loading...

Laporan Praktikum | Pengecatan Bakteri


LAPORAN
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
PENGECATAN BAKTERI
















Disusun oleh:
FITRI ANDELA
D1A014072







AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015/2016







BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
            Bakteri  mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas. Bakteri merupakan mikroorganisme yang berukuran mikroskopik. Selain mikroskopik, bakteri juga hampir tidak berwarna atau transparan dan kontras dengan air. Sehingga melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri. Ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Hal itu untuk mempernudah proses identifikasi  bakteri.
            Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan. Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003)              
            Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Rizki, 2008).                    

1.2.Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum yaitu untuk melihat bentuk-bentuk bakteri.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri sangat kecil,  bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 1.000 X atau lebih (Waluyo, 2004). Sel bakteri memiliki panjang yang beragam, sel beberapa spesies dapat berukuran 100 kali lebih panjang daripada sel spesies yang lain. Bakteri merupakan makhluk hidup dengan ukuran antara 0,1 sampai 0,3 µm. Bentuk bakteri bermacam – macam yaitu elips, bulat, batang dan spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwarnai dengan suatu zat pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat dengan jelas dalam hal ukuran, bentuk, susunan dan keadaan struktur internal dan butiran. Sel sel individu bakteri dapat berbentuk seperti bola/elips, batang (silindris), atau spiral (heliks) (Pelczar & Chan, 2007).                     
            Pada umumnya bakteri bersifat tembus cahaya, hal ini disebabkan karena banyak bakteri yang tidak mempunyai zat warna (Waluyo, 2007) . Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Dengan metode ini. Bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua yatu, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif, yang didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp (Hadioetomo, 1991).
            Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba banyak dilakukan baik secara langsung (bersama bahan yang ada) ataupun secara tidak langsung (melalui biakan murni). Tujuan dari pewarnaan tersebut ialah untuk :
1.    Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, ataupun fungi.
2.    Memperjelas ukuran dan bentuk jasad.
3.    Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad.
4.    Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia yang ada akan dapat diketahui (Suriawiria, 1999).
Ada tiga macam prosedur pewarnaan, yaitu pewarnaan sederhana (simple stain), pewarnaan diferensial (differential strain), dan pewarnaan khusus (special strain) (Pratiwi, 2008). Pada pewarnaan sederhana hanya digunakan satu macam zat warna untuk meningkatkan kontras antara mikroorganisme dan sekelilingnya. Prosedur Pewarnaan sederhana mudah dan cepat, sehingga pewarnaan ini sering digunakan untuk melihat bentuk ukuran dan penataan pada mikoorganisme bakteri pada bakteri dikenal bentu yang bulat (coccus), batang (basil), dan spiral (Lay, 1994).
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Pewarnaan gram adalah salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi dua kelompok, salah satu diantaranya bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Pelczar & Chan, 1986).
            Perbedaan warna antara bakteri Gram Negatif dan bakteri Gram Positif disebabkan oleh adanya perbedaan struktur pada dinding selnya. Dinding Gram Positif mengandung banyak peptidoglikan, sedangkan dinding bakteri Gram Negatif banyak mengandung lipopolisakarida(Suriawiria, 1999).
            Menurut Irianto (2006) menyatakan bahwa ciri-ciri khas dari bakteri gram positif dan garam negatif pada fenomena pengecatan adalah sebagai berikut :
a.        Bakteri gram positif : sangat sensitif terhadap zat warna trifenilmetan, sensitif terhadap penisilin, resisten terhadap alkali; tidak larut oleh 1% KHO, biasanya kokus atau batang pembentuk spora (kecuali Lactobacillus, Corynebacterium) dan dapat bersifat tahan asam (acid tast).
b.       Bakteri gram negatif : kurang sensitif terhadap zat warna trifenilmetan, sensitif terhadap streptomisin, sensitive terhadap alkali; larut oleh 1% KHO, biasanya batang tidak membentuk spora (kecuali Neisseriayang berbentuk kokus) dan tampaknya tidak pernah tahan panas.
            Bentuk bakteri bermacam-macam. Ada yang bulat (tipe kokus) dengan garis tengah 0,15-1mikorn. Ada yang berbentuk batang atau slindris panjang atau pendek (tipe basil) dan ada yang berbentuk slindris, spiral panjang atau pendek (spirillum) yang garis tengahnya 0,3-3 mikron, sedangkan panjangnya 1 sampai lebih dari 6 mikron. Umumnya bakteri bersel tunggal tidak mempunyai klorofil serta berkembang biak dengan cara membelah dan spora. Tiap sel dikelilingi oleh dinding sel atau membrane yang menyerupai lendir. Jika berkelompok, wujudnya seperti lendir yang kental dan berbentuktidak teratur, ada yang panjang, bulat, atau lapisan tipis seperti buih. Bakteri itu ada yang inaktif atau tidak dapat bergerak. Ada pula bakteri yang bisa berenang atau bergerak akibat adanya bulu-bulu yang bisa bergetar (Rizki,2013).

