loading...

Laporan Praktikum | Analisis Profil Tanah


LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU TANAH

ANALISIS PROFIL TANAH








Disusun Oleh :
FITRI ANDELA
D1A014072






PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016





LAPORAN
DASAR-DASAR ILMU TANAH

                       I.            JUDUL :  Analisis Profil Tanah

                      II.            METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 12 November 2015, pada pukul 08.00 Wib sampai selesai bertempat di Lahan Pertanian dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

                     III.            LANDASAN TEORI
1. Proses Pembentukan Tanah
Tanah (soil) adalah suatu wujud alam yang terbentuk dari campuran hasil      pelapukan batuan, bahan organik, bahan anorganik, air dan udara yang    menempati    bagian paling   atas litosfer (Rahmat dan Yani, 2007).
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:
1.      Membantu proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.
2.      Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.
3.      Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
4.      Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis tanaman cemara   akan memberi   unsur-unsur  kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah yang ada di bawah pohon jati. (Anonim 1, 2012)

2. Profil Tanah
Profil Tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relative terhadap tekanan atmosfer dianamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara(Mul, M.S. 2007).
Apabila kita menggali lubang pada tanah, maka kalau kita perhatikan dengan teliti pada masing-masing sisi lubang tersebut akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Di suatu tempat ditemukan lapisan pasir berselang-seling dengan lapisan liat, lempung atau debu, sedang di tempat lain ditemukan tanah yang semuanya terdiri dari liat, tetapi di lapisan bawah berwarna kelabu dengan bercak-bercak merah, di bagian tengah berwarna merah, dan lapisan atasnya berwarna kehitam-hitaman(Kartasapoetra dkk, 1985)
Syarat-syarat profil tanah :
1.   Tegak (vertikal),
2.   Baru,
3.   Tidak terkena sinar matahari langsung,
4.   Tidak tergenang air,
5.   Mewakili tapak sekeliling.
            Tiap tanah di cirikan oleh susunan horizon tertentu.  Secara umum dapat disebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon utama. Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan konsistensi.
            Horizon tanah adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan mempunyai ciri-ciri tertentu (khas). Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horizon-horizon tanah. Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang disebut tanah. Profil dari tanah mineral  yang  telah berkembang lanjut biasanya memiliki horizon-horizon.

3. Warna Tanah
Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (Tan, 1995)
Pengamatan warna tanah dengan indera menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan bahan organik, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah, atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses pembentukan tanah.

4. Struktur Tanah
Struktur tanah digunakan untuk menunjukkan ukuran partikel – partikel tanah seperti pasir, debu dan liat yang membentuk agregat satu dengan yang lainnya yang dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Agregat yang terbentuk secara alami disebut ped. Struktur yang dapat memodifikasi pengaruh tekstur tanah dalam hubungannya dengan kelembaban porositas, tersedia unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pengaruh permukaan air (Madjid, 2007).
Pengamatan dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur.  Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan  sangat kasar. Untuk semua type tanah  dengan ukuran kelas berbeda-beda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung  mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah. Sedang/cukup yaitu tanah  berbentuk agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan  (Koorevaar, 1987)

5. Tekstur Tanah
Ukuran relatif  partikel tanah dinyatakan dalam istilah tekstur, yang mengacu pada kehalusan atau kekasaran tanah. Lebih khasnya, tekstur adalah perbandingan relatif pasir, debu, dan tanah liat. Laju dan berapa jauh berbagai reaksi fisika dan kimia penting dalam pertumbuhan tanaman diatur oleh tekstur karena tekstur ini menentukan jumlah permukaan tempat terjadinya reaksi (Tan, 1992).
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Untuk membedakan masing-masing tekstur tanah dapat dilihat ciri–ciri dari ketiga tekstur tanah tersebut. Selain itu, setiap tekstur tanah mempunyai karakteristiknya masing–masing. (Hardjowigeno, 2003).
Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir-butir pasir, debu dan liat, dengan cara sebagai berikut:
1.    Pasir
Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat, dan tidak dapat dibentuk bola dan gulungan.
2. Pasir Berlempung
Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk bola tetapi mudah sekali hancur.
3. Lempung Berpasir
Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat, dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur.
4. Lempung
Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat.
5. Lempung Berdebu
Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan gulungan dengan permukaan mengkilat.
6. Debu
Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan dapat digulung dengan permukaan mengkilat.
7. Lempung Berliat
Apabila terasa agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur.
8. Lempung Liat Berpasir
Apabila terasa halus dengan sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan mudah hancur.
9. Lempung Liat Berdebu
Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola teguh, serta dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat.
10. Liat Berpasir
Apabila terasa halus, berat tetapi sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan.
11. Liat Berdebu
Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan.
12. Liat
Apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik, dan mudah dibuat gulungan (Hardjowigeno, 1992).

6. Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel – partikel tanah. Hal ini ditunjukkan oleh ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang diakibatkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Tanah – tanah yang mempunyai konsistensi yang baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena itu tanah dapat ditemukan dalam keadaan basah, lembab dan kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Konsistensi tanah dapat ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan cara memijat dan memirit  atau membuat bulatan atau gulungan. Sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan cara penentuan angka Atterberg.
Dalam mengetahui konsistensi tanah maka terdapat berbagai manfaat terutama dalam bidang pertanian, yaitu dapat menentukan cara pengolahan tanah yang baik, dapat menentukan jenis tanaman yang cocok serta dapat mengetahui kadar air dalam tanah.  (Guswono,1983)
Macam – macam Konsistensi Tanah
a. Konsistensi Basah
Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori:
(1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.
(2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.
(3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.
(4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.
Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:
(1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
(2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm.
(3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
(4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut.
b. Konsistensi Lembab
Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:
(1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).
(2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
(3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.
(4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.
(5) Sangat Teguh/Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
(6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
c.  Konsistensi Kering
Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:
1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).
2. Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
3. Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.
4. Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.
5.  Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.
6.  Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul) (Sarief, 1986)

                     IV.            ALAT DAN BAHAN


Alat
1.      Cangkul
2.      Pisau Lapang
3.      Standar Warna (Buku Munsell)
4.      Meteran
5.      Camera Untuk Dokumentasi
6.      Lembar Pengamatan
7.      Alat Tulis
8.       Ring
9.      Parang
10.  Plastik
11.  Cutter
12.  Karet Gelang
13.  Tutup Galon
14.  Bor
15.  Oven
16.  Neraca Analitik
Bahan
1.      Tanah
2.      Air






                    V.            PROSEDUR KERJA
Pengamatan Profil Tanah
1.      Menentukan lokasi yang akan digunakan dalam pengamatan profil tanah
2.      Mencangkul dan meratakan dinding tanah yang sebelumnya telah digunakan dalam pengamatan profil tanah
3.      Melakukan horizonisasi dengan cara identifikasi warna, struktur, tekstur dan konsistensi
v  Cara identifikasi warna
a.       Mengamati profil tanah
b.      Memberi batas pada setiap perbedaan warna tanah sampai batas warna tanah yang tidak dapat dibedakan lagi warnanya
c.       Setelah tidak dapat dibedakan lagi warnanya maka dapat dilakukan dengan cara konsistensi
Langkah mentukan warna tanah dengan menggunakan standar warna(buku munsell)
1.      Ambil segumpal tanah kemudian letakkan dibuku munsell dan cari warna yang sama
2.      Kemudian setelah menemukan warna yang sama lakukan pembacaan

v  Cara konsistensi
a.       Melakukan  tusukan-tusukan dengan gerakan dan ayunan yang sama  menggunakan pisau lapang  untuk mengetahui perbedaan kekerasan tanah
b.      Setelah menemukan perbedaan kekerasan tanah berilah batas, itu artinya sudah terdapat perbedaan horizon
c.       Lakukan hingga profil tanah terbawah.
v  Cara penetapan struktur
a.       Mengambil sedikit bongkahan tanah yang lembab
b.      Letakkan tanah tersebut ketelapak tangan dan genggam perlahan menggunakan ujung jari dan telapak tangan kemudian geser ibu cari sehingga tanah berubah menjadi bongkahan yang lebih kecil
c.       Amati bentuk bongkahan
v  Cara penetapan tekstur
a.       Congkel horizon tanah dengan pisau lapang kemudian ambil bagian tanah yang tidak bekas pisau lapang
b.      Tanah tersebut dibasahi dengan sedikit air untuk melihat kelekatan tanah
c.       Kemudian tanah tersebut dibasahi hingga tidak terdapat butiran dan rasakan rasa lainnya dari tanah tersebut


