loading...

Laporan Praktikum | Penetapan C-Organik (Walkley and Black)


LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU TANAH

PENETAPAN C-ORGANIK (WALKLEY AND BLACK)






Disusun Oleh :
Fitri Andela
D1A014072







PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016






                  I.        JUDUL : PENETAPAN C-ORGANIK (WALKLEY AND BLACK)

                II.            METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 Oktober 2015, pada pukul 08.00 Wib sampai selesai bertempat di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
  
                III.            LANDASAN TEORI
Tanah sebagai media pertumbuhan tanaman berada dalam kondisi yang optimum jika komposisinya terdiri dari : 25% udara, 25% air, 45% mineral dan 5% bahan organik. Atas dasar perbandingan ini, nampak kebutuhan tanah terhadap bahan organik adalah paling kecil.Namun demikian kehadiran bahan organik dalam tanah mutlak dibutuhkan karena bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah (Lengkong dan Kawulusan, 2008).
Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks  yang  sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya (Nabilussalam, 2011).
Bahan organik  adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman  atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologis, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik didalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Kadar C-organik tanah cukup bervariasi, tanah mineral biasanya mengandung C-organik antara 1 hingga 9%, sedangkan tanah gambut dan lapisan organik tanah hutan dapat mengandung 40 sampai 50% C-organik dan biasanya < 1% di tanah gurun pasir (Fadhilah, 2010).
Budidaya organik nyata meningkatkan kandungan karbon tanah. Karbon merupakan komponen paling besar dalam bahan organik sehingga pemberian bahan organik akan meningkatkan kandungan karbon tanah. Tingginya karbon tanah ini akan mempengaruhi sifat tanah menjadi lebih baik, baik secara fisik, kimia dan biologi. Karbon merupakan sumber makanan mikroorganisme tanah, sehingga keberadaan unsur ini dalam tanah akan memacu kegiatan mikroorganisme sehingga meningkatkan proses dekomposisi tanah dan juga reaksi-reaksi yang memerlukan bantuan mikroorganisme, misalnya pelarutan P, fiksasi N dan sebagainya (Utami dan Handayani, 2003).
Terdapat beberapa pengertian mengenai C-organik yakni merupakan bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. C-organik juga merupakan bahan organik yang terkandung di dalam maupun pada permukaan tanah yang berasal dari senyawa karbon di alam, dan semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus (Supryono dkk, 2009).

Adapun menurut Indranada (1994), sumber-sumber bahan organik adalah:
a.       Sumber primer
Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang.ranting dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida seperti selulosa, hemi-selulosa, pati dan bahan-bahan pectin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang paling penting dalam mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan terangkul ke lapisan bawah (Sutanto, 2002).Sumber primer diperoleh dari jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah.  Jaringan ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasi dengan tanah.

