loading...

Laporan Praktikum | Netralisasi CPO

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT

NETRALISASI CPO








Disusun Oleh :
Muhammad Wasil







TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017






BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Minyak sawit yang belum dimurnikan mengandung sejumlah kecil komponen bukan minyak, misalnya fospatida, gum, sterol,  tokofenol dan asam lemak bebas (ALB). Untuk mendapatkan minyak atau lemak bermutu tinggi yang sesuai dengan kegunaannya, maka perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut atau pemurnian yang spesifik terhadap minyak kasar ( Crude Oil). Tujuan pemurnian tersebut adalah menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan minyak. Tahapan pemurnian tersebut yaitu pemisahan gum (degumming), netralisasi, bleaching, dan penghilangan bau (deodorizing) (Winarno, 2008).

Tahap pemurnian, tepatnya pada proses netralisasi merupakan proses paling penting dalam pemurnian minyak makan. Dan pada paktikum kali ini akan melakukan proses netralisasi pada CPO (Crude Palm Oil).

1.2       Tujuan
            Pratikum ini bertujuan untuk mengetahui cara menghilangkan asam lemak bebas pada CPO melalui tahap netralisasi.







  

BAB II
TINJAUAN PUSAKA

2.1       Minyak Sawit Kasar (CPO)
            Minyak kelapa sawit kasar (crude palm oil) merupakan hasil olahan daging buah kelapa sawit melalui proses perebusan (dengan steam) tandan buah segar (TBS), perontokan, dan pengepresan. CPO ini diperoleh dari bagian mesokarp buah kelapa sawit yang telah mengalami beberapa proses, yaitu strelisasi. Pengepresan dan klarifikasi (ketaren, 1986).
            Minyak sawit tersusun dari unsur-unsur C, H, dan O. Minyak sawit ini terdiri dari fraksi padat dan fraksi cair dengan perbandingan yang seimbang. Penyusun fraksi padat terdiri dari asam lemak jenuh antara lain asam miristat ( 1% ), asam palmitat ( 45% ) dan asam stearat. Sedangkan fraksi cair terdiri dari asam lemak tidak jenuh yang terdiri dari asam oleat  ( 39% ) dan asam linoleat ( 11% ) ( ketaren 1986 )
            Kandungan utama minyak sawit kasar adalah trigliserida ( 94% ), digliserida ( 2% ), sedikit  monogliserida, asam lemak bebas ( 3-5% ) dan komponen minor ( 1% ). Komponen minor ini terdiri dari karotenoid, tokoferol, sterol, fosfolipida, gliposida, hidrokarbon, lilin, dan berbagai kotoran ( Gob, dkk,. Dalam vallent, 1996 )

2.2       Asam Lemak Bebas
            Sebagian asam lemak tidak bergabung dengan molekul gliserol pada minyak atau lemak yang dikenal dengan Asam Lemak Bebas. Crude Palm Oil mengandung 3-5 % asam lemak bebas. Lemak dan minyak yang telah dimurnikan yang siap untuk dikonsumsi memiliki asam lemak bebas < 0,05 % ( cadenas 2002 )
            Asam lemak bebas tidak hanya dapat melarutkan ion-ion logam yang mengkatalisis oksidasi sehingga menurunkan stabilitas minyak, tetapi juga mengubah komposisi gliserida minyak sehingga mempengaruhi sifat fisik ddan kimia minyak, ( pathak, 2005 )
            Kenaikan asam lemak bebas mempermudah  proses oksidasi berantai dan pembentukan senyawa peroksida, aldehida, keton dan polimer. Oksidasi berantai menyebabkan penguraian konstituen aroma, flavor dan vitamin. Pembentukan senyawa seperti peroksida.  Aldehida dan keton menyebabkan bau tengik, pencoklatan minyak dan kemungkinan menimbulkan keracunan ( ketoren, 2005 dalam yernisa , 2013 )

