loading...

Laporan Praktikum | Penentuan pH Tanah


LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU TANAH


PENENTUAN pH TANAH






Disusun Oleh :
FITRI ANDELA
D1A014072




PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016







LAPORAN
DASAR-DASAR ILMU TANAH


     I.     Judul : PENENTUAN pH TANAH

  II.     METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 5 November 2015, pada pukul 08.00 Wib sampai selesai bertempat di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 III.       Landasan Teori
PH tanah adalah salah satu dari beberapa indikator kesuburan tanah, sama dengan keracunan tanah.  Level optimum pH tanah untuk aplikasi penggunaan lahan berkisar antara 5–7,5.  tanah dengan pH rendah (acid) dan pH tinggi (alkali) membatasi pertumbuhan tanaman.  Efek pH tanah pada umumnya tidak langsung.  Di dalam kultur larutan umumnya tanaman budidaya yang dipelajari pertumbuhannya baik/sehat pada level pH 4,8 atau lebih (Bunting, 1981).
PH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (didalam tanah). Makin tinggi kadar ion didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila kandungan H sama dengan maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Hardjowigeno, 2010).
Larutan mempunyai pH 7 disebut netral, lebih kecil dari 7 disebut masam, dan lebih besar dari 7 disebut alkalis. Reaksi tanah ini sangat menunjukkan tentang keadaan atau status kimia tanah. Status kimia tanah mempengaruhi proses-proses biologik (Hakim, dkk, 1986).
Nilai pH tanah dipengaruhi oleh sifat misel dan macam katron yang komplit antara lain kejenuhan basa, sifat misel dan macam kation yang terserap.  Semakin kecil kejenuhan basa, maka semakin masam tanah tersebut dan pH nya semakin rendah.  Sifat misel yang berbeda dalam mendisosiasikan ion H beda walau kejenuhan basanya sama dengan koloid yang mengandung Na lebih tinggi mempunyai pH yang lebih tinggi pula pada kejenuhan basa yang sama (Pairunan,dkk, 1985).
Kemasaman berpengaruh pada ketersediaanya  atau tidak tersedianya hara tanaman. Dalam hal ini kita mengenal pH tanah. pH tanah adalah suatu ukuran aktifitas ion hydrogen di dalam larutan aior tanah dan dapat di pakai sebagai ukuran bagi keasaman tanah. Hara adalah log dari harga kebalikan Cons ion Hidrogen (Kartasapoetra, 2004 : 14).
pH tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung berupa ion hidrogen sedangkan pengaruh tidak langsung yaitu tersedianya unsur-unsur hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran pH tanah mineral biasanya antara 3,5–10 atau lebih. Sebaliknya untuk tanah gembur, pH tanah dapat kurang dari 3,0. Alkalis dapat menunjukkan pH lebih dari 3,6. Kebanyakan pH tanah toleran pada yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan tanah mempunyai persediaan hara yang cukup bagi pertumbuhan suatu tanaman (Sarwono, 2010).
Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kejenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).
Sumber kemasaman tanah dalam kandungan bahan-bahan organik dan anorganik. Ionisasi asam menghasilkan ion H+yang bebas dalam larutan tanah. Sumber lain dari kemasaman tanah adalah H+dan Al3+ yang dapat ditukar dengan koloid tanah. Kemampuan suatu tanah dalam mempertahankan pH dari perubahan karena terjadinya penambahan Alkalisatau masam biasa dinamakan sebagai daya sanggah pada tanah (Hadjowigeno, 1987).
Kemasaman suatu tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ yang terdapat di dalam tanah dan berada pada kesetimbangan  dengan ion H+yang terjerap. Kemasaman tanah merupakan suatu sifat yang penting sebab terdapat hubungan antara pH dengan ketersediaan unsur hara dan juga terdapatnya hubungan antara  pH tanah dengan proses pertumbuhan (Foth, 1989).
Kemasaman atau pH tanah yang tinggi biasanya mengakibatkan terjadinya kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan akar pada tanaman. Pengaruh tidak langsung ketidakstabilan pada pH tanah, mengakibatkan keracunan pada tanaman (Hakim, 1985).
Tanah yang terlalu masam, dapat dinaikkan pH-nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedangkan pH tanah yang terlalu alkalis atau mempunyai nilai pH yang tinggi dapat diturunkan dengan cara menambahkan belerang atau dengan cara pemupukan pada tanah (Hadjowigeno, 1987).
Kemasan tanah ada dua macam, yaitu:
1. Kemasaman aktif: Yaitu kemasaman yang disebabkan oleh adanya ion H+ yang ada pada koloid tanah.
2. Kemasaman pasif: Yaitu kemasaman yang disebabkan oleh ion H+ dan Al3+yang ada pada kompleks jerapan tanah.

