loading...

Laporan Praktikum : Perhitungan Kerapatan Cendawan dengan Haemocytometer


LAPORAN
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
PERHITUNGAN KERAPATAN CENDAWAN DENGAN HAEMOCYTOMETER





FITRI ANDELA
D1A014072



AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015/2016





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme (organism hidup yang ukurannya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata biasa) atau mikroba. Oleh karena itu objek kajiannya biasanya adalah alga miskroskopik, protozoa, archaea dan virus. Virus dimasukkan dalam obyek kajian walaupun sebenarnya ia tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai mahluk hidup. (Black, 2005)
Mikroorganisme adalah mikroba atau organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat pembesar. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal meskipun beberapa protista bersel tunggal masih dapat terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Mikroorganisme biasanya dianggap mencakup semua prokariota, protista dan alga renik. Fungi terutama yang berukuran kecil dan tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya meskipun banyak yang tidak menyepakatinya.
Penghitungan jumlah bakteri hidup terbagi atas dua, yaitu secara (tidak langsung) Misalnya perhitungan pengurangan jumlah substrat dan secara langsung. Penghitungan mikroba secara langsung salah satunya haemocytometer.
Haemocytometer adalah alat untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan

1.2.Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum adalah untuk menghitung kerapatan cendawan dengan Haemocytometer.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penghitungan jumlah bakteri hidup terbagi atas dua, yaitu secara (tidak langsung) Misalnya perhitungan pengurangan jumlah substrat dan secara langsung. Penghitungan mikroba secara langsung antara lain:
1.      Plate Count (hitungan cawan)
Plate count atau viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut (Mikapin, 2012).
2.      Turbidimetri
Turbidimetri merupakan metode yang cepat untuk menghitung jumlah bakteri dalam suatu larutan menggunakan spektrofotometer. Bakteri menyerap cahaya sebanding dengan volume total sel (ditentukan oleh ukuran dan jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau semakin besar ukurannya dalam biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan. Kekeruhan dapat disebut optical density (absorbsi cahaya, biasanya diukur pada panjang gelombang 520 nm – 700 nm). Untuk mikroba tertentu, kurva standar dapat memperlihatkan jumlah organisme/ml (ditentukan dengan metode hitungan cawan) hingga pengukuran optical density (ditentukan dengan spektrofotometer) (Mikapin, 2012).
3.      Hemasitometer
Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang hitung terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm². Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan panjang 0,05 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm. Sel bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui (Mikapin, 2012).
            Haemocytometer ditemukan oleh Louis Charles dan terdiri dari sebuah slide mikroskop kaca tebal dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruangan atau kamar tersebut diukir dengan laser grid tergores garis tegak lurus. Perangkat tersebut dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui dan kedalaman ruang tersebut telah diketahui. Oleh karena itu, alat tersebut berguna untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam suatu volume cairan tertentu, sehingga dapat menghitung konsentrasi dalam cairan secara keseluruhan (Pelczar, 2011).
            Haemocytometer sering digunakan untuk menghitung sel-sel darah, organel dalam sel, sel-sel darah dalam cairan tulang punggung ke otak setelah melakukan tusukan lumbal atau jenis sel lain (Waluyo, 2009).
            Cara menghitung sel individu didalam volume sangat kecil biasanya dilakukan dengan Counting Chamber. Counting Chamber diatur sedemikian rupa sehingga kotak-kotak dengan luas tertentu dengan lapisan cairan dengan kedalaman yang diketahui dapat dimasukkan diantara gelas objek dengan gelas tutup. Akibatnnya volume cairan yang menutupi setiap kotak diketahui dengan tepat. Perhitungan langsung ini dikenal dengan jumlah sel total (Stainer, 2007).
            Pada perhitungan mikroskopis langsung, sampel ditaruh disuatu ruang hitung seperti Haemocytometer dan jumlah sel ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini ialah pelaksaannya adalah cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak dapat 80 membedakan sel-sel yang hidup dan yang mati. Dengan perkataan lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total sel yang didalam populasi (Campbell, 2009).
            Perhitungan jumlah koloni atau mikroorganisme dengan cara “Reable Count” atau disebut juga sebagai standar plate count didasarkan asumsi, bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah diinkubasi dalam media biakan dan lingkungan yang sesuai. Setelah masa inkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut (Bibiana, 2010).
Haemocytometer adalah perangkat awalnya dirancang untuk penghitungan sel darah. Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya. Hemositometer ini ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari tebal kaca slide mikroskop dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruang ini diukir dengan laser-terukir grid garis tegak lurus. Perangkat ini dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui, dan kedalaman ruang ini juga diketahui. Oleh karena itu mungkin untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan (Mikapin, 2012).
Haemocytometer Neubour memiliki kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya dalam proses perhitungan bakteri secara langsug. Kelebihannnya antara lain ialah cepat dalam menghasilkan data dan tak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung didapat pada saat itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya. Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan antara sel yang mati dengan yang hidup karena perhitungannya secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat karena setiap pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat keterbatasan dalam melihat serta menghitung sel yang ada dalam kamar Haemocytometer Neubour. Sebaiknya menggunakan alat yang lebih canggih lagi dalam perhitungan jumlah sel karena setiap peralatan elektronik memilki kesensitifan yang tinggi dibandingkan dengan mata manusia, seperti alat particle count (Alex,  2013).  