2.3       Pemurnian CPO
            Permurnian minyak sawit merah secara konvensional meliputi, pemisahan gum (degumming), pemisahan  asam lemak bebas ( deasidifikasi ), pemucatan ( bleaching ) dan penghilangan bau ( deodorisasi ). Tahap terakhir yaitu fraksinisasi yang merupakan bagian dari pemurnian sawit hasil ekstraksi. Fraksinisasi merupakan proses pemisahan fraksi cair ( olein ) dan fraksi padat ( stearin ) dari minyak dengan winterisasi, proses pemisahan bagian gliserida jenuh atau bertitik cair tinggi dari trigliserida bertitik cair rendah dengan cara pendinginan ( chilling ) hingga suhu 5-7°c (ketaen, 1986 )

2.4       Netralisasi ( Deasidifikasi )
            Deasidifikasi adalah proses pemisahan asam lemak bebas dalam minyak sawit kasar. Deasidifikasi dapat dilakukan dengan metode kimia, fisik, micella, biologis, reesterifikasi, ekstraksi pelarut, supercrifikal, dan teknologi membran. Deasidifikasi secara kimia dilakukan dengan basa sehingga membentuk sabun ( soapstock ). Alkali yang biasa digunakan adalah NaOH, proses ini dikenal dengan istilah “ caustic deacification “ ( yernisa, 2013 )
            2.4.1    Proses netralisasi
Netralisasi melalui proses kimia dengan alkali, saat ini yang paling umum digunakan adalah  denga melarutkan soda kaustik. Reaksinya adalah reaksi penyabunan yang terbentuk dari asam lemak bebas. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan kotoran seperti  fosfatida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi ( yernisa, 2013 )
Proses deasidifikasi dilakukan dengan menggunakan larutan sodium hidroksida, dimana minyak dimasukkan ke dalam tangki kemudian dicampur dengan larutan sodium hidroksida ( konsentrasinya tergantung kadar asam lemak bebas dalam minyak mentah ) pada suhu 70-80°c selama 1-15 menit. Selanjutnya disentrifus untuk memisahkan sabun kemudian dicuci dengan air untuk menghilangkan sisa sabun ( yernisa, 2013 )


2.5       Alkali ( NaOH )
            Konsentrasi larutan alkali untuk netralisasi biasa dinyatakan dengan  “ derajat Baume ( °Be ). Konsentrasi bahan kimia yang digunakan dalam netralisasi tergantung pada jumlah asam lemak bebas,  makin besar jumlah lemak asam bebas, makin besar pula konsentrasi bahan kimia yang digunakan. Total penambahan alkali didasarkan pada jumlah alkali secara teori untuk menetralkan asam lemak bebas ditambah alkali berlebih ( excess ) untuk menghilangkan kotoran-kotoran lainnya. Jumlah excess alkali minimum harus digunakan sehingga penyabunan minyak netral dapat diminimalkan . untuk minyak dengan kandungan asam lemak bebas yang rendah lebih baik dinetralkan dengan alkali  encer ( konsentrasi lebih kecil dari 0,15 N atau 5° Be ), sedangkan asam lemak bebas dengan kadar tinggi, lebih baik dinetralkan dengan larutan alkali  10-24 ° Be ( yernisa, 2013 )









BAB III
METODOLOGI

3.1       Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 12 Mei 2017 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Analisi Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.
3.2       Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pratikum ini yaitu, biunet, Erlenmeyer, penangas air, hotplate, timbangan, gelas piala, batang pengaduk, pipet tetes, sentrifus, thermometer, dan tabung reaksi. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu, CPO yang telah melewati proses degumming, alcohol 95% netral, aquades, NaOH o,1 N dan NaOH 16° Be serta indicator PP.
3.3       Prosedur Kerja
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Netralisasi CPO dilakukan melalui beberapa tahap yaitu :
            3.3.1    Penentuan Asam Lemak Bebas ( ALB )
                         Ditimbang CPO sebanyak 7,05 gram contoh, kemudian dilarutkan dalam 50 ml alcohol 95% netral. Selanjutnya dipanaskan selama 10 menit sambil diaduk. Kemudian ditambahkan 4 tetess indicator PP dan difitrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N hingga minyak berubah warna menjadi merah muda. Dihitung volume NaOH terpakai untuk digunakan pada perhitungan ALB. Dilakukan perhitungan ALB dengan rumus :
            ALB (%) = BM . V . N / Berat Sampel . 10

