loading...

Laporan Praktikum Pembuatan Serbuk Daun Kopi Kawa || Teknologi Hasil Perkebunan


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu komodita perkebunan di Indonesia yang memiliki peran penting dalam menunjang peningkatan ekspor non migas yaitu kopi. Dalam proses pemeliharaan tanaman kopi, tanaman kopi yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 12 meter perlu dilakukan pemangkasan karena dengan percabangan yang rimbun dan tidak teratur dapat mengakibatkan tanaman mudah tersaring penyakit serta buahnya sedikit dan sulit di panen. Adapun hasil samping dari pemangkasan tersebut salah satunya daun. Daun kopi hasil pemangkasan biasanya hanya terbuang begitu saja dan belum banyak yang memanfaatkan nya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat (Wulandari, 2014).

Serbuk daun kopi merupakan salah satu produk inovasi yang dihasilkan dari proses pengeringan dan penghancuran daun kopi yang merupakan hasil samping dari pemangkasan tanaman kopi. Serbuk daun kopi dapat diseduh yang kemudian disebut teh daun kopi atau di Sumatera Barat disebut dengan kopi kawa daun. Kopi kawa daun merupakan salah satu minuman penyegar yang memiliki rasa dan aroma yang tidak kalah nikmat dengan minuman penyegar lain dan juga memiliki banyak manfaat antara lain menurunkan tekanan darah tinggi, penghangat tubuh terutama untuk penduduk didaerah hawa dingin dan dapat melancarkan sistem saluran pernafasan (Wulandari, 2004).

1.2 Tujuan
Tujuan pada praktikum ini adalah :
  1. Untuk mengetahui cara pembuatan serbuk daun kopi.
  2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembuatan serbuk daun kopi.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kopi
Tanaman kopi termasuk dalam golongan family Rubiaceae yang mempunyai 500 macam genus dan lebih dari 6000 spesies. Ciri dari tanaman kopi adalah batang tumbuh tegak, bercabang, dan dapat mencapai 12 meter (Najiati dan Danarti, 2004). Kopi berasal dari Afrika, yaitu daerah pegunungan di Etiopia. Namun, kopi sendiri baru dikenal oleh masyarakat dunia setelah tanaman tersebut dikembangkan diluar daerah awalnya, yaityu Yaman di bagian selatan Arab, melalui para saudagar Arab (Rahardjo, 2012).

Didunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling dibudidayakan hanya kopi arabika, kopi robusta dan liberika. Pada umumnya, penggolongan kopi berdasarkan spesies karena kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi terutama Coffea canephora (Najiati dan Danarti, 2004).

Adapun sistematika tanaman kopi robusta menurut Rahardjo (2012) adalah sebagai berikut:
  • Kingdom: Plantae
  • Sub kingdom: Tracheobionita
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Sub Kelas: Astridae
  • Ordo: Rubiaceae
  • Genus: Coffea
  • Spesies: Coffea Robusta

2.2  Daun kopi
Daun kopi memiliki bentuk yaitu bentuk bulat telur dengan bagian ujung yang agak meruncing sampai bulat. Daun tersebut tumbuh pada batang, cabang dan ranting yang tersusun dalam berdampingan, pada batang atau cabang yang tumbuh tegak lurus dan susunan pasangan daun berselang-seling. Adapun perbedaaan besar kecil dan tebal tipisnya dan sangat dipengaruhi oleh jenisnya. Daun dewasa berwarna hijau tua, sedangkan daun yang masih muda berwarna coklat. Daun memiliki umur rata-rata yaitu satu tahun dan setelah itu berguguran satu demi satu (Hotmanulita, 2012).

Menurut Khotimah (2012), kandungan kimia yang terdapat pada daun kopi adalah kafein alkaloida, flavonoid, dan polifenol yang banyak tergatung pada daun kopi yang berumur dibawah enam bulan.