b.      Sumber sekunder
Sumbernya adalah binatang.  Dalam kegiatannya, binatang terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman, setelah itu barulah binatang menyumbang bahan organiknya.
Kedua sumber bahan organik tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap tanah.  Hal ini dikarenakan perbedaan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut.  Jaringan binatang berbeda dengan jaringan tumbuhan, oleh sebab itu pada jaringan binatang umumnya lebih cepat hancur dibandingkan dengan jaringan tumbuhan (Indranada, 1994).
Beberapa senyawa organik lebih tahan lapuk seperti lignin lemak dan beberapa senyawa yang mengandung N melalui proses biokimia menghasilkan suatu kelompok senyawa yang agak stabil, koloid amorf, dan berwarna gelap yang dikenal dengan humus(Indranada, 1994).Humus merupakan salah satu bentuk bahan organik.Jaringan asli berupa tubuh tumbuhan atau hewan baru yang belum lapuk.Terus menerus mengalami serangan jasad-jasad mikro yang menggunakannya sebagai sumber energinya dan bahan bangunan tubuhnya.Hasil pelapukan bahan asli yang dilakukan oleh jasad mikro disebut humus (Balasubramian, 2005).
Senyawa organik yang mudah lapuk antara lain gula, pati, protein, hemiselulosa.  Adapun hasil dari perubahan bahan organik meliputi energi, air, C, N, S, P, K, Ca, Mg, dan lain-lain.  Kadar bahan organik dalam tanah dipengaruhi oleh kedalaman, iklim, drainase, dan pengolahan dari bahan tersebut.  Mengingat peranannya, bahan organik tanah perlu dipertahankan melalui suatu pengelolaan yang baik (Indranada, 1994).
Karbon merupakan penyusun bahan organik, oleh karena itu peredarannya selama pelapukan jaringan tanaman sangat penting.Sebagian besar energi yang diperlukan oleh flora dan fauna tanah berasal dari oksidasi karbon, oleh sebab itu CO2terus dibentuk.Berbagai perubahan yang terjadi dan siklus yang menyertai reaksi karbon tersebut di dalam atau di luar sistem tanah disebut peredaran karbon. Pembebasan CO2 antara lain melalui mekanisme pelapukan bahan organi. Gas tersebut merupakan sumber CO2 tanah, disamping CO2yang dikeluarkan akar tumbuhan dan yang terbawa oleh air hujan.CO2yang dihasilkan tanah akhirnya akan dibebaskan ke udara, kemudian dipakai lagi oleh tanaman (Yani, 2003).
Unsur karbon di dalam tanah berada dalam 4 wujud, yaitu wujud mineral karbonat, unsur padat seperti arang, grafit dan batubara, wujud humus sebagai sisa-sisa tanaman dan hewan serta mikroorganisme yang telah mengalami perubahan, namum relatif tahan terhadap pelapukan dan wujud yang terakhir berupa sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mengalami dekomposisi di dalam tanah (Watoni dan Buchari, 2000).
Adapun sifat-sifat tanah yang mengandung organik, diantaranya : mempunyai bobot isi (bulk density) yang rendah; mempunyai luas permukaan spesifik tinggi; mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi (sampai 3 kali lipat dari bobot keringnya) ; bersifat agak plastis tetapi tidak lekat ; mempunyai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tinggi hingga 150-200 me/100 g karena memiliki gugus fungsional yang banyak seperti Hidroksil (-OH), Karboksil (-COOH), Fenolik dll ; bersifat amfotir (bertindak sebagai basa pada kondisi asam dan bertindak sebagai asam pada kondisi alkalis) ; bersifat hesteriosis jika terjadi pembasahan dan pengeringan ; memiliki titik muatan nol (pH) sangat rendah ; dan bermuatan variable (Madjid, 2010).
Bahan organik tanah merupakan hasil dekomposisi atau pelapukan bahan-bahan mineral yang terkandung didalam tanah. Bahan organik tanah juga dapat berasal dari timbunan mikroorganisme, atau sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mati dan terlapuk selama jangka waktu tertentu.bahan organik dapat digunakan untuk menentukan sumber hara bagi tanaman, selain itu dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi tanah (Soetjipto, 1992).
Bahan organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan didalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman. Akhirnya bahan organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Doeswono,1983)
Kandungan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik kandungan karbon (C) bahan organik bervariasi antara 45%-60% dan konversi C-organik menjadi bahan = % C-organik x 1,724. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh arus akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi yang sangat tergantung kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbunan, dan praktik pertanian). Arus dekomposisi jauh lebih penting dari pada jumlah bahan organik yang ditambahkan. Pengukuran kandung bahan organik tanah dengan metode walkey and black ditentukan berdasarkan kandungan C-organik (Foth,1994).
Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali.Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro.Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang. Menurut Suryani A. (1996), proses dekomposisi bahan organik memiliki urutan sebagai berikut:
1.      Fase perombakan bahan organik segar. Proses ini akan merubah ukuran bahan menjadi lebih kecil.
2.      Fase perombakan lanjutan, yang melibatkan kegiatan enzim mikroorganisme tanah. Fase ini dibagi lagi menjadi beberapa tahapan. Pada tahapan awal dicirikan oleh kehilangan secara cepat bahan-bahan yang mudah terdekomposisi sebagai akibat pemafaatan bahan organik sebagai sumber karbon dan energi oleh mikro organisme tanah, terutama bakteri. Dihasilkan sejumlah senyawa sampingan seperti: NH3, H2S, CO2, asam organik dll. Selanjutnya, pada tahapan tengah, terbentuk senyawa organik tengahan/antara (intermediate products) dan biomassa baru sel organisme.Lalu tahapan akhir dicirikan oleh terjadinya dekomposisi secara berangsur bagian jaringan tanaman/hewan yang lebih resisten (mis: lignin). Peran fungi dan Actinomycetespada tahapan ini sangat dominan.
3.      Fase perombakan dan sintesis ulang senyawa-senyawa organik (humifikasi) yang akan membentuk humus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik dalam tanah adalah kedalaman tanah, iklim (curah hujan dan suhu), drainase, tekstur tanah  dan vegetasi. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan pada lapisan atas setebal 20 cm, sehingga lapisan tanah makin ke bawah maka bahan organik yangdikandungnya akan semakin kurang (Hakim dkk, 1986).
Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman tergantung pada laju proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor tanah. Faktor bahan organik meliputi komposisi kimiawi, nisbah C/N, kadar lignin dan ukuran bahan, sedangkan faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban, tekstur, struktur dan suplai oksigen, serta reaksi tanah, ketersediaan hara terutama ketersediaan N P, K dan S (Hanafiah, 2010).
Bahan organik yang masih mentah dengan nisbah C/N tinggi, apabila diberikan secara langsung ke dalam tanah akan berdampak negatip terhadap ketersediaan hara tanah. Bahan organik langsung akan disantap oleh mikrobia untuk memperoleh energi. Populasi mikrobia yang tinggi, akan memerlukan hara untuk tumbuh dan berkembang, yang diambil dari tanah yang seyogyanya digunakan oleh tanaman, sehingga mikrobia dan tanaman saling bersaing merebutkan hara yang ada. Akibatnya hara yang ada dalam tanah berubah menjadi tidak tersedia karena berubah menjadi senyawa organik mikrobia.Kejadian ini disebut sebagai immobilisasi hara (Atmojo, 2003).
Nisbah C/N berguna sebagai penanda kemudahan perombakan bahan organik dan kegiatan jasad renik tanah akan tetapi apabila nisbah C/N terlalu lebar, berarti ketersediaan C sebagai sumber energi berlebihan menurut bandingannya dengan ketersediaanya N bagi pembentukan mikroba. Kegiatan jasad renik akanterhambat (Priambada dkk,2005).
Karbon diperlukan mikroorganisme sebagai sumber energi dan nitrogen diperlukan untuk membentuk protein.Apabila ketersediaan karbon terbatas (nisbah C/N terlalu rendah) tidak cukup senyawa sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan mikroorganisme untuk mengikat seluruh nitrogen bebas.Apabila ketersediaan karbon berlebihan (C/N > 40) jumlah nitrogen sangat terbatas sehingga menjadi faktor pembatas pertumbuhan organisme (Wallace and Teny, 2000).
Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Di samping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri (Hakim dkk, 1986).
Bahan organik yang terkandung di dalam tanah lebih tinggi yang mengakibatkan tanah pada lapisan ini cenderung lebih gelap, terutama pada lapisan I, karena merupakan lapisan paling atas. Faktor yang mempengaruhi bahan organik tanah adalah kedalaman lapisan dimana menentukan kadar bahan organik dan N. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas, setebal 20 cm (15-20) %, makin ke bawah makin berkurang, contohnya pada setiap lapiasan tanah inseptisol, makin ke bawah (Lapisan II) warnanya lebih muda daripada lapisan I, dan II. Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin ke daerah dingin kadar bahan organik dan N makin tinggi. Drainase buruk dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena aerasi buruk menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik (Hakim dkk, 1986).
Keberadaan bahan organik dalam tanah terhadap tanaman dapat memacu pertumbuhan tumbuhan karena mengandung auksin dan hormon pertumbuhan, meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman, menyuplai energi bagi organisme tanah, dan meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman (Madjid, 2010).
Tanah yang baik merupakan tanah yang mengandung hara.Unsur yang terpenting dalam tanah agar dapat mendukung kesuburan tanah salah satunya adalah kandungan c-organik.Dimana kandungan c-organik merupakan unsur yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah.Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus (Hardjowigeno,2003).