            3.3.2    Kebutuhan NaOH 16° Be
                        Kadar (%) ALB yang diperoleh dijadikan basis untuk menghitung jumlah ALB dalam sampel. Ditimbang jumlah sampel yang akan ditentukan jumlah ALB nya, yaitu
                                    Jumlah ALB (g) = % ALB . Berat sampel (g)
Setelah diketahui jumlah ALB dalam sampel, dimana jumlah tersebut satara dengan NaOH yang dibutuhkan. Dari jumlah NaOH dibutuhkan, ditambahkan dengan excess 17,5 %.
            3.3.3    Netralisasi
                        Dipanaskan CPO sambil diaduk hinggan suhu 61°. Ditambahkan nNaOH 16° Be sambil tetap diaduk selama 15 menit. Didiamkan minyak selama 2 menit. Selanjutnya disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm, pada suhu 55° c selama 2 menit, dan dipisahkan antara minyak dan endapan. Diambil beberapa ml minyak untuk ditambahkan air panas 10% dari minyak dengan suhu t 8°c diatas suhu minyak. Kemudian disentrifugasi kembali dengan kecepatan 4000 rpm selama 2 menit . selanjutnya dipisahkan antara air dan minyak. Jika endapan yang dihasilkan sedikit maka tidak dilakukan penambahan air panas pada semua minyak, agar meminimalisir kesalahan dan kerusakan minyak oleh air.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Hasil Netralisasi CPO
Perlakuan
Berat Awal
 (g)
ALB
(%)
ENaOH
(g)
Berat Akhir
(g)
Rendeman
(%)
Perebusan
Pengukusan
566,9
485
4,58
5,99
42,53
46,78
485
395
85,55
81,65

              NaOH yang terpakai pada saat titrasi
            Perebusan        :          12,6 ml
            Pengukusan     :          16,5 ml           