pH meter adalah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH (keasaman atau alkalinitas) dari cairan (meskipun probe khusus terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi-padat). Sebuah pH meter khas terdiri dari probe pengukuran khusus atau elektroda yang terhubung ke meteran elektronik yang mengukur dan menampilkan pembacaan pH (Aslilah, 2013).
Pada umumnya pada larutan pertanian, penggunaan pH secara rutin dilakukan untuk memonitor pengaruh raktek pengelolaan pertanian terhadap efisiensi penggunaan N, kelarutan Al, dan hubungannya dengan dampak lingkungan. Sebagian besar lahan yang mempunyai pH sangat rendah atau tinggi menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman. Apabila tanah bersifat masam dinetralisir dengan pemberian kapur. Sebaliknya apabila tanah terlalu basa dapat diturunkan pHnya dengan pemberian belerang. Tanah masam khususnya di daerah tropika mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui beberapa cara. Apabila tanah (pH) rendah, maka satu atau lebih faktor tanah yang tidak menguntungkan muncul dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (Gaur, 1981)

 IV.       BAHAN DAN ALAT


Bahan
       1.      Air suling (H2O)
       2.      Larutan 1 N KCl
       3.      Tanah kering 10 gr


Alat
       1.      pH meter
       2.      Gelas ukur 
       3.      Gelas piala
       4.      Tabung Pengocok
       5.      Neraca analitik
       6.      Botol Semprot
       7.      jam



    V.       PROSEDUR KERJA
       1.      Timbanglah tanah sebanyak 10 gr kemudianmasukkan tanah ke tabung kocok dan tambahkan 25 ml air suling 1:2,5
     2.      Kocok 15 menit dengan mesin pengocok, atau bisa diaduk dengan batang pengaduk atau bisa dikocok dengan tangan
      3.      Setelah dikocok, Diamkan ½ jam
      4.      Ukur dengan alat pH meter yang telah dibakukan dengan larutan penyangga berpH 4 dan 7.
      5.      Setiap selesai 1 contoh pengukuran, bilas elektroda dengan air suling
      6.      Dengan cara kerja yang sama lakukan juga pada larutan KCl.