Macam-Macam Pewarnaan Bakteri
1.  Pewarnaan Sederhana
Pewarnaan sederhana merupakan teknik pewarnaan yang paling banyak digunakan. Disebut sederhana karena hanya menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme tersebut.  Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan-pewarnaan sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka dengan basa). Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkolin. Dengan pewarnaan sederhana dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri. Pewarna basa yang biasa digunakan untuk pewarnaan sederhana ialah metilen biru, kristal violet, dan karbol fuchsin yang mana pewarnaan sederhana ini dibagi lagi menjadi dua jenis pewarnaan (Dwidjoseputro, 1994).
a.       Pewarnaan Asam
Merupakan pewarnaan yang menggunakan satu macam zat warna dengan tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Adapun zat warna yang dipakai dalam pewarnaan positif adalah metilen biru dan air fuchsin (Dwidjoseputro, 1994).
b.      Pewarnaan Basa
Pewarnaan basa atau negatif merupakan metode pewarnaan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Metode ini menggunakan tinta cina (Dwidjoseputro, 1994).
2.  Pewarnaan Diferensial (Gram)
Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokusdan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram negatif tidak. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Hastowo, 2002).
Menurut (Hadioetomo, 1991), dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu:
a.         Zat warna utama (violet kristal)
b.         Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama. Pencuci/peluntur zat warna (alkohol/aseton) yaitu solven organic yang digunakan untuk melunturkan zat warna utama.
c.         Zat warna kedua/cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan dengan alkohol.
Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru (Hadioetomo, 1991).
Sel bakteri gram positif mungkin akan tampak merah jika waktu dekolorisasi terlalu lama. Sedangkan bakteri gram negatif akan tampak ungu bila waktu dekolorisasi terlalu pendek (Hadioetomo, 1991).
Pewarnaan Ziehl Neelsen. Larutan karbol fuchsin0,3% dituang pada seluruh permukaan sediaan, kemudian dipanaskan diatas nyala api sampai keluar asap tetapi tidak sampai mendidih atau kering selama 5 menit. Sediaan kemudian dibiarkan dingin selama 5-7 menit lalu kelebihan zat warna dibuang dan dicuci dengan air yang mengalir perlahan. Setelah itu larutan asam alkohol 3% (hydrochloric acid-ethanol) dituang pada sediaan dan dibiarkan 2-4 menit kemudian dicuci dengan air mengalir selama 1-3 menit, kelebihan larutan dibuang. Larutan methylene blue 0,1% dituang sampai menutup seluruh permukaan, dibiarkan 1 menit lalu larutan dibuang dan dicuci dengan air mengalir (Zaraswati, 2004).
3. Pewarnaan Khusus
Pewarnaan khusus merupakan metode pewarnaan untuk mewarnai struktur khusus atau tertentu dari bakteri seperti bagian spora, kapsul, flagel dsb. Contoh pewarnaan khusus: Pewarnaan Endospora anggota dari genus Clostridium, Desulfomaculatum, dan Bacillus adalah bakteri yang memproduksi endospora dalam siklus hidupnya. Endospora merupakan bentuk dorman dari sel vegetatif, sehingga metabolismenya bersifat inaktif dan mampu bertahan dalam tekanan fisik dan kimia seperti panas, kering, dingin, radiasi, dan bahan kimia. Tujuan dilakukannya pewarnaan endospora adalah membedakan endospora dengan sel vegetatif, sehingga pembedaannya tampak jelas. Endospora tetap dapat dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan. Namun jika dengan pewarnaan sederhana, endospora sulit dibedakan dengan badan inklusi (Hastowo, 2002).
a.  Pewarnaan Kapsul                                                          
Pewarnaan ini menggunakan larutan kristal violet panas, lalu larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Garam tembaga juga memberi warna pada latar belakang yang berwana biru gelap (Hastowo, 2002).
b.  Pewarnaan Spora
Dinding spora relatif tidak permeable, namun zat warna bisa menembusnya dengan cara memanaskan preparat (Hastowo, 2002).
c.  Pewarnaan Flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspensi koloid garam asam tanat yang tidak stabil, sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel (Hastowo, 2002).
d.  Pewarnaan Nukleoid
Pewarnaan nukleoid menggunakan pewarna fuchsin yang khusus untuk DNA (Hastowo, 2002).
 

BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 20 November 2015 pada jam 10.00 sampai selesai di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
3.2. Bahan dan Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu  jarum Ose, Bunsen, korek api, tissue dan pipet tetes .Bahan yang digunakan biakan bakteri dalam medium cair, metylen Blue dan Safranin.
3.3  Prosedur Pelaksanaan
Ø  Pengecatan Negatif
Merupakan cara pengecetan tidak langsung, karena di cat adalah latar belakang bakteri saja. Oleh karena itu, cara ini dapat digunakan untuk melihat bentuk dan ukuran sel bakteri yang sesungguhnya. Biasanya bentuk dan ukuran bakteri tidak mengalami perubahan.
-          Ambillah objek glass dan beri metylen Blue panaskan di atas nyala api bunsen dengan diratakan.
-          Setelah kering, tetesi dengan biakan murni suspense bakteri dengan menggunakan pipet tetes letakkan di bagian tengah objek gelas.
-          Kemudian tutup dengan cover glass amati preparat ini dibawah mikroskop dengan pembesaran 40x Sel-sel bakteri akan tampak transparant dengan latar belakang berwarna biru.
-          Lalu didokumentasikan gambar yang diperoleh dan dilampirkan dalam laporan.
Ø  Pengecatan sederhana
Pengecatan ini berguna untuk melihat bentuk bakteri. Sebelum di cat dilakukan fiksasi terlebih dahulu. Cat yang diperlukan antara lain: safranin.
-          Ambillah objek glass dan beri metylen Blue panaskan di atas nyala api bunsen sambil diratakan.
-          Setelah kering, tetesi dengan biakan murni suspense bakteri dan tetesi juga dengan safranin dengan menggunakan pipet tetes letakkan di bagian tengah objek gelas.
-          Kemudian tutup dengan cover glass dan  amati preparat ini dibawah mikroskop dengan pembesaran 40x Sel-sel bakteri akan tampak transparant dengan latar belakang berwarna biru.
-          Lalu didokumentasikan gambar yang diperoleh dan dilampirkan dalam laporan.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
No
Pengecatan
Deskripsi
1
Pengecatan Negatif
Morfologi bakteri : Circulair
Warna latar : Biru
Warna bakteri : kuning
2
Pengecatan sederhana
Morfologi bakteri : Circulair
Warna latar : Kuning kecoklatan
Warna bakteri : Ungu