2.3 Kopi Kawa
Kopi kawa merupakan minuman yang dihasilkan dari proses perebusan air daun kopi asli. Pembuatan kopi kawa dimulai dari tahapan pengeringan daun kopi. Daun kopi dikeringkan dengan cara pengasapan, lamanya relatif tergantung pada kondisi daun yang diasapkan atau setidaknya hingga daun sudah benar-benar kering. Selanjutnya daun kopi yang telah dikeringkan direbus dengan menggunakan air sesuai takaran dan kebutuhan. Setelah air mendidih, air rebusan daun kopi dalam wadah akan berubah warna seperti teh (Sair, 2012).

Kelebihan dari air kawa dibanding kopi yang biasanya dadalah kandungan kafeinnya yang lebih rendah sehingga tidak membuat orang yang mengkonsumsinya terserang insomnia, disamping itu air kawa juga memiliki antioksidan yang tinggi (Amir, 2013).

Proses pembuatan teh daun kopi (kopi kawa) dilakukan dengan beberapa tahapan  yaitu proses pelayuan, pengeringan pertama, pengeringan kedua, penghancuran, pengayakan hingga diperoleh serbuk daun kopi (kopi kawa) (Setiawan, 2002).

BAB III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 28 Februari 2017 pukul 08.00 WIB – 10.00 WIB di Laboratorium Analisis Pengolahan Hasil pertanian Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu oven, loyang, baskom, blender, ayakan, timbangan, kompor, spatula, dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu daun kopi campuran antara muda (1,2,3 daun dari pucuk), daun sedang (4,5,6 daun dari pucuk) dan daun tua (7,8,9 dari pucuk) dan plastik.

3.3 Prosedur Kerja
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, disortasi daun kopi dan dibuang daun kopi yang rusak. Ditimbang daun kopi sebanyak 500 gram (50% daun muda, 30% daun sedang, dan 20% daun tua). Kemudian daun kopi tersebut dikukus menggunakan kukusan selama 2 menit. Digulung daun kopi yang telah dikukus dan disusun di atas loyang. Dikeringkan daun kopi yang telah digulung menggunakan oven selama 30 menit dengan suhu 110oC untuk pengeringan pertama. Kemudian setelah pengeringan pertama, daun dikeluarkan dari oven dan dibalik agar daun kering merata. Selanjutnya dikeringkan kembali daun dalam oven selama 80 menit suhu 80oC. Dihancurkan daun kopi yang telah kering sempurna menggunakan blender dan diayak untuk mendapatkan serbuk daun kopi yang halus. Dimasukkan serbuk daun kopin kedalam plastik dan ditimbang kembali. Dihitung rendemen yang diperoleh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pembuatan Serbuk Daun Kopi Kawa


4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini dibuat produk yaitu serbuk daun kopi. Jenis daun kopi yang digunakan dalam pembuatan serbuk daun kopi yaitu daun kopi muda (1,2,3 daun dari pucuk), daun sedang (4,5,6 daun dari pucuk) dan daun tua (7,8,9 dari pucuk) dan daun kopi campuran antara daun muda, daun sedang, dan daun tua. Adapun tahapan-tahapan daklam pembuatan serbuk daun kopi yaitu pemetikan, pelayuan, penggulungan, pengeringan I, pengeringan II, dan penghancuran.

Tahapan pertama adalah proses pemetikan. Pemetikan bertujuan untuk memetik daun-daun yang dapat digunakan untuk pengolahan yaitu daun yang baik dan tidak rusak. Dari sistem pemetikan yang dilakukan dapat mempengaruhi antara lain mutu bubuk yang dihasikan, jumlah produksi, waktu pemetikan selanjutnya, dan perkembangan pertumbuhanitu sendiri. Umur dari daun yang dipanen mempengaruhi flavour dan jumlah rendemen yang dihasilkan. Menurut Soehardjo (1996), daun muda akan menghasilkan rendemen yang sedikit namun dengan seduhan dan flavuour yang baik, sedangkan jika daun tua akan menghasilkan rendemen lebih banyak namun dengan flavour yang kurang khas.

