loading...

Evaluasi Nilai Secara Invivo Matode Pertumbuhan

LAPORAN PRAKTIKUM
EVALUASI BIOLOGIS KOMPONEN PANGAN
EVALUASI NILAI SECARA INVIVO MATODE PERTUMBUHAN









Oleh :
Muhammad Wasil
J1A114013








TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016








BAB 1
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
      Protein merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dengan porsin yang cukup besar di samping zat gizi lain, seperti karbohidrat keberagaman protein terdapat berbagai bahan pangan baik hewani , maupun nabati.  
    Protein cukup banyak trgantung dati bahan pangan hewani dengan cara yang lebih baik, dibandingkan protein pada bahan pangan nabati. Namun, terdapat juga bahan pangan nabati yang serat akan kandungan protein yang lengkap, seperti kedelai.
     Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengetahui mutu dari protein yang berasal dari sumber tertentu pertumbuhan adalah salah satu indikator dari pemanfaatan protein secara optimal . kecepatan pertumbuhan suatu bintang percobaan dalam kondisi tertentu dapat dipakai sebagai akutan untuk kualitas suatu protein makanan(nia,1985) pen dan nph adalah metode yang dapat digunakan untuk mengetahui mutu protein terkai dengan pertumbuhan yang ditunjukan dan hewan percobaan.

1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian ransum terhadap nilai gizi brotein dengan perhitungan PER dan NPH.
2. Menghitung nilai TD, BT dan NPH dalam pemberian ransum menggunakan data sekunder.













BAB II
TUJUAN PUSTAKA

2.1 Tikus Percobaan
Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih dengan nama ilmiah Rattus novergicus. Tikus putih (Rattus norvegicus) banyak digunakan sebagai hewan coba karena mempunyai respon yang cepat serta dapat memberikan gambaran secara ilmiah yang mungkin terjadi pada manusia maupun hewan lain. Dalam kode etik penelitian kesehatan dicantumkan bahwa salah satu prinsip dasar riset biomedis dimana manusia sebagai subjek harus memenuhi prinsip ilmiah yang telah diakui dan harus didasarkan atas eksperimen laboratorium dan hewan percobaan yang memadai serta berdasarkan pengetahuan yang lengkap dari literatur ilmiah (Herlinda, 1999).
Temperatur 19oC hingga 23oC dengan kelembaban 40-70% merupakan temperatur yang cocok untuk habitat tikus yang juga tergolong dalam hewan nokturnal (Wolfenshon dan Lloyd, 2013). Wolfenshon and Lloyd (2013) menyatakan bahwa berat tikus jantan dewasa yaitu 450-520 gram sedangkan berat 250-300 gram berlaku pada tikus betina. Tikus jantan lebih berat dibanding tikus betina pada semua kelompok umur serta terjadinya perubahan bobot organ (ginjal, hati, paru, dan limpa), nilai hematologi, nilai biokimia darah (AST dan ALT) seiring dengan bertambahnya umur tikus (Marice and Sulistyowati, 2011).

2.2 Protein
Protein dibuat dari satu atau lebih rantai polipeptida yang terdiri dari banyak asamamino yang dihubungkan oleh rantai peptida. Berat molekul protein bervariasi mulaidari 5000 hingga satu juta atau lebih. Semua protein, tanpa memperhatikan fungsi ataujenis dari sumbernya dibuat dari dua puluh asam amino, yang disusun dari rangkaianyang bervariasi ( Lehninger, 1976).
Sumber protein di dalam makanan dapat dibedakan atas dua sumber yaituprotein hewani dan nabati. Oleh karena struktur fisik dan kimia protein hewani samadengan yang dijumpai pada tubuh manusia, maka protein yang berasal dari hewanmengandung semua asam amino dalam jumlah yang cukup membentuk danmemperbaiki jaringan tubuh manusia. Kecuali pada kedelai, semua pangan nabatimempunyai protein dengan mutu yang lebih rendah dibandingkan hewani (AgusKrisno Budianto, 2009).
Beberapa makanan sumber protein ialah daging, telur, susu, ikan, beras,kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah – buahan. Beberapa makanan yangmengandung protein serta kadar proteinnya dapat dilihat pada tabel (Anna poedjiadi,1994).
 2.3 Teknik Evaluasi Nilai Gizi Protein Invivo
Metode invivo secara biologis menggunakan hewan percobaan, salah satu hewan yang biasa digunakan yaitu tikus putih. Parameter yang ditetapkan dalam evaluasi nilai suatu protein secara biologis hewan lain PER,BV, dan NPU.