                  IV.             BAHAN DAN ALAT


Bahan
1.      Sampel Tanah Kering
2.      K2Cr2O7
3.      H2SO4 pekat
4.      Air aquadest
5.      85% H3PO4
6.      Naf
7.      Indikator difenilamin
8.      Fero Amino Sulfat
Alat
   1.      Timbangan Listrik
2.      Tabung Erlenmeyer
3.      Pipet Tetes
4.      Gelas Ukur
5.      Kertas/alas
6.      Burret
7.      Tisu
8.      Gelas Piala



                 V.            PROSEDUR KERJA
    1.   Timbang 0,1 gr tanah berkehalusan 0,2 mm
  2.  Masukkan tanah tersebut ke erlenmeyer 500 ml dan tambahkan 2 ml 1 N K2Cr2O7, sambil    digoyang-goyangkan (tambahkan melalui burret 10 ml)
   3.   Tambahkan 4 ml H2SO4 pekat, dan putarlah dialas yang lembut selama 1 menit. Setelah tercampur sempurna, diamkan selama 20 menit.
   4. Setelah itu tambahkan 40 ml air suling (Aquadest), dan 2 ml 85 % H3PO4, 0,04 gr NaFdan 6 tetes indikator defenilamin.
   5.  Titer dengan 0,5 N Fero Amunium Sulfat/ FeroSulfat 1 N. Pada tahap awal berwarna hijau redup   menjadi hijau kotor                  titik akhir titrasi berwarn hijau terang.
   6.    Lakukan cara yang sama (1-5) pada waktu yang sama untuk blangko (tanpa tamah).


                  VI.            HASIL
Hasil Penetapan C-Organik (Walkey and Black)
No.

Contoh
B/S
FeSO4
ml
C-Organik
%
Bahan Organik %
1
Blangko  
5,9 ml
-
-
2
Sample
3,2 ml
5,25 %
9,03 %
3
Sample
3,9 ml
3,9 %
6,7 %
4
Sample
4,2 ml
3,31%
5,7 %
5
Sample
3,6 ml
4,48 %
7,7 %
6
Sample
3,9 ml
3,89 %
6,69 %
RATA-RATA
4,166 %
7,164 %
Perhitungan:
            Untuk perhitungan data kelompok 3 :

  
           VII.        PEMBAHASAN
Dari hasil yang didapat, diketahui hubungan antara C-Organik dan Bahan Organik berbanding lurus ( semakin tinggi C-Organik semakin tinggi pula Bahan Organik yang terkandung di dalam tanah tersebut.
C-Organik (Bahan organik) merupakan bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. C-Organik juga merupakan bahan organik yang terkandung di dalam maupun pada permukaan tanah yang berasal dari senyawa karbon di alam, dan semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus (Supryono dkk, 2009).
Bahan organik tanah adalah hasil dekomposisi dari organisme yang hidup yang tersusun dari campuran polisakarida, lignin, dan protein dan bahan orgaik yang berasal dari batuan dan mineral.
Bentuk-bentuk dari bahan organik tanah adalah berbentuk humus, yang meliputi akar tanaman hidup, komponen-komponen humus, sisa-sisa tanaman dan hewan serta mikroorganisme yang telah terdekomposisi sebagian.
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik (Anonim 2009).
Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Musthofa (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen, Agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun. Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah (Anonim 2009).
 Komposisi bahan organik terdiri dari :
1.      10-20 % karbohidrat
2.      20 % Nitrogen
3.      10-20 % asam lemak alifatik dan alkana
4.      < 50 % karbon aromatic
Bahan organik juga berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Berupa pengaruh secara fisik, kimia dan biologi tanah.

Pengaruh secara fisik antara lain :
a.       Mempengaruhi warna tanah menjadi lebih kelam (cokelat hingga hitam) yang akan menyebabkan naiknya suhu.
b.      Menetralisir daya rusak butir-butir hujan.
c.       Meningkatkan daya tanah dalam menahan air sehingga drainase tidak berlebihan.
d.      Meningkatkan agregasi dan urobilitas agregat, aerasi menjadi lebih baik, drainase lebih baik, dan lebih tahan terhadap erosi dan pencucian.
e.       Stimulan terhadap granulasi tanah.
f.       Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah.
g.      Menurunkan plastisitas dan kondisi tanah lempung dan tanah lebih mudah diolah.
h.      Menaikkan kemampuan mengikat atau menyimpan air.