Tahapan kedua yaitu proses pelayuan. Proses pelayuan berfungsi untuk menghilangkan kadar air dan memudahkan dalam proses penggulungan. Proses pelayuan dilakukan dengan mengukus daun selama ± 2 menit. Dari proses pelayuan, daun akan mengalami perubahan warna yaitu kekuningan, menjadi lentur, tidak mengering serta menurunnya kadar air.

Tahapan ketiga yaitu proses pengeringan. Proses pengeringan dilakukan menjadi 2 tahap yaitu pengeringan perytama dan pengeringan kedua. Pengeringan pertama dilakuakan selama 30 menit dengan suhu 110oC . dari proses pengeringan pertama, akan dilakukan proses pembalikan dengan tujuan agar semua bagian dapat kering merata pada saat pengeringan kedua dilakukan yaitu pada suhu 80oC selam 80 menit.

Tahapan terakhir dalam proses pembuatan serbuk daun kopi yaitu proses penghancuran. Proses penghancuran bertujuan untuk mendapatkan serbuk yang lebih halus dan memudahkan dalam proses penyeduhan.

Dari proses yang telah dilakukan, dihitung rendemen yang dihasilkan. Jumlah rendemen yang dihasilkan berbeda-beda sesuai dengan jenis daun yang digunakan. Semakin tua daun maka semakin tinggi rendemen yang dihasilkan. Namun, pada tabel hasil diketahui bahwa hasil rendemen dari serbuk daun kopi yang berasal dari daun sedang lebih tinggi dibandingkan dari rendemen dari serbuk daun kopi yang dihasilkan dari daun tua. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena adanya kesalahan dari proses pemetikan daun yang dilakukan, seperti bercampurnya daun antara daun sedang dan daun tua. Selain itu dapat pula dikarenakan lamanya waktu setelah pemetikan sebelum proses pengolahan dilakukan sehingga daun menjadi layu dan menyebabkan rendemen yang dihasilkan lebih tinggi.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang di lakukan dapat disimpulkan yaitu dalam proses pembuatan serbuk daun kopi beberapa tahapan yang perlu dilakukan pemetikan, pelayuan, penggulungan, pengeringan, dan penghancuran. Adapun prinsip dalam pembuatan serbuk daun kopi yaitu proses penggulungan dan pengeringan sehingga diperoleh serbuk kopi yang sesuai dengan yang diinginkan. Rendemen tertinggi terdapat pada serbuk daun kopi sedang (4,5,6 daun dari pucuk) sebanyak 43,6% dan rendemen terendah terdapat pada serbuk daun kopi muda (1,2,3 daun dari pucuk) sebanyak 20,44%.

5.2 Saran
Ada baiknya apabila literatur yang digunakan lebih banyak dan lengkap sehingga informasi yang diperoleh lebih lengkap dan memadai.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Jambi tourism consortium. http://wisata jambi.co.id diakses 19.00 WIB, 25 Februari 2017

Hotmarulita, F. 2012. Studi Pembuatan Teh Daun Kopi. [Skripsi] Universitas Sumatera Utara

Khotimah, K. 2012. Studi Pembuatan Teh Daun Kopi Universitas Sumatera Utara. Medan

Najiati Sri, dan Danarti. 1994. Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Kopi. Penebar Swadaya. Jakarta

Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Penebar Swadaya. Jakarta

Sair, R. 2012. Kawa Sabana Kadam. http://kopi kawa.co.id diakses 20.00 WIB pada tanggal 25 Februari 2017

Setiawan, S.A. 2012. Mempelajari Pengaruh Lama Pelayuan dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas Teh Daun Jambi Biji (Psidium guajava). [skripsi], Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, Medan

Wulandari, A. 2014. Aktivitas Antioksidan dan Kombuca Daun Kopi dengan Variasi Lama Fermentasi dan Konsentrasi Ekstrak. Jurnal Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhamadiyah Surakarta. Jawa Tengah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum Pembuatan Serbuk Daun Kopi Kawa || Teknologi Hasil Perkebunan"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!