 VI.       HASIL
Tabel pengamatan: pengukuran pH H2O X pH KCl
Lapisan
Kelompok
pH H2O
pH KCl
pH H2O - pH KCl

0-10
1
4,7
4,2
-0,5
2
4,9
4,1
-0.8
3
4,4
4,0
-0,4

Rata-rata
4,7
4,1
-0,57

10-20
4
4,6
4,1
-0,5
5
5,2
4,5
-0,7
6
4,6
4,2
-0,4

Rata-rata
4,8
4,3
-0,53

VII.       PEMBAHASAN

Hasil yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan dengan menggunakan H2O dan KCL, pH H2O yang dihasilkan lebih tinggi daripada pH KCL. Hal ini dikarenakan kemasaman yang diukur dengan menggunakan H2O adalah kemasaman aktif, sedangkan pH KCL mengukur kemasaman aktif dan potensial. KCL mampu mengukur aktifitas H+ yang ada di luar larutan tanah disebabkan karena ion K+ yang berasal dari KCL dapat ditukar dengan ion H+, sedangkan hal tersebut tidak berlaku pada H2O. Oleh karena itu lebih baik menggunakan KCL daripada H2O karena lebih akurat.
Kemasaman yang terukur pada pH aktual adalah ion H+ yang terdapat dalam larutan tanah, sedangkan pH potensial ialah ion H+ yang terukur selain dalam larutan tanah juga dalam kompleks jerapan tanah. Pada pengukuran pH aktual bahan pendesaknya adalah H2O dan pH potensial bahan pendesaknya KCl. Dalam hal ini KCl mampu melepaskan ion H+ di dalam jerapan tanah menjadi H bebas. Sedangkan H2O tidak dapat membebaskan ion H+, sehingga pengukuran pH potensial jumlah H akan lebih rendah dibandingkan pH aktual
Pada lapisan 10-20 memiliki pH lebih besar dari pada Lapisan 0-10 dengan kriteria masam. Hal ini disebabkan karena lapisan ini mengandung bahan organik yang cukup tinggi yang tercampur dengan bahan mineral tanah dan mengalami penguraian oleh mikroba yang mengakibatkan terbentuknya asam sulfida dan asam nitrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim, dkk. (1986), bahwa rombakan organik diserang oleh sebagian besar mikroorganisme yang diantara hasil metabolisme akhirnya adalah asam organik dan bahan organik yang banyak. Bila asam ini sampai kebagian mineral dalam tanah, mereka tidak memberikan H tetapi menggantikan basa dan meningkatkan kemasaman tanah. Hal ini Juga disebabkan jumlah ion H dalam tanah tersebut lebih banyak dibandingkan jumlah OH. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno, S. (1992), bahwa pH tanah yang rendah dan tinggi dipengaruhi oleh adanya perbedaan kandungan ion H+ dan ion OH-, dimana jumlah ion H+ dan ion OH- juga menentukan kemasaman suatu tanah. Jika jumlah ion H+ lebih tinggi dari jumlah ion OH- maka tanah akan bersifat masam dan sebaliknya jika jumlah ion OH- lebih besar daripada ion H+ maka tanah akan bersifat basa.
Pada lapisan tanah 0-10 yaitu yang digunakan kelompok 1-3, pada tanah yang mempunyai selisih antara pH H2O dengan pH KCl besar maka bahan organik yang terkandung didalam tanah tersebut banyak, biasanya tanah berwarna hitam dapat dilihat contoh selisih pada kelompok 2. Kelompok 2 memiliki selisih pH yang paling besar diantara kelompok lain berarti dapat dikatakan tanah sampel yang digunakan kelompok 2 yaitu tanah yang paling subur diantara tanah sampel yang digunakan kelompok lain. Tanah yang mempunyai kesuburan dan mengandung bahan organik lebih banyak maka tanah tersebut di katakan tidak masam , dilihat juga pada hasil pengukuran pH pada kelompok 2 hasil pH H2O yaitu 4,9, pH tersebut cukup tinggi berarti tidak terlalu masam tanah yang digunakan oleh kelompok 2.
Pada lapisan tanah 10-20 yaitu yang digunakan kelompok 4-6 yang memiliki selisih pH paling besar yaitu hasil yang didapatkan dari kelompok 5, yaitu selisih 0,7. Di jelaskan sebelum nya bahwa yang memiliki selisih paling besar yaitu memiliki kandungan bahan organic yang paling besar juga.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi pH tanah,yang menyebabkan perbedaan nilai pH adalah :
1. Kejenuhan Basa (KB), apabila semakin besar kejenuhan basa, semakin tinggi pH tanah dan sebaliknya bila kejenuhan basa rendah, maka pH rendah.
2. Sifat koloid, merupakan koloid organik mudah mendisosiasikan ion H+ kelarutan tanah dan sebaliknya untuk koloid Fe dan Al hidroks oksida dan liat silikat, pH tanah organik < pH tanah mineral yang kaya Fe dan Alhidroks oksida atau liat silikat pada kejenuhan basa yang sama.
3.Macam kation yang terjerap, koloid-koloid yang menjerap Na+ dan ion basa-basa yang lain akan mempunyai pH tinggi.
4.Drainase tanah interna
5.Tipe vegetasi
6.Aktivitas manusia
7.Ketersediaan unsur hara
8.Tekstur tanah dan stuktur tanah
9.Ketersediaan air
10.Bahan organik
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan pH tanah antara lain:
1.Perbandingan tanah dengan air, faktor ini harus diperhatikan karena perbandingan tersebut menentukan besar kecilnya pH, jika perbandingan menurun, maka elektroda tidak sempurna.
2.Kandungan garam-garam dalam larutan tanah, tanah-tanah masam mengandung cukup garam-garam terlarut untuk mengganggu pertumbuhantanaman, terutama dengan meningkatnya tekanan osmosis larutan tanahdan membatasi larutan air. Garam-garam terlarut mungkin mengendapsecara alami dalam tanah di daerah-daerah kering, sebagai akibat penambahan air irigasi.
3.Keseimbangan CO2 udara dan CO2 tanah, CO2yang dihasilkan dari pernapasan melarut dalam larutan tanah membentuk asam karbonatrendah. Pengaruh ini terlihat pada tanah-tanah kapur dan tanah alkalilainnya untuk ribuan tahun, yang menunjukkan bahwa terbentuknya asamkarbonat dalam tanah mempunyai peranan yang kurang berarti dalammenentukan pH tanah.
Selain itu, Faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah adalah Sistem tanah yang dirajai oleh ion-ion H+ akan bersuasana asam.Penyebab keasaman tanah adalah ion H+ dan Al3+ yang berada dalam larutan tanah unsur-unsur yang terkandung dalam tanah, konsentrasi ion H+dan ion OH-,  mineral tanah, air hujan dan bahan induk. Bahwa bahan induk tanah mempunyai pH yang bervariasi sesuai dengan mineral penyusunnya dan asam nitrit yang secara alami merupakan komponen renik dari air hujan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pH tanah, selain itu bahan organik dan tekstur.
            Bahan organik mempengaruhi besar kecilnya daya serap tanah akan air. Semakin banyak air dalam tanah maka semakin banyak reaksi pelepasan ion H+ sehingga tanah menjadi masam. Tekstur tanah liat mempunyai koloid tanah yang dapat yang dapat melakukan kapasitas tukar kation yang tinggi. tanah yang banyak mengandung kation dapat berdisiosiasi menimbulkan reaksi masam.
            Pada tanah yang masam, pengapuran sangat penting dilakukan, karena tujuan pengapuran adalah menetralisir kemasaman meniadakan pengaruh Al yang beracun, dan secara langsung menyediakan Ca bagi tanaman. Dua masalah utama yang melekat pada tanah-tanah masam bagi suatu tanaman adalah: Keracunan Alumunium, Kejenuhan Al yang lebih tinggi. Keracunan Alumunium langsung merusak akar tanaman, menghambat pertumbuhannya, dan menghalangi pengambilan dan translokasi kalsium maupun fospor.




