabah dapat dibedakan mejnadi tiga bagian. Bagian paling luar disebut sekam. Sekam tersusun dari palea, lemma, dan glume. Bagian keduadisebut bagian bekatul. Bagian bekatul tersusun atas lapisan luar, lapisan tengah, lapisan silang, testa, dan aleuron, sedangkan lapisan yang paling dalam disebut endosperm. Gabah hasil panen kemudian diproses lebih lanjut menjadi beras melalui proses penggilingan. Tahapan pascapanen tanaman padi meliputi perontokan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengemasan. Salah satu tahapan pascapanen yang peting yaitu proses penggilingan. Pada tahapan ini, gabah yang sudah siap digiling atau Gabah Kering Giling (KGK) akan diproses menjadi beras putih yang siap dikonsumsi (Purba, 2012).                                                                 Dilihat dari segi kandungan gizi, butiran beras mengandung 70-75% karbihidrat, 6-7,5% protein, 3 % lemak, dan sedikit vitamin B2. Karbohidrat dan protein terdapat di dalam lapisan bekatul dan endosperm, sebagian besar lemak dan vitamin B2 terdapat dalam bekatul. Kandungan protein pada endosperm berpengaruh pada rendemen beras kepala dan derajat keputihan butiran. Kadar protein yang tinggi membuat butiran menjadi keras sehingga cenderung tidak patah pada saat penyosohan atau berat sosoh. Berat sosoh adalah tingkat terlepasnya lapisan bekatul, lembaga, dan edikit endosperm dan butiran beras. Penilaian derajat sosoh :
a.       Perhitungan berat bekatul yang terlepas setelah proses penyosohan.
b.      Menggunakan pembanding standar derajat sosoh beras secara visual dengan bantuan alat kaca pembesar.
c.       Menggunakan alat Satake Milling Meter MM-1C atau whiteness meter.
Selain itu butiran beras juga tahan terhadap gesekan sehingga hanya sedikit bangian endosperm yang terkikis. Akibatnya, derajat sosoh akan menjadi rendah.
Kualitas fisik gabh terutama ditentukan oleh kadar air dan kemurnian gabah. Kadar air gabah adalah jumlah kandungan air di dalam butiran gabah yang biasa dinyatakan dalam satuan (%) dan dari berat basah (wet basis). Sedangkan tingkat kemurnia gabah merupakan persentase berat gabah bernas terhadapberat keseluruhan campuran gabah. Makin banyak benda asing atau gabah hampa atau rusak di dalam campuran gabah maka tingkat kemurnian gabah akan menurun. Kemudian gabah dipengaruhi oleh adanya butir yang tidak bernas seperti butir hampa, butir-butir tanah, batu-batu kerikil, potogan kayu, potongan logam, angkai padi, biji-bijian lain, bangkai serangga hama, serat karung, dan sebagainya. Termasuk pula dalam kategori kotoran adalah butiran-butiran bagah yang telah terkelupas dan gabah patah. Kualitas gabah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas berasyan dihasilkan. Kualitas gabah yang baik akan berpengaruh pada tingginya rendemen giling. Rendemen giling adalah persentase berat sosoh terhadap berat gabah yang digiling.                                                    Kadar air yang optimal untuk melakukan penggilingan adalah 13-15%. Pada kadar air yang lebih tinggi gabah sulit terkelupas, sedangkan pada kadar air yang lebih rendah butiran gabah menjadi mudah patah. Gabah yang baru panen (GKP), memiliki kadar air antara 20-27%. Apabila gabah disimpan sebelum digiling kadar airnya harus diturunkan terlebih dahulu dengan cara dikeringkan sampai kadar air maksimum 18%. Pada kadar air ini gabah disebut gabah kering simpan (GKS). Sebelum digiling GKS dikeringkan lagi hingga kadar air sekitar 13-15%.                    Gabah kering panen yang memiliki kadar air sekitar 20% akan menurun beratsnya sebanyak 7% setelah mengalami proses pengeringan hingga menjadi gabah kering giling yang  memiliki kadar air sekitar 14%. Apabila tidak langsung digiling, gabah terlebih dahulu disimpan dalam bentuk gabah kering giling. Gabah kering giling yang memiliki kadar air sekitar 14% dan kotoran sekitar 3% dianggap sebagai bobot awal (100%) yang merupakan masukan terhadap proses penggilingan. Proses penggilingan padi  diawali dengan pembersihan awal untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berjumlah kira-kira 3% dari bobot gabah awal. Selanjutnya gabah mengalami proses pemecahan kulit, dimana sekam yang berbobot 20% dari bobot gabah awal-awal terlepas dari butiran gabah, dan akan tersisa beras pecah kulit sebanyak 77%. Beras pecah kulit kemudian melalui proses penyosohan untuk memisahkan bekatulnya dan untuk mendapat warna beras yang mengkilap. Akibat proses ini diperoleh bekatul sebanyak 10% dari berat gabah awal. Beras kepala sebanyak 52%. Persentase sekam dan bekatul sematat-mata disebabkan oleh perbedaan varietas padi, sedangkan persentase beras patah dan beras kepala banyak dipengaruhi oleh kinerja mesin yng dipakai.                                                                         Kadar air merupakan salah satu fisik dari bahan yang menunjukkan banyaknya air yang terkandung di dalam bahan. Kadar air biasanya digunakan dalam persentase berat air terhadap bahan basah atau dalam gram air untuk setiap 100gram bahan yang disebut dengan kadar air basis basah (bb). Berat bahan kering atau padatan adalah setelah mengalami pemanasan beberapa waktu tertentu sehingga  beratnya tetap.
Cara pengerigan secara umum ke dalam empat golongan menurut suhu udara pengeringnya :
a.       Cara pengeringan dengan suhu sangat rendah.
b.      Cara pengeringan dengan suhu rendah.
c.       Cara pengeringan dengan suhu tinggi.
d.      Cara pengeringan dengan suhu sangat tinggi.