BAB III
METODOLOGI
3.1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam pratikum ini terdiri dari kandang pemeliharaan, neraca analitik, plastik saringan ton.
3.2. Bahan
Bahan- bahan yang digunakan adalah tepung kasen, tapung tampe, minyak nabati, selulosa (carboxy metil collulose) sebagai sumber serat, air, vitamin, campuran mineral dan maizena sebagai sumber karbohidrat (pati). Air minum tikus adalah air putih dan sebagai panakuan digunakan air sucang.
3.3. Prosedur Kerja
Persiapan ransum meliput melakukan perhitungan ransum, salat, kasan, tepung tempe, pati minyak, air dan mineral ditimbang, dicampir, timbang 12g, masukkan kodim kantong plastik.pemberian ransum meliputi persiapan tikus, penimbanaan awal, amati pertambahan barat tikus dn sisa ransum, timbangan barat ahur, dihitung kenaikan berat badan, dihitung nilai PER dan NPR.
Buatlah grafiknya dan hitung dengan rumus













BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
     Tabel Non Protein
groub
BB
Awal
(gr)
BB
Akhir
(gr)
Kenaikan
BB
Total
Konsumsi
(9/28 hari)
Totala asupan protein (9/28 hari)
Fcg
(%)
PER
NPR
A2
40
29
-11
110,71
11,071



A3
43
26
-17
87,34
8,734



A4
40
31
-9
112,3
11,23



A6
42
30
-12
120,68
12,008



A8
40
29
-11
100,5
10,050



rataan
41
29
-12
106,306
11,1966




Tabel Protein Standar
   
groub
BB
Awal
(gr)
BB
Akhir
(gr)
Kenaikan
BB
Total
Konsumsi
(9/28 hari)
Totala asupan protein (9/28 hari)
Fcg
(%)
PER
NPR
B2
42
125
83
353,44
35,344
23,48348
2,34834
2,03712
B3
35
110
75
295,98
29,598
25,33955
2,53395
1,95959
B4
36
110
74
287,77
28,727
25,75974
2,57597
2,26218
B6
39
116
77
314,8
31,48
24,45917
2,44599
2,06480
B7
40
107
67
274,6
27,46
24,39913
2,43991
2,0393
rataan
38,4
113,4
75,2
305,218
30,5218
24,68837
2,46888
307270










Tabel Sampul 1
    
groub
BB
Awal
(gr)
BB
Akhir
(gr)
Kenaikan
BB
Total
Konsumsi
(9/28 hari)
Totala asupan protein (9/28 hari)
FCE
(%)
PER
NPR
C2
44
111
67
294,63
29,463
22,74039
2,27403
1,90068
C3
48
114
66
296,9
29,69
22,22971
2,22297
1,65038
C5
48
114
66
258,24
28,824
22,89759
2,28975
1,97751
C7
49
107
55
266,9
26,69
21,73099
2,17307
1,72349
C8
51
105
54
328,58
32,858
16,43435
1,64343
1,30866
rataan
48
110,2
62
295,05
29,505
21,2066
21,12066
1,71215

TABEL SAMPUL 2
groub
BB
Awal
(gr)
BB
Akhir
(gr)
Kenaikan
BB
Total
Konsumsi
(9/28 hari)
Totala asupan protein (9/28 hari)
FCE
(%)
PER
NPR
D1
49
110
61
293,78
29,378
20,76384
307638
1,70195
D2
49
109
60
292,1
29,21
20,5491
2,05409
1,47209
D4
54
110
56
279,9
27,99
20,00715
2,00071
1,67017
D7
61
124
63
325,14
32,514
19,37617
1,93763
1,56855
D8
61
124
63
311,78
31,178
20,20654
2,02065
1,66784
rataan
54,8
115,4
300,54
30,054
20,17894
2,01789
2,01789
1,61792


4.2. Pembahasan
  Uji biologis merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menilai kualitas protein dari perlakuan yang diberikan uji biologis dilakukan dengan melibatkan penggunaan hewan percobaan dan juga menggunakan manusia. (winarto 2002)
Evaluasi kualitas protein dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain dengan perhitungan PER( protein effciency ratio) NPR( nat protein ratio ) NPU ( nat protein utilization ), dan BV ( biologis vdme)
PER merupakan pengukuran yang biasanya melibatkan penggunaan tikus jantan yang berumur 20 -23 hari . masa percobaan berlangsung selama 2-8 hari.
NPR dikembangkan untuk maniqwab kelemahan yang terdapat pada metode PER. Perbedaan dari kedua metode tersebut dari penambuhan grub non, protein pada NPR serta masa perlakuan 10 hari.
Selama proses percobaan, tikus mengalami perubahan berat badan yang berbeda – beda. Pertumbuhan dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diterima selama percobaan.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
        Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai NPR rata –rata tertinggi diperoleh kelompok tikus STD. Diikuti olah kelompok tikus S OY, kelompok tikus SPL, dan kelompok tikus NON.hasil pengolahan data sekunder M menunjukan masing -masing nilai biologis.

5.2. Saran
        Penelitian harus dilakukan dengan teliti agar hasil yang didapatkan sesuai denagn yang diinginkan dan tidak terjadi perhitungan kembali atau perhitungan berulang – ulang.









DAFTAR PUSTAKA

Nia Ok. 1985. Cara Menetukan Kualitas Protein Suatu Bahan Makanan Cerminan Dunia Kedokteran (37) Pd . 62 -64
Winarto Fg .2002. Kimia Panagn Dan Gizi, Jakarta Gramedia Pustaka Utama.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Evaluasi Nilai Secara Invivo Matode Pertumbuhan"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!