Pengaruh pada sifat kimia tanah antara lain :
a.       Menghasilkan humus tanah yang berperan secara koloidal dari sebyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi.
b.      Merupakan cadangan unsure hara utama N, P, S dalam bentuk organik dan unsure hara mikro dalam bentuk kelat dan akan dilepaskan secara perlahan-lahan.
c.       Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar.
d.      Meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik.
e.       Meningakatkan aktivitas, jumlah dan populasi unsure mikri dan makro organisme tanah.
f.       Menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap mineral oksidan dan kation Al dan Fe yang reaktif sehingga menurunkan fiksasi P tanah.

Pengaruh Sifat Biologi tanah antara lain :
a.       Meningkatkan populasi organisme tanah
b.      Meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah.

Bahan organik lebih banyak di daerah topsoil dibandingkan di daerah subsoil, hal ini dikarenakan di daerah topsoil, kandungan bahan organik di bagian topsoil lebih tinggi dibandingkan di daerah subsoil. Hal ini disebabkan adanya aktivitas mikroorganisme dalam kegiatan proses pelapukan dan dekomposisi bahan orgaik dimana mikroorganisme aktif mendekomposisi pada daerah topsoil. Apabila semakin ke dalam bawah tanah, maka aktivitas mikroorganisme akan semakin berkurang sehingga pada daerah subsoil akan memiliki kandungan bahan organik yang lebih rendah dibandingkan di daerah topsoil.

Sumber bahan organik terdiri dari :
a.       Sumber Primer
Diperoleh dari jaringan tanaman berupa akar,batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Jaringan ini akan mengalami proses dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diingkorporasikan dengan tanah.
b.      Sumber Sekunder
Sumbernya berasal dari hewan. Dalam kegiatannya, bintang terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah cacing menyumbangkan bahan organiknya melalui hasil pembuangan kotorannya.
Dari beberapa pembahasan diatas, dapat diketahui apabila suatu tanah kekurangan bahan organik tanah maka akan cenderung berwarna terang baik kuning atau merah dan kemampuan untuk menahan air dan menyediakan unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman rendah, sehingga tanaman yang tumbuh diatasnya tidak berwarna hijau dan batangnya kecil. Aktifitas mikroorganisme tanah sedikit atau bahkan tidak ada. Selain itu, jika tanah ingin digunakan sebagai tanah pertanian perlu ditambahkan bahan organik.
Berdasarkan data yang didapatkan, bahan organik yang dikandung pada masing-masing tanah berbeda-beda. Jumlah bahan organik yang berbeda-beda disebabkan oleh jenis tanah pada masing-masing sampel.
Adapun penyebab lainnya dikarenakan letak sampel tanah yang diambil berada pada lapisan yang berbeda, berbeda letak lapisan yang diambil berbeda pula kandungan bahan organiknya ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik pada tanah, yaitu faktor biologi, faktor fisika, dan faktor kimia. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang melakukan proses dekomposisi akan berbanding lurus dengan jumlah bahan organik yang tebentuk karena dekomposer akan merombak sisa-sisa makhluk hidup di atas tanah sehingga pda akhirnya menjadi humus, semakin banyak mikroorganisme yang berperan sebagai dekomposer maka semakin cepat pula proses perombakan bahan organik segar. Suhu yang terlalu ekstrim dan curah hujan yang terlalu tinggi akan menyebabkan proses dekomposisi menjadi terhambat karena bakteri yang berperan dalam proses tersebut tidak dapat berkembang. Tingkat pH akan mempengaruhi kerja mikroorganisme dalam melakukan proses dekomposisi, bagi mikroorganisme yang dapat bekerja optimal pada pH basa tentu akan mengalami hambatan untuk bekerja pada pH yang asam dan begitu juga sebaliknya.