4.2       Pembahasan
            Deasidifikasi dilakukan setelah proses degumming yaitu penghilanga gum, sedangkan deasidifikasi untuk memisahkan asam lemak bebas yang terbentuk oleh enzim, mikroba, uap air dan oksigen pasca panen sawit. Asam lemak bebas harus dihilangkan dari minyak, Karena dapat menyebabkan ketengikan pada minyak sawit hingga pencoklatan minyak dan memungkinkan menimbulkan keracunan.
-          Cara netralisasi dengan metode kimia
            Pratikum ini, dilakukan netralisasi melalui proses kimia dengan alkali. Reaksinya adalah reaksi penyabunan yang terbentuk dari asam lemak bebas. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan kotoran seperti fosfafida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang terbentuk dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi.
            Tahap awal proses netralisasi yaitu penentuan asam lemak bebas, yeitu dengan melakukan titrasi pada CPO. Dari hasil perhitungan, perlakuan perebusan menghasilkan asam lemak bebas  lebih kecil daripada perlakuan pengukusan, yaitu 4,5 % dan pengukusan 5,99 %. Titrasi menggunakan NaOH sehingga dapat diukur seberapa banyak NaOH yang digunakan untuk menghidrolisis ALB pada minyak dan karena telah ditambah indikator PP sehingga perubahan dapat dilihat dengan perubahan warna menjadi merah muda pada larutan.
            Proses selanjutnya yaitu, hasil pengukuran kadar ALB  pada CPO digunakan untuk menghitung jumlah NaOH yang akan digunakan dalam proses netralisasi. Jika diamati , semakin tinggi kadar ALB pada minyak maka jumlah NaOH yang digunakan tentu akan semakin banyak. Dalam hal ini dilakukan penambahan excess sebanyak 17,5 %. Ini dikarenakan pada prinsipnya NaOH yang digunakan untuk menetralkan ALB dan dibuat berlebih yang bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran lainnya. Netralisasi yang baik bergantung pada penggunaan NaOH yang tepat, pengadukan yang tepat, temperatur yang tepat, waktu kontak yang cukup dan pemisahan yang efisien. Jika tidak maka beberapa gliserida akan tersabunkan dan mengakibatkan peningkatan retning less. Suhu yang digunakan yaitu 61°c, suhu harus tepat agar sabun yang terbentuk dalam minyak mengendap dengan kompak dan cepat.
            Kemudian tahap berikutnya yaitu disentrifugasi selama 2 menit, selama 2 menit proses ini berlangsung sehinga minyak berada diatas dan terpisah dari endapan/pengotor. Dilakukan uji coba dengan melarutkan sedikit minyak dengan air panas, yang suhunya 8° diatas suhu CPO, kemudian disentrifugasi kembali. Karena hasil yang diperoleh tidak banyak menghasilkan endapan, maka tidak dilakukan penambahan air panas agar meminimalkan kegagalan selama proses pemisahan dengan air yang menyebabkan minyak terhidrolisis dan menghasilkan ALB yang lebih banyak. Adapun penambahan air bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa sabun.
-          Rendama minyak sawit
            Hasil perhitungan rendaman minyak hasil netralisasi, diperoleh hasil bahwa rendeman minyak pada perlakuan perebusan lebih besar dari pada perlakuan pengukusan, yaitu 85,5% dan pada pengukusan 81,65%. Hal ini dikarenakan jumlah ALB pada  perlakuana pengukusan lebih besar yaitu 5,99%. Jumlah ALB dipengaruhi oleh penanganan pasca panen, proses perlakuan pendahuluan, penyimpanan minyak, dsb. Serta rendeman dipengaruhi oleh proses penyabunan, proses pengendapan yang lama akan memperbesar kehilangan minyak, sebab sebagian minyak akan diserap sabun.
Menurut yernisa (2013) minyak yang telah dimurnikan dengan baik memiliki kandungan  ALB sebesar 0,1 % dan tergantung pada penggunaannya lebih lanjut. Minyak dengan bilangan asam yang rendah disebut minyak netral.





BAB V
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
            Kesimpulan yang diperoleh dari pratikum ini yaitu, cara netralisasi pda CPO berupa tahap perhitungan ALB, perhitungan kebutuhan NaOH 16° Be, dan neteralisasi. NaOH berfungsi untuk mengikat dan mengendapkan asam lemak bebas sehingga dapat dipisahkan dari minyak. Semakin besar ALB pada CPO maka semakin besar konsentrasi NaOH yang dibutuhkan pada titrasi. Rendeman minyak pada perlakuan perebusan lebih besar dari perlakuan pengukusan yaitu, 85,55 % pada perebusan dan 81,65 % pada pengukusan.

5.2       Saran
Sebaiknya setelah dilakukan netralisasi dilakukan perhitungan ALB kembali.






DAFTAR PUSTAKA

Cadena E,       packer             L. 2002.          Handbook _of_Antioxidant. Ed ke-2
Ketaren S. 1986 . Pengantar minyak dan lemak pangan. 211 press. Jakarta
Pathak MP. 2005. Qualim of CPO dan Refining Operations. Proceedings  of Chemistry and         Technology Conference-International Palm Oil Congress. Malaysian 25-29 september   2005. Malaysia : MPOB. Halm 426-430
Vallent, S . 1996. Formulasi Produk Emulsi Kaya Beka Karoren Dari Minyak Sawit Merah.                      [ Skripsi ] . IPB . Bogor
Yernisa . 2013 . Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit . Fakultas Teknologi Pertanian . Universitas                         Jambi. Jambi.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum | Netralisasi CPO"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!