BAB III
METODOLOGI PRATIKUM

3.1  Waktu dan Tempat
            Pratikum kuliah karakteristik teknik bahan hasil pertanian dengan judul sifat fisik gabah dan beras dilaksanakan pada hari rabu, 10 oktober 2018 pukul 08.00 s/d selesai diruang laboratorium analisis fakultas teknologi pertanian Universitas Jambi.

3.2  Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan pada pratikum ini diantaranya timbangan digital/manual, Varnier Caliper/jangka sorong, Micrometer sekrup, pipa dengan diameter 21 cm, busur, papan triplek (40x40) cm dan plat tipis (40x40) cm. sedangkan alat yang digunakan pada pratikum ini yaitu beras dan gabas seberat 1 kg.

3.3  Metoda Pratikum
a.       Ukur panjang (dmayor), lebar (dmoderat) dan tebal (dminor) untuk padi dan beras menggunakan Varnier Caliper atau jangka sorong. Sample pada masing-masing bahan yang digunakan sebanyak 10 butir. Data yang didapat selanjutnya dimasukkan pada tabel sample bahan dan hitunglah nilai rata-ratanya.
b.      Tentukan jenis padi berdasarkanukuran panjangnya.
dmayor
Jenis
> 7,5 mm
Sangat panjang
6,5 < dmayor < 7,5 mm
Panjang
5,5 < dmayor < 6,5 mm
< 5,5 mm
Sedang
Pendek

c.       Tentukan jenis beras berdasarkanukuran dan panjangnya
dmayor
Jenis
> 7,0 mm
Sangat panjang
6,0 < dmayor < 7,0 mm
Panjang
5,0 < dmayor < 6,0 mm
< 5,0 mm
Sedang
Pendek

d.      Tentukan subjenis atau rasio untuk padi (dmayor/dmoderat)
Rasio
Jenis
> 3,0 mm
Slender
2,0 < rasio < 3,0 mm
Bold
< 2,0 mm
Round

e.       Tentukan bulk density bahan, yaitu : perbandingan masa dengan volume.
Bulk density = m
                        v
Dimana : m = massa dari bahan (g)
                v = volume tabung (V) – 1/4 d2 t


f.       Tentukan angle of respose,  yaitu : tuangkan 1,5 kg bahan diatas bidang datar dan selanjutnya ukur sudut kemiringan tumpukan bahan.

Angle of respose =Arc tan  t
                                             d

g.      Tentukan angle of friction, yaitu : letakkan10 butir masing-masingbahan diatas permukaanbidang datar (triplek / plat tipis), selanjutnya miringkan bidang pelan-pelan dan ukurlah besar sudut kemiringanbidang pada saatbahan meluncur.










DAFTAR PUSTAKA

Adhiguna, Rizky Tirta. 2013. Karakteristik Tenik Sifat Reologi Pada Produk Pertanian. Jakarta : Erlangga.
Listyawati, 2007. Kajian Susut Pasca Panen dan Pengaruh Kadar Air Gabah Terhadap Mutu Beras Giling Varietas Ciherang. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Purba. 2012. Teknologi Produksi Benih Gabah dan Beras. Bandung : ITB.
Rachmat, R., R. Thahir, and M. Gummert. 2006. The empirical relationship between price and quality of rice at market level in West Java. Indonesian Journal of Agricultural Science 7(1):27-33.










Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Sifat Fisik Gabah dan Beras"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!