BAB III
METODOLOGI

3.1. Cara kerja Haemocytometer
Adapun cara kerjanya sebagai berikut :
1.   Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.   Membersihkan alat haemachytometer dengan tissue yang sudah diberi alkohol.
3.  Setelah itu haemachytometer ditutup dengan cover glass yang sudah dibersihkan.
4.   Lakukan pengenceran dengan tabung reaksi 106.
5.  Masukkan air aquades kedalam botol yang berisi pathogen cendawan kemudian digoyang-goyang dengan jarum ent agar spora terangkat.
6.  Mengisi tabung reaksi dengan 1 ml larutan pathogen cendawan yang sudah terisi 9 ml air aquades sebelumnya.
7.   Kemudian divortex selama 15-30 detik agar memisahkan atau memecah spora, lakukan terus hingga pada tabung 106.
8.  Mengambil 1 ml larutan dari tabung reaksi pengenceran pada tabung ke 106 dengan menggunakan pipet isap.
9.   Meneteskan larutan tadi pada alat haemachytometer ±1 tetes.
10.  Amati dengan menggunakan mikroskop hitung berapa jumlah sel dalam satu kotak.
11.  Gunakan rumus :
Jumlah sel per ml sampel  = jumlah sel per kotak besar  x 1,25  x  106
Ataupun dengan rumus:
Dimana : C = Kerapatan konidia
t = Jumlah konidia pada seluruh kotak bujur sangkar yang dihitung
d = Faktor pengenceran
n = Jumlah petak bujur sangkar yang diamati
0.25 = Konstanta.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Beberapa gambar dari Haemocytometer:
     



                


        



4.2. Pembahasan
 Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hampir disemua tempat dipermukaan bumi. Penentuan jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk menghitung jumlah mikroorganisme. Metode tersebut menghitung jumlah sel, massa sel atau isi sel yang sesuai dengan jumlah sel. Salah satu dari metode tersebut adalah perhitungan langsung (Direct Count).
            Perhitungan langsung (direct count) digunakan untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel dihitung langsung dibawah mikroskop atau perhitungan partikel elektronik (electronik particle counter). Metode perhitungan langsung dapat menggunakan Counting Chamber. Perhitungan ini dapat menggunakan Haemocytometer, Peroffhauser Bacterial Counter atau alat-alat yang sejenis. Pada praktikum ini digunakan Haemocytometer untuk menghitung jumlah miroba.
            Haemocytometer ialah perangkat atau alat yang berfungsi untuk menghitung jumlah sel serta partikel mikroskopis lainnya. Haemocytometer memiliki kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya dalam proses perhitungan bakteri secara langsung. Kelebihannya antara lain ialah cepat dalam menghasilkan data dan tidak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung didapat pada saat itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya. Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat
membedakan sel yang hidup dan yang mati karena perhitungan secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat karena setiap pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat keterbatasan dalam melihat serta menghitung sel yang ada dalam kamar Haemocytometer (Waluyo, 2009). Sebaiknya menggunakan alat yang lebih canggih lagi dalam perhitungan jumlah sel karena setiap peralatan elektronik memilki kesensitifan yang tinggi dibandingkan dengan mata manusia, seperti alat particle count.
Haemocytometer ditemukan oleh Louis Charles dan terdiri dari sebuah slide mikroskop kaca tebal dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruangan atau kamar tersebut diukir dengan laser grid tergores garis tegak lurus. Perangkat tersebut dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui dan kedalaman ruang tersebut telah diketahui. Oleh karena itu, alat tersebut berguna untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam suatu volume cairan tertentu, sehingga dapat menghitung konsentrasi dalam cairan secara keseluruhan (Pelczar, 2011).
Melakukan perhitungan spora cendawan dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Adapun kotak yang paling kecil berfungsi untuk mempermudah perhitungan sel. Alat haemacytometer digunakan di bawah mikroskop. Sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. dan tebalnya adalah 0,1 mm. Jumlah sel per mL dapat di hitung sebagai berikut :
Jumlah sel dalam 25 kotak besar        =  jumlah sel per kotak besar  x 25 kotak
Jumlah sel per mm3 sampel                =  jumlah sel dalam 25 kotak besar x (1/0,02)
Jumlah sel per ml sampel                    = jumlah sel per mm3 sampel  x 103
= jumlah sel per kotak besar  x 25 kotak x (1/0,02) x 10^3
Jumlah sel per mL sampel = jumlah sel per kotak besar  x 1,25 x 106




BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
1.       Untuk menghitung sel maka kita menbutuhkan Haemocytometer sebagai alat bantu menghitung jumlah sel. Hemositometer ditemukan oleh Louis-Charles Malassez sebagai alat penghitung sel.
2.      Haemacytometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah.
3.      Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan haemacytometer adalah dapat menghitung jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan.





DAFTAR PUSTAKA

Purnika D. 2014. Mikrobiologi.  Diunduh dari http://mikrobiologilaporan.blogspot.co.id/2014/04/haemacytometer.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 19.30 Wib

Putri KA. 2014. Menghitung Spora dan Jamur. Diunduh dari http://kasandika.blogspot.co.id/2014/05/menghitung-spora-dan-jamur.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 19.30 Wib


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum : Perhitungan Kerapatan Cendawan dengan Haemocytometer"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!