4.2. Pembahasan
Praktikum yang dilakukan dalam pengecatan bakteri memakai 2 cara, yaitu pengecatan negatif dan pengecatan sederhana.
Pengecatan negatif merupakan cara pengecetan tidak langsung, karena di cat adalah latar belakang bakteri saja. Oleh karena itu, cara ini dapat digunakan untuk melihat bentuk dan ukuran sel bakteri yang sesungguhnya. Biasanya bentuk dan ukuran bakteri tidak mengalami perubahan.
Pada pengamatan ini, sel pewarna yang digunakan untuk melihat bakteri yang akan diamati adalah Methylen Blue. Pewarna tersebut bekerja baik dalam mewarnai bakteri karena zat warna tersebut mengandung fungsional yang membentuk warna.
Pewarnaan sederhana, bakteri diwarnai oleh reagen tunggal. Pewarnaan dasar dengan kromogen (zat warna) muatan positif disarankan selama asam nukleat bakteri dan komponen dinding sel membawa muatan negative yang menyerap dengan kuat dan mengikat kation kromogen perlu diperhatikan lamanya waktu pewarnaan tergantung pada jenis pewarnaan yang digunakan. Misalnya methilen blue terserap selama 2-3 menit, dengan demikian bakteri yang terdapat pada sampel akan menyerap zat warna yang diberikan.
Pengecatan sederhana ini berguna untuk melihat bentuk bakteri. Sebelum di cat dilakukan fiksasi terlebih dahulu. Cat yang diperlukan antara lain: metylen blue dan safranin.
Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).
       Pengecatan sederhana digunakan untuk memperlihatkan atau untuk memperjelas kontras antara sel dan latar belakangnya sehingga dapat mempertajam bentuk dari sel-sel mikroba itu sendiri. Dengan cara mewarnai sel-sel mikroba dengan zat warna.
Sri Mulyani (2010) menyatakan bahwa zat-zat warna yang digunakan pada pengecatan sederhana biasanya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Pewarna yang biasa dipakai dalam pewarna umum adalah biru metilen. Biru metilen memberi warna biru cerah yang bisa bergradasi (biru muda sampai biru agak tua).
Selain metilen blue, juga digunakan safranin. Safranin adalah noda biologis yang digunakan dalam histologi dan sitologi. Safranin digunakan sebagai conterstaindalam beberapa protokol pewarnaan. Persiapan safranin komersial sering mengandung campuran dari kedua jenis. Safranin juga digunakan sebagai indikator redok dalam kimia analitik (Dwidjoseputro, 1994).
  Adapun hasil yang diperoleh dalam praktikum ini yaitu :
1. Pada pengecatan negatif, diperoleh morfologi bakteri : circulair, warna latarnya  biru sedangkan warna bakterinya kuningatau transparan. Adapun penyebab adanya warna biru pada latar ini disebabkan oleh penambahan metylen blue.
2. Pada pengecatan sederhana, diperoleh morfologi bakteri : circulair, warna latarnya kuning kecoklatan sedangkan warna bakterinya ungu. Adapun penyebab adanya warna kuning kecoklatan pada latar dan warna ungu pada bakteri ini disebabkan oleh adanya penambahan metylen blue kemudian ditambah lagi dengan safranin.
Berhasil tidaknya suatu pewarnaan sangat ditentukan oleh waktu pemberian warna dan umur biakan yang diwarnai (umur biakan yang baik adalah 24 jam). Umumnya zat warna yang digunakan adalah garam-garam yang dibangun oleh ion-ion yang bermuatan positif dan negatif dimana salah satu ion tersebut berwarna (Hadioetomo. 1991).




BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.     Pengecatan negatif merupakan cara pengecetan tidak langsung, karena di cat adalah latar belakang bakteri saja.
2.    Pengecatan sederhana berguna untuk melihat bentuk bakteri. Sebelum di cat dilakukan fiksasi terlebih dahulu. Cat yang diperlukan antara lain: safranin.
3.    Pada pengecatan negatif, diperoleh morfologi bakteri : circulair, warna latarnya  biru sedangkan warna bakterinya kuning atau transparan
4.    Pada pengecatan sederhana, diperoleh morfologi bakteri : circulair, warna latarnya kuning kecoklatan sedangkan warna bakterinya ungu.




DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2013. Diunduh dari 2013. Laporan Pengecatan dan Morfologi Mikroba. Diunduh dari http://addhy-ardhy.blogspot.co.id/2013/07/laporan-pengecatan-dan-morfologi-mikroba.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 11.30 Wib
Dira. 2014. Laporan Praktikum Bakteriologi. Diunduh dari http://dirayantiembongbulan.blogspot.co.id/2014/12/laporan-praktikum-bakteriologi-i_56.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 11.30 Wib
Kurniawati SR. 2015. Pewarnaan Gram Dan Pengamatan Morfologi Bakteri. Diunduh dari http://dietistasilvi.blogspot.co.id/2015/01/laporan-praktikum-mikrobiologi.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 11.30 Wib
Mulyati S. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum. Jambi . Fakultas Pertanian. Universitas Jambi.
Noviyanti D. 2015. Laporan Mikrobiologi  Pengecatan/ Pewarnaan Bakteri. Diunduh dari http://debynoviyanti29.blogspot.co.id/2015/06/laporan-mikrobiologi.html pada tanggal 21 November 2015 pukul 11.30 Wib




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Pengecatan Bakteri"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!