loading...

Laporan Praktikum : Ekstraksi Minyak Atsiri dari Bunga Kamboja dan Kenanga

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI REMPAH DAN MINYAK ATSIRI
Ekstraksi Minyak Atsiri dari Bunga Kamboja dan Bunga Kenanga Pada Pembuatan Sabun Minyak Atsiri Bunga Kamboja








Disusun Oleh:
Kelompok 2 (Bunga Kamboja)





TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman kamboja (Plumeria acuminata) mempunyai pohon dengan tinggi batang 1,5-6 m, bengkok, dan mengandung getah. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman, dan umumnya di daerah pekuburan, atau tumbuh secara liar. Tumbuh di daerah dataran rendah 1-700 m di atas permukaan laut kecoklatan (Dalimartha, 1999).
Kamboja merupakan bunga yang banyak tumbuh dan ditanam di Indonesia. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa dalam kamboja didapatkan beberapa senyawa atsiri, yang menjadi penyebab utama bunga tersebut berbau harum. Senyawa-senyawa atsiri yang terdapat dalam kamboja diantaranya geraniol, sitronelol, dan linalool. Senyawa-senyawa atsiri tersebut sangat bermanfaat, antara lain dapat memberi efek relaksasi, mengurangi stress, dan mengusir nyamuk (Rejeki, 2011).  Selain menyimpan keindahan  keharuman bunga kamboja banyak dipakai sebagai bahan baku wewangian sabun dan minyak wangi, kosmetik, sabun, industri kerajinan dupa, dan aroma terapi untuk spa. Hasil ekstraksi  bunga kamboja pada praktikum sebelumnya digunakan untuk pembuatan sabun.
Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COONa+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion sabun (Achmad, 2004).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan sabun dari ekstrak minyak atsiri bunga kamboja



BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kamboja
       Tanaman kamboja (Plumeria sp.) merupakan salah satu contoh dari famili Apocynaceae. Kamboja diketahui merupakan tumbuhan yang berasal dari Amerika Tengah, Meksiko, Kepulauan Karibia, dan Amerika Selatan. Plumeria dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis (Eggli, 2002). Menurut Little (2006), secara umum tanaman kamboja memiliki ciri-ciri: batang bulat dan berkayu keras, bengkok dengan percabanganyang banyak. Kulit batang muda berwarna hijau dan akan berubah menjadi abu – abu seiring dengan penuaan batang. Pada waktu berbunga, cabangnya juga kehilangan daun dan hanya terlihat seperti pohon mati dengan cabang yang gundul.
Menurut          Nikijuluw (2002),  klasifikasi Plumeria adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Apocynales
Famili              : Apocynaceae
Genus              : Plumeria L.
Spesies            : Plumeria sp.
Bunga kamboja memiliki ukuran diameter 8-12 cm. Mahkota bunga umumnya berjumlah lima helai dan memiliki wangi yang khas. Mahkota bunga mempunyai corong dengan lingkar yang sempit dan sisi bagian dalamnya berambut halus. Bentuk mahkotanya pun tidak monoton, ada yang bertajuk lebar hingga bulat serta mahkota panjang yang sempit dan berpilin (menggulung). Selain itu, ada mahkota yang berbentuk oval hingga bintang warna mahkota sangat beragam mulai dari putih, merah, pink, hingga kuning. Tangkai putik tanaman berukuran pendek dengan dasar bunga yang menonjol sehingga menutupi tabung kelopak C
Kandungan kimia bunga kamboja yaitu senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5(oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Akar dan daun Plumeria acuminate, W.T.Aitmengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool. Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Nikijuluw, 2002).
Menurut Wartini (2011) dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diidentifikasi lima senyawa utama yang merupakan penyusun terbesar minyak atsiri bunga kamboja cendana yaitu nonadecana, patchouli alkohol, octadecenal, octadecana, dan eicosane.

2.2 Ekstraksi Minyak Atsiri
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan sifat tertentu, terutama kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda. Pada umumnya ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Bahan yang akan diekstrak biasanya berupa bahan kering yang telah dihancurkan, biasanya berbentuk bubuk atau simplisia (Guenther, 1987).
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. Bahan-bahan aktif seperti senyawa antimikroba dan antioksidan yang terdapat pada tumbuhan pada umumnya diekstrak dengan pelarut. Pada proses ekstraksi dengan pelarut, jumlah dan jenis senyawa yang masuk kedalam cairan pelarut sangat ditentukan oleh jenis pelarut yang digunakan dan meliputi dua fase yaitu fase pembilasan dan fase ekstraksi. Pada fase pembilasan, pelarut membilas komponen-komponen isi sel yang telah pecah pada proses penghancuran sebelumnya. Pada fase ekstraksi, mula-mula terjadi pembengkakan dinding sel dan pelonggaran kerangka selulosa dinding sel sehingga pori-pori dinding sel menjadi melebar yang menyebabkan pelarut dapat dengan mudah masuk kedalam sel. Bahan isi sel kemudian terlarut ke dalam pelarut sesuai dengan tingkat kelarutannya lalu berdifusi keluar akibat adanya gaya yang ditimbulkan karena perbedaan konsentrasi bahan terlarut yang terdapat di dalam dan di luar sel (Sastrohamidjojo 2002).
Cara ekstraksi dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ekstraksi dengan pelarut menguap, dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan lemak panas. Ekstraksi minyak atsiri secara komersialnya umumnya dilakukan dengan pelarut menguap (solvent extraction) (Agusta, 2000).
Ekstraksi minyak dengan lemak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara enfleurasi dan maserasi. Pada ekstraksi enfleurasi, absorbsi minyak dilakukan oleh lemak pada suhu rendah, sedangkan pada maserasi, absorbsi minyak dengan lemak dengan keadaan hangat (Agusta, 2000).
2.2.1 Maserasi
Maserasi adalah suatu cara ekstraksi dengan perendaman bunga di dalam lemak panas selama waktu tertentu. Cara maserasi dapat digunakan untuk bahan yang lunak dan untuk bahan yang keras (telah dirajang). Selama perendaman minyak atsiri yang keluar dari bahan akan berinteraksi dengan lemak, minyak atsiri kemudian dipisahkan. Untuk memisahkan minyak atsiri dari lemak, diekstraksi dengan alkohol (sama seperti enfleurage) (Sastrohamidjojo 2002).
Sistem pelarut yang digunakan dalam ekstraksi dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah yang maksimal dari zat aktif dan seminimum mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan. Larutan penyari yang baik harus memenuhi kriteria yaitu murah, mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap, tidak mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki dan tidak mempengaruhi zat aktif (Ahmad, 2004).

2.3 Kegunaan Minyak Atsiri
            Minyak atsiri biasanya digunakan sebagai salah satu campuran pada bahan baku pada industri kosmetik, sabun dan deterjen, farmasi, produk makanan dan minuman dan masih banyak produk lainnya. Minyak atsiri digunakan sebagai pengikat aroma pada industri kosmetik dan farmasi serta sebagai pemberi rasa pada industri makanan (Green, 2002).
Minyak atsiri pada industri banyak digunakan sebagai bahan pembuat kosmetik, parfum, antiseptik dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atsiri mampu bertindak sebagai bahan terapi (aromaterapi) atau bahan obat suatu jenis penyakit. Fungsi minyak atsiri sebagai bahan obat tersebut disebabkan adanya bahan aktif, sebagai contoh bahan anti radang, hepatoprotektor, analgetik, anestetik, antiseptik, psikoaktif dan anti bakteri (Agusta, 2000).

2.3 Minyak Wijen
Minyak wijen diektrak dengan menghancurkan biji dalam mortal kayu kemudian ditambah air panas atau dengan penggilingan yang disusul dengan pengepresan dingin atau panas. Minyak hasil pengepresan dingin dapat dimakan tanpa pemurnian. Minyak wijen digunakan untuk obat-obatan yaitu dalam pembuatan obat gosok amonia. Karena minyak wijen yang tidak dapat memisah sehingga baik digunakan untuk campuran obat gosok dengan kekentalan yang baik (Ketaren, 1986).

2.4 Sabun
 2.4.1 Pengertian Sabun
            Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Qisti, 2009).
 Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COONa+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion sabun (Achmad, 2004).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai gugus bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu pada larutan surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut konsentrasi kritik misel. Sabun juga mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan melembutkan kulit, menyejukkan dan meminyaki sel-sel kulit juga. Oleh karena itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat sabun yang berkualitas (Levenspiel, 1972).
2.4.2 Sabun Mandi Padat
Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuatan kondisi basa yang biasa digunakan adalah natrium hidroksida (NaOH) dan kalium hidroksida (KOH). Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi tersebut berupa sabun keras (padat), sedangkan basa yang digunakan berupa KOH maka produk reaksi berupa sabun cair (Dalimunthe, 2009). Sabun mandi adalah senyawa natrium dengan asam lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit (SNI, 1994).
Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak dan minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak mempunyai dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan atom karbon 8-12 yang berikatan ester dengan gliserin. Secara umum, reaksi antara kaustik dengan gliserol menghasilkan gliserol dan sabun yang disebut dengan saponifikasi. Setiap minyak dan lemak mengandung asam-asam lemak yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menyebabkan sabun mempunyai sifat yang berbeda. Minyak dengan kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan tak jenuh akan menghasilkan sabun cair. Sedangkan rantai panjang dan jenuh menghasilkan sabun yang tak larut pada suhu kamar (Andreas, 2009).
2.4.3 Syarat Mutu Sabun Mandi
            Syarat Mutu Sabun Mandi Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 06- 3235-1994 dapat dilihat pada Tabel 1.
2.4.4 Komposisi Sabun
Sabun konvensional yang dibuat dari lemak dan minyak alami dengan garam alkali serta sabun deterjen saat ini yang dibuat dari bahan sintetik, biasanya mengandung surfaktan, pelumas, antioksidan, deodorant, warna, parfum, pengontrol pH, dan bahan tambahan khusus.
a. Surfaktan
Surfaktan adalah molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sehingga dapat memperasatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air yang bekerja menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan merupakan bahan terpenting dari sabun. Lemak dan minyak yang dipakai dalam sabun berasal dari minyak kelapa (asam lemak C12), minyak zaitun (asam lemak C16-C18), atau lemak babi. Penggunaan bahan berbeda menghasilkan sabun yang berbeda, baik secara fisik maupun kimia. Ada sabun yang cepat berbusa tetapi terasa airnya kasar dan tidak stabil, ada yang lambat berbusa tetapi lengket dan stabil. Jenis bahan surfaktan pada syndet dewasa ini mencapai angka ribuan (Wasitaatmadja, 1997).
 b. Pelumas
Pelumas Untuk menghindari rasa kering pada kulit diperlukan bahan yang tidak saja meminyaki kulit tetapi juga berfungsi untuk membentuk sabun yang lunak, misal: asam lemak bebas, fatty alcohol, gliserol, lanolin, paraffin lunak, cocoa butter, dan minyak almond, bahan sintetik ester asam sulfosuksinat, asam lemak isotionat, asam lemak etanolamid, polimer JR, dan carbon resin (polimer akrilat). Bahan-bahan selain meminyaki kulit juga dapat menstabilkan busa dan berfungsi sebagai peramas (plasticizers) (Wasitaatmadja, 1997).
 c. Antioksidan dan Sequestering Agents
 Antioksidan adalah senyawa atau zat yang dapat menghambat, menunda, mencegah, atau memperlambat reaksi oksidasi meskipun dalam konsentrasi yang kecil. Untuk menghindari kerusakan lemak terutama bau tengik, dibutuhkan bahan penghambat oksidasi, misalnya stearil hidrazid dan butilhydroxy toluene (0,02%-0,1%). Sequestering Agents dibutuhkan untuk mengikat logam berat yang mengkatalis oksidasi EDTA. EHDP (ethanehidroxy-1-diphosphonate) (Wasitaatmadja, 1997).
d. Deodorant
Deodorant adalah suatu zat yang digunakan untuk menyerap atau mengurangi bau menyengat. Deodorant dalam sabun mulai dipergunakan sejak tahun 1950, namun oleh karena khawatir efek samping, penggunaannya dibatasi. Bahan yang digunakan adalah TCC (trichloro carbanilide) dan 2-hidroxy 2,4,4- trichlodiphenyl ester (Wasitaatmadja, 1997).


e. Warna
Kebanyakan sabun toilet berwarna cokelat, hijau biru, putih, atau krem. Pewarna sabun dibolehkan sepanjang memenuhi syarat dan peraturan yang ada, pigmen yang digunakan biasanya stabil dan konsentrasinya kecil sekali (0,01- 0,5%). Titanium dioksida 0,01% ditambahkan pada berbagai sabun untuk Universitas Sumatera Utara 7 menimbulkan efek berkilau. Akhir-akhir ini dibuat sabun tanpa warna dan transparan (Wasitaatmadja, 1997).
f. Parfum
Isi sabun tidak lengkap bila tidak ditambahkan parfum sebagai pewangi. Pewangi ini harus berada dalam pH dan warna yang berbeda pula. Setiap pabrik memilih bau dan warna sabunbergantung pada permintaan pasar atau masyarakat pemakainya. Biasanya dibutuhkan wangi parfum yang tidak sama untuk membedakan produk masing-masing (Wasitaatmadja, 1997).
g. Pengontrol pH
 Penambahan asam lemak yang lemah, misalnya asam sitrat, dapat menurunkan pH sabun (Wasitaatmadja, 1997).


h. Bahan tambahan khusus
Menurut Wasitaatmadja (1997), berbagai bahan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pasar, produsen, maupun segi ekonomi dapat dimasukkan ke dalam formula sabun. Dewasa ini dikenal berbagai macam sabun khusus, misalnya:
1. Superfatty yang menambahkan lanolin atau paraffin.
2. Transparan yang menambahkan sukrosa dan gliserin.
3. Deodorant, yang menambahkan triklorokarbon, heksaklorofen, diklorofen, triklosan, dan sulfur koloidal.
4. Antiseptik (medicated = carbolic) yang menambahkan bahan antiseptic, misalnya: fenol, kresol, dan sebagainya.
5. Sabun bayi yang lebih berminyak, pH netral, dan noniritatif.
6. Sabun netral, mirip dengan sabun bayi dengan konsentrasi dan tujuan yang berbeda.
 7. Apricot, dengan sabun menambahkan apricot atau monosulfiram.
 2.4.5 Fungsi Sabun
Fungsi sabun dalam anekaragam cara adalah sebagai bahan pembersih. Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air itu membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif, sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan gemuk; dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran (Keenan, 1980). Kotoran yang menempel pada kulit umumnya adalah minyak, lemak dan keringat. Zat-zat ini tidak dapat larut dalam air karena sifatnya yang non polar. Sabun digunakan untuk melarutkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. Sabun memiliki gugus non polar yaitu gugus –R yang akan mengikat kotoran, dan gugus –COONa yang akan mengikat air karena sama-sama gugus polar. Kotoran tidak dapat lepas karena terikat pada sabun dan sabun terikat pada air (Qisti, 2009).
2.4.6 Efek Samping Sabun
 Pada kulit sabun digunakan untuk membersihkan kotoran pada kulit baik berupa kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam lemak. