loading...

Laporan Praktikum : Evaluasi Nilai Gizi Protein Metode Pertumbuhan (FCE, PER, NPR)

LAPORAN PRAKTIKUM
EVALUASI BIOLOGIS KOMPONEN PANGAN
Evaluasi Nilai Gizi Protein Metode Pertumbuhan ( FCE, PER, NPR )







Disusun oleh:
Umi Fajaryati


TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Nilai gizi protein pada makanan tidak hanya ditentukan berdasarkan kadar protein yang terkandung didalam makanan tetapi juga ditentukan oleh daya cerna yang menentukan ketersediaan asam-asam amino secara biologis atau dapat/tidaknya zat gizi tersebut digunakan oleh tubuh. Sifat dan mutu protein sebagai zat makanan tergantung pada macam serta banyaknya asam-asam amino yang menyusun protein tersebut. Maka dari itu, dikenal- lah suatu teknik evaluasi nilai gizi protein.
Evaluasi nilaigizi protein dapat dilakukan dengan metode in vitro (secara kimia, mikrobiologis, atau enzimatis) maupun metode in vivo dengan menggunakan hewan percobaan, yang pada penelitian ini menggunakan tikus putih. Secara biokimia, proses pertumbuhan merupakan suatu petunjuk terjadinya biosintesis protein jaringan. Kebutuhan akan asam amino untuk sintesis protein tubuhnya harus didapat dari luar sebagai makanan.

1.2  Tujuan
Untuk mengetahui metode pertumbuhan dengan cara menghitung nilai FCE, PER, NPR



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Protein
            Istilah protein berasal dari bahasa Yunani Proteos yang berarti utama atau yang didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh seorang ahli Belanda, Gerardus Mulder (1802-1880). Mulder mengisolasi susunan tubuh yanng mengandung nitrogen dan menamakannya protein. Protein terdiri dari satuan dasarnya yaitu asam amino (biasa disebut juga dengan unit pembangunan protein) (Almatsier,2003).
            Protein adalah bagian dari semua dari sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Semua enzim, zat pembawa dalam darah, matriks, intraselluler dan sebagian besar hormon tersusun atas protein. Dalam membentuk protein jaringan dibutuhkan sejumlah asam amino dan tergantung pada macam asam amino sesuai dengan jaringan yang akan dibentuk. Asam amino ini didapat dari makanan sesudah diserap melalui darah dan sebagian disintesa dalam tubuh atau merupakan hasil katabolisme atau perombakan dari protein yang sudah rusak (Auliana, 1999).
2.2 Teknik Evaluasi Mutu Biologis Protein
            Nilai gizi protein adalah mutu ukuran yang menunjukkan seberapa banyak dan lengkap asam-asam aminon esensial dalam protein yang dimakan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pada prinsipnya suatu protein yang dapat menyediakan asam amino esensial dalam suatu perbandingan yang menyamai kebutuhan manusia mempunyai nilai yang tinggi (Winarno, 1997).
            Nilai gizi protein pada makanan tidak hanya yang ditentukan berdasarkan kadar protein yang terkandung di dalam makanan, tetapi juga ditentukan oleh daya cerna yang menentukan ketersediaan asam-asam amino secara biologis atau dapat atau tidaknya zat gizi tersebut digunakan oleh tubuh. Tidak semua protein dalam bahan pangan yang dikonsumsi dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan menjadi asam-asam amino. Dalam bentuk asam aminolah protein dari susunan makanan dapat dimanfaatkan oleh tubuh (Winarno, 1997).
            Suatu cara penilaian untuk mengetahui avaibilitas protein dalam tubuh ini disebut teknik evaluasi protein. Sacara garis besar, metode evaluasi mutu gizi protein di golongkan menjadi 2 macam. Kedua metode tersebut yaitu metode secara in vivo (secara kimia, mkrobiologis atau enzimatis) dan metode secara in vivo (secara biologis menggunakan hewan percobaan secara utuh, termasuk manusia (Muchtadi, 2010).
            Teknik evaluasi yang mendekati pada keadaan yang sebenarnya dilakukan secara in vivo dengan menggunakan hewan percobaan. Metode yang digunakan tentu harus dapat mengevaluasi kemampuan metabolisme suatu protein sebagaimana fungsinya, yaitu dapat meningkatkan sintesis jaringan tubuh serta memelihara jaringan dan fungsi tubuh (Muchtadi, 2010).
            Beberapa parameter dalam evaluasi mutu biologis protein antara lain: Protein Efecienci Ratio (PER), Net Protein Ratio (NPR), Feed conversion Efeciency (FCE), True Digestibility (TD), Biological Value (BV), dan Net Protein Utilization (NPR) (Muchtadi, 2010).
2.3 Protein Efeciency Ratio (PER)
PER menunjukkan kemanfaatan protein dalam pembantukan jaringan, karena penentuan nilai PER menggunakan data berat badan subjek yang mengkonsumsi pangan sumber protein. Analisis PER dilakukan dengan mengolah data perubahan berat badan dari hewan uji, dan jumlah pakan yang dikonsumsi digunakan untuk menetapkan nilai PER pakan yang dianalisis mutu proteinnya (Muchtadi, 1989).
2.4 Net Protein Ratio (NPR)
          NPR bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah tertentu yang terdapat pada PER. Dalam penentuan NPR, baik ransum maupun persyaratan tikus yang digunakan, harus sama dengan yang terdapat pada penentuan PER. Bedanya adalah NPR ditambahkan 1 grup tikus yang diberi ransum non protein dan percobaan dilakukan selama 10 hari (Muchtadi,1989).
2.5 Feed Coversion Efeciency (FCE)
            Menurut Permadi (2011) penentuan nilai FCE yaitu dengan pengujian selama 28 hari. Nilai FCE diperlukan untuk semua kelompok tikus percobaan.



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu, 9 November 2016 pukul 07.30-09.10 WIB di Ruang  T103 Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.
3.2 Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan yaitu pena, penggaris, kalkulator, kertas double polio dan data hasil pengamatan.
3.3 Prosedur Kerja
            Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dihitung kenaikan rata-rata berat badan tiap kelompok. Dihitung berapa total konsumsi tiap kelompok. Kemudian dibuat grafik pertumbuhan dari keempat kelompok. Dihitung nilai FCE, PER dan NPR dengan rumus:




Kemudian dibuat grafik perbandingan nilai FCE, PER dan NPR antara kelompok tikus yang diberi protein standar, sampe 1 dan sampel 2. Serta dibuat grafik pertumbuhan dari masing-masing sampel.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan tikus non-protein
Groups
BB awal
(gram)
BB akhir
(gram)
Kenaikan BB
(gram)
Total konsumsi
(g/29 days)
Total asupan protein
(g/29 days)
A2
40
29
-11
110,71
11,071
A3
43
26
-17
87,34
8,734
A4
40
31
-9
112,3
11,23
A6
42
30
-12
120,68
12,068
A8
40
29
-11
100,5
10,05
Rata-rata
41
29
-12
106,306
10,6306

Tabel 2. Hasil pengamatan tikus protein standar
Groups
BB awal
(gram)
BB akhir
(gram)
Kenaikan BB
(gram)
Total konsumsi
(g/29 days)
Total asupan protein
(g/29 days)
FCE
(%)
PER
NPR
B2
42
125
83
353,44
35,344
23,48348
2,34834
2,03712
B3
35
110
75
295,27
29,598
25,33955
2,53395
1,95959
B4
36
110
74
287,27
28,727
25,75974
2,57597
2,26268
B6
39
116
77
314,8
31,48
24,45997
2,44599
2,06480
B7
40
107
67
274,6
27,46
24,39913
2,43991
2,03933
Rata-tara
38,4
113,6
75,2
305,218
30,5218
24,68837
2,46883
2,07270




Tabel 3. Hasil pengamatan tikus sampel 1
Groups
BB awal
(gram)
BB akhir
(gram)
Kenaikan BB
(gram)
Total konsumsi
(g/29 days)
Total asupan protein
(g/29 days)
FCE
(%)
PER
NPR
C2
44
111
67
294,63
29,463
22,74039
2,27403
1,90068
C3
48
114
66
296,9
29,69
22,22971
2,22297
1,65038
C5
48
114
66
288,24
28,824
22,89759
2,28975
1,97751
C7
49
107
58
266,9
26,69
21,73099
2,17309
1,72349
C8
51
105
54
328,58
32,858
16,43435
1,64343
1,30866
Rata-tara
48
110,2
62,2
295,09
29,505
21,2066
2,12066
1,7215

Tabel 4. Hasil pengamatan tikus sampel 2
Groups
BB awal
(gram)
BB akhir
(gram)
Kenaikan BB
(gram)
Total konsumsi
(g/29 days)
Total asupan protein
(g/29 days)
FCE
(%)
PER
NPR
D1
49
110
61
293,78
20,76384
23,48348
2,07638
1,70195
D2
49
109
60
292,1
20,54091
25,33955
2,05409
1,47209
D4
54
110
56
279,9
20,00715
25,75974
2,00071
1,67917
D7
61
124
63
325,14
19,37627
24,45997
1,93763
1,56855
D8
61
124
63
322,52
19,53367
24,39913
1,95336
1,61230
Rata-tara
54,8
115,4
60,6
302,688
20,0444
24,68837
2,00443
1,60681



Grafik 1. Perbandingan nilai FCE, PER dan NPR kelompok tikus protein standar



Grafik 2. Perbandingan nilai FCE, PER dan NPR kelompok tikus sampel 1

Grafik 3. Perbandingan nilai FCE, PER dan NPR kelompok tikus protein sampel 2




Tabel 5. Pertumbuhan tikus non-protein 
Hari
Rata-rata BB tikus
1
41
3
38,6
5
37,2
7
35,2
9
34,6
11
34,2
13
33,8
15
32,2
17
31,8
19
30,4
21
29,8
23
29,2
25
29
27
29,4
29
29


Tabel 6. Pertumbuhan tikus protein standar
Hari
Rata-rata BB tikus
1
38,4
3
43
5
48
7
52
9
60,6
11
67,2
13
74,6
15
78,4
17
83
19
87,2
21
92,2
23
92
25
98,6
27
105,6
29
113,6


Tabel 7. Pertumbuhan tikus sampel 1
Hari
Rata-rata BB tikus
1
48
3
55,8
5
57,4
7
60,6
9
69
11
73,6
13
80,6
15
83,8
17
87,8
19
92,4
21
98
23
100,6
25
103,8
27
109,2
29
110,2

Tabel 8. Pertumbuhan sampel 2
Hari
Rata-rata BB tikus
1
54,8
3
57,4
5
63
7
63,6
9
72,4
11
78
13
85
15
89
17
94,4
19
96,6
21
102,6
23
104,2
25
109,2
27
112,6
29
115,4



Grafik 4. Pertumbuhan kelompok tikus non-protein

Grafik 5. Pertumbuhan kelompok tikus protein standar

Grafik 6. Pertumbuhan kelompok tikus sampel 1

Grafik 7. Pertumbuhan kelompok tikus sampel 2




4.2 Pembahasan
·         Perkembangan berat badan dan Feed Conversion Efeciency (FCE)
Hasil perhitungan pengamatan berat badan tikus dan perbandingan nilai FCE disajikan pada hasil pengamatan. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa setiap kelompok tikus percobaan memiliki profil perkembangan berat badan masing-masing. Kelompok tikus yang mengalami peningkatan berat badan paling tinggi yaitu kelompok tikus yang diberi perlakuan ransum protein  standar, selanjutnya diikuti oleh kelompok tikus yang diberikan perlakuan ransum tempe (sampel 1) yang relatif sama peningkatan berat badannya dengan kelompok tikus yang diberi perlakuan ransum kasein (sampel 2).
Nilai FCE menerangkan korelasi antara perubahan berat tikus terhadap ransum yang dikonsumsi. Semakin tinggi pertmbahan berat badan tikus maka  semakin tinggi nilai PER, hal tersebut menunjukkan bahwa protein yang diberikan digunakan dengan baik untuk pertumbuhan. Sebaliknya penurunan berat badan pada tikus terjadi kerana ransum yang diberikan tidak mengandung protein untuk pertumbuhan jaringan baru, sehingga menyebabkan tidak adanya suplai protein yang membantu pertumbuhan jaringan yang baru pada tikus. Pada ransum non-protein tidak terjadi penambahan berat badan, jadi tentu nilai FCE nya akan bernilai negatif, yang menanadakan tidak adanya protein yang digunakan untuk pertumbuhan.Ransum protein standar memiliki nilai FCE tertinggi yaitu 24,69 kemudian diikuti sampel 1 yaitu 21,2 dan sampel 2 yaitu 20,64.
·         Nilai Protein Effeciency Ratio (PER) dan Net Protein Ratio (NPR)
Berdasarkan nilai PER yang digambarkan pada grafik, terlihat bahwa nilai PER dari masing-masing kelompok tikus perlakuan berbeda. Nilai PER menjelaskan semua protein digunakan hanya untuk pertumbuhan tubuh (Muchtadi, 2010). Pada ransum non-protein bernilai negatif, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada FCE, kelompok tersebut mengalami penurunan berat badan. Pada ransum protein standar masih memiliki nilai PER dan NPR yang lebih tinggi  baru selanjutnya sampel 1 dan sampel 2. Nilai NPR memecahkan masalah-masalah teoritis yang terdapat dalam metode PER. Dalam PER, semua protein yang dikonsumsi dianggap hanya digunakan untuk pertumbuhan. Padahal, protein yang dikonsumsi tersebut sebagian ada yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh (Muchtadi, 2010). Jika dikaitkan antara nilai PER dan NPR pada kelompok ransum perlakuan, pada protein standar merupakan ransum yang cukup baik untuk pemeliharaan tubuh.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari perhitungan nilai FCE, PER, dan NPR diketahui bahwa protein digunakan untuk tumbuh. Pada tikus percobaab kali ini diperoleh korelasi dari nilai PER, FCE, dan NPR dengan pertumbuhan berat badan tikus. Protein standar paling baik untuk ransum tikus selanjutnya diikuti sampel 1 dan sampel 2.

5.2 Saran
Saat melakukan perhitungan, haruslah dilakukan dengan teliti karena setiap parameter mempengaruhi parameter yang lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Auliana, R. 1999. Gizi dan Pengolahan Pangan. Ardiantia: Jakarta
Muchtadi. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jendral Pendidikan Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB: Bogor
Muchtadi, Irwan. 2010. Teknik Evaluasi Nilai Gizi Protein. Alfabeta: Bandung
Permadi, Irwan. 2011. Evaluasi Mutu Protein Fruit Soy Bar dan Efeknya Terhadap Berat Badan Tikus Percobaan. (Skripsi). IPB: Bogor

Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi: Gramedia: Jakarta

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum : Evaluasi Nilai Gizi Protein Metode Pertumbuhan (FCE, PER, NPR)"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!