           VIII.        KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum bahan organik tanah adalah sebagai berikut :
1.   Kandungan bhaan organik lebih banyak didapatkan didaerah topsoil dibandingkan di daerah subsoil.
2.      Tinggi rendahnya bahan organik tanah dipengaruhi oleh suhu, curah hujan, vegetasi. Dan struktur tanah.
3.       Semakin banyak kandungan humus, maka warna tanah semakin pekat.
4.       Fungsi bahan organik tanah dapat mempengaruhi sifat fisik, sifat kimia, dan Sifat biologi tanah.
5.       Bahan organik yang dimiliki suatu tanah berasal dari sumber primer dan sumber sekunder.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2009.SifatKimiaTanah.[online]http://boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/. Diakses tanggal 27 Oktober 2015 pukul 22.30 Wib.
Atmojo, S.W. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah Dan
Upaya Pengolahannya. Sebelas Maret University Press: Surakarta.
Balasubramian, V. 2005.Bahan Organik Tanah.www.lemlit.unud.ac.id, diakses
pada tanggal 27 Oktober 2015 pukul 21.30 Wib
Doeswono,1983. Ilmu-Ilmu Terjemahan. Bhtara Karya Aksara : Jakarta.
Fadhilah. 2010. Pengertian tanah bertalian.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20172/3/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 27 Oktober 2015 pukul 22.00 Wib
Foth, H. D, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Jilid ke Enam . Erlangga.  Jakarta.
Hakim. N, Yusuf Nyakpa, A. M Lubis, S. G. Nugroho, Rusdi Saul, Amin Diha, Go Bang Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.
Hanafiah, Ali Kemas.  2010.  Dasar-dasar Ilmu Tanah.  Raja Grafindo Persada:
Jakarta.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo: Jakarta.
Indranada K. Henry.  1994.  Pengelolaan Kesuburan Tanah.  Bumi Aksara.  Jakarta.
Lengkong, J.E., dan Kawulusan R.I. 2008. Pengelolaan Bahan Organik Untuk
Memelihara Kesuburan Tanah. Soil Environment, Vol. 6, No. 2, Hal : 91-97.
Madjid. 2010. Sifat dan Ciri Tanah. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor:
Bogor.
Nabilussalam.2011.C-Organik Dan Pengapuran. Pesantren Luhur Malang: Malang.
Oktaviani, dian. http://dianosauruss.blogspot.co.id/2012/01/laporan-dasar-dasar-ilmu-tanah.htmldiakses pada tanggal 27 Oktober 2015 pukul 21.00 Wib
Priambada,I.D., J.Widodo dan R.A. Sitompul. 2005. Impact of Landuse Intency on Microbal Community in Agrocosystem of Southern Sumatra International Symposium on Academic Exchange Cooperation Gadjah Mada University and Ibraki University. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Soetjipto, dkk. 1992. Dasar - Dasar Irigasi. Erlangga: Jakarta.
Supryono, dkk. 2009. Kandungan C-Organik Dan N-Total Pada Seresah Dan
TanahPada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus Di Wanagama I, Gunung Kidul,
Diy).JurnalIlmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 49-57
Suryani,A.1996.Bahan Organik Tanah.
http://www.damandiri.or.id/file/anisuryaniipbbab2.pdf, diakses pada tanggal
27 Oktober 2015 pukul 21.00 Wib
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Utami, S.N. dan Handayani, S. 2003. Sifat Kimia Entisol pada Sistem Pertanian
Organik.Ilmu Pertanian Vol. 10 No. 22003: 63-69.
Wallace, A., R.G and Teny. 2000. Handbook of Soil Conditioners Subsistance That Enhance the Physical Properties of Soil.Marcell Pecker Inc.New York: Amerika.
Watoni, A.H., dan Buchari. 2000. Studi Aplikasi Metode Potensiometri Pada
PenentuanKandungan Karbon Organik Total Tanah.JMS Vol. 5 No. 1, hal. 23 –40.

Yani, A. 2003. Beberapa Pendekatan Pengukuran Karbon Tanah Gambut Di Jambi. Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Penetapan C-Organik (Walkley and Black)"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!