VIII.       KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilakukan adalah :
     1.    PH tanah yang diukur dengan H2O lebih tinggi dibandingkan pH tanah yang diukur dengan KCL.
    2.   Fungsi dari penambahan H2O adalah untuk mengetahui kemasaman aktif, sedangkan fungsi dari  penambahan KCl adalah untuk mengetahui kemasaman potensialnya.
   3.  Tingkat kemasaman tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui pengaruh ion H dan  pengaruh tak langsung, yaitu tidak tersedianya unsur hara tertentu dan adanya unsur yang beracun.
   4.   Tanah yang memiliki pH H2O tinggi itu dikarenakan adanya alumunium tetapi tidak terhidrolisis  dan air dapat disimpan, dan jika pH pada KCl rendah itu karena  terdapat alumunium yang banyak dan terhidrolisis.


DAFTAR PUSTAKA
Bunting. 1981. Konservasi Tanah dan Air. CV. Pustaka buana: Bandung.
Gaur. 1981. Soil Clasification in Indonesia. Balai Penjelasan Pertanian. Bogor.
Hardjowigeno, S. 2010. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika. Pressindo : Jakarta
http://ilmubertani.blogspot.co.id/2013/01/penentuan-ph-tanah-ph-h2o-dan-ph-kcl.htmldiakses pada tanggal 10 November 2015 pukul 19.00 Wib
http://rudyemufc.blogspot.co.id/2014/11/laporan-praktikum-dasar-ilmu-tanah_9.htmldiakses pada tanggal 10 November 2015 pukul 19.00 Wib
Kartosapoetra. 2004. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. PT Riko cipta: Jakarta
Pairunan,A.1985. Dasa - Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negri Indonesia Timur: Makassar.


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Laporan Praktikum | Penentuan pH Tanah"

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!