                     VI.            HASIL
Tabel hasil pengamatan profil tanah

No
Horison
Tinggi (cm)
Value
Warna
Struktur
Tekstur
Konsistensi
1
Horison A
19
10 YR 3/2
Very dark grayishbrown( cokelat keabu-abuan )
Gumpal membulat
Lempung berpasir
( agak lekat, rasa kasar )
Tidak plastis

2
Horison E

14
10 YR 6/6
Brownish yellow
( cokelat kekuningan)
Gumpal membulat
Liat berpasir
( lekat, rasa kasar)
Agak plastis
3
Horison Bh

21
10 YR 6/8
Brownish yellow
( cokelat kekuningan)
Remah
Liat berdebu
( sangat lekat, rasa agak licin)
Plastis
4
Horison Bt1

15
10 YR 6/8
Brownish yellow
( cokelat kekuningan)
Gumpal membulat
Liat berdebu
( sangat lekat, rasa agak licin)
Plastis
5
Horison Bt2

22
10 YR 7/8
Yellow
( kuning )
Gumpal membulat
Liat ( sangat lekat, rasa halus )
Plastis


            VII.            PEMBAHASAN
Profil tanah adalah penampang tegak lurus/vertikal tanah yang menunjukkan lapisan-lapisan tanah atau horison. Horizon tanah adalah lapisan-lapisan yang kurang lebih seragam di dalam profil, batas antar horizon yang bertetangga sejajar atau hampis sejajar dengan permukaan tanah. Pengenalan awal horizon dapat dilakukan secara visual dengan membedakan perubahan yang terjadi dari horizon satu dengan yang lain.
Dari hasil praktikum yang kami lakukan, tanah yang terletak di kebun percobaan fakultas pertanian universitas jambi merupakan tanah yang terbentuk dari bahan induk batuan yang terdapat di bidang miring dengan formasi tanah bergelombang, posisi yang kami amati ialah terletak dibagian tengah lereng.
Berdasarkan hasil pengamatan yang menunjukkan batasan lapisan tanah mengalami perbedaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Pairunan, dkk (1985) yang menyatakan bahwa tiap profil mengalami perbedaan.Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti waktu, lokasi dan faktor pembentuknya.
Horison yang ditemukan pada praktikum ini ada 5 yaitu :
·      Horison A
Horison ini terletak dipermukaan yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral berwarna lebih gelap dari pada horison dibawahnya.
·      Horison E
Horison dimana terjadi pencucian (Eluviasi) maksimum.
·      Horison Bh
Horison bawah yang terbentuk karena penimbunan (Iluviasi) humus yang berasal dari horison Eluviasi (E)
·      Horison Bt1 dan Horison Bt2
Horison bawah yang terbentuk karena penimbunan (Iluviasi) liat yang berasal dari horison Eluviasi (E)
Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Warna tanah secara langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan salah satu faktor penentu suhu tanah.Salah satu syarat dalam menentukan warna tanah yaitu membelakangi matahari karena jika terkena cahaya matahari maka valuenya akan berubah.
 Warna tanah dipengaruhi kandungan bahan organik, mineral, drainase, kandungan air, dan aerasi. Makin tinggi kandungan bahan organik tanah maka warna tanah makin gelap. Di dalam lapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe yang didapat.
Pada praktikum yang kami lakukan penentuan warna tanah kami menggunakan buku munsell, didapat warna tanah pada horison A yaitu coklat keabu-abuan dengan 10 YR 3/2. Warna tanah yang didapatkan berwarna gelap, ini disebabkan banyaknya kandungan bahan organik di dalamnya. Namun, pada horison dibawahnya yaitu horison E, warna tanah lebih terang dibandingkan dengan horison diatasnya, yaitu 10 YR 6/6. Ini disebabkan pada horison ini terjadi pencucian (eluviasi) bahan organik dan liat, sehingga bahan organik yang berasal dari atas tercuci dan terjadi penimbunan pada horison dibawahnya yaitu horison Bh. Sedangkan liat yang berasal dari atas terus tercuci hingga horison paling bawah yaitu horison Bt1 dan horison Bt2.
Struktur tanah adalah gumpalan kecil dari butir butir tanah. Gumpalan gumpalan ini terjadi karena butir butir pasir debu dan liat terikat satu sama lain. Struktur tanah merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat akar, hifa jamur, lempung, humus, dll. Ikatan partikel tanah berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya. struktur tanah yang terjadi pada praktikum ini ialah rata-rata gumpal membulat.
Dari hasil praktikum yang kami lakukan, diperoleh struktur tanah yang sangat mendominasi yaitu gumpal membulat. Gumpal membulat tersebut seperti kubus dengan sudut-sudut membulat, sumbu vertikal sama dengan sumbu horizontal. Struktur tanah gumpal membulat ini pada umumnya ditemukan pada tanah yang banyak mengandung liat.
Tekstur tanah merupakan perbandingan banyaknya  butir-butir pasir, debu, dan liat. Hasil yang didapat pada tekstur profil tanah ini  ialah lempeng berpasir,  liat berpasir, liat berdebu, liat berdebu dan liat. Dilapangan, tekstur tanah dapat ditentukan dengan cara memijit tanah basah diantara jari-jari, sambil dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakannya adanya butir-butir pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah penting untuk diketahui, karena komposisi ketiga fraksi butir-butir tanah tersebut akan menentukan sifat-sifat fisika, fisika kimia, dan kimia tanah. 
Tekstur tanah ini diperoleh dengan melihat dari kelekatannya, apakah itu lekat (liat), agak lekat (lempung) ataupun tidak lekat (pasir) ini digunakan untuk nama depan. Dan juga dari rasanya, apakah itu kasar (pasir), licin (debu) ataupun halus (liat) ini digunakan untuk nama belakang. Semakin kebawah tanah, maka tekstur tanah semakin halus atau licin, tidak pernah semakin kebawah tanah semakin kasar.
Konsistensi adalah derajat kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Tanah dengan konsistensi baik mudah diolah dan tidak mudah melekat pada alat pengolah tanah. Sedangkan tanah yang berkonsistensi buruk merupakan kebalikannya.
Dalam praktikum yang kami lakukan, kami menentukan konsistensi dalam keadaan basah, yaitu mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut . Hasil yang diperoleh didominasi dengan konsistensi Plastis yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
Profil tanah yang diamati ciri-cirinya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.      Masih alami
2.      Vertical
3.      Bidang pengamatan profil tidak boleh terkena sinar matahari langsung ikatan profil tanah dimulai dengan menentukan letak batas horizon, mengukurdalamnya dan mengamati profil tanah scara keseluruhan(Darma Wijaya, 1990).




           VIII.            KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Profil tanah disusun oleh lapisan-lapisan tanah atau lebih dikenal dengan horison-horison. Horison-horison yang ada dalam profil tanah tersebut yaitu horison A, horison E, horison Bh, horison Bt1 dan horison Bt2.
2.    Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut.
3.    Struktur tanah adalah gumpalan kecil dari butir butir tanah. Gumpalan gumpalan ini terjadi karena butir butir pasir debu dan liat terikat satu sama lain.
4.    Tekstur tanah merupakan perbandingan banyaknya  butir-butir pasir, debu, dan liat.
5.    Konsistensi adalah derajat kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.

DAFTAR PUSTAKA
Guswono, S. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Kanisus Yogyakarta.
Hardjowigeno, sarwono. Ilmu tanah . sifat-sifat kimia tanah “ penetapan ph tanah”.  2010. Jakarta.
Madjid, Abdul. 2007. Biologi Tanah. Gramedia: Jakarta.
Mul, M.S. 2007. Analisis Tanah, air dan jaringan tanaman. Rieneka Cipta , Jakarta.

Rahmawati M. 2015. Diunduh dari https://melinarahmaw15.wordpress.com/teknologi-informasi-multimedia/dasar-dasar-ilmu-tanah/laporan-praktikum-pengamatan-profil-tanah/pada hari minggu,15  November  2015 Pukul 20.30 WIB.

Septyarini N. 2015. Laporan Praktikum Profil Tanah. Diunduh dari http://www.academia.edu/10914732/Laporan_Praktikum_Profil_Tanahpada hari minggu, tanggal 15 November 2015 pukul 20.00 Wib.

Tan, K.H.1992. Dasar–Dasar Kimia Tanah (terjemahan). Gadja Mada Univ. Press, Bulaksumur Yogyakarta.

Yani, Ahmad dan Mamat Rahmat. 2007. Geografi : Menyingkap Fenomena Geosfer.PT Raja Grafindo Persada: Jakarta


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Analisis Profil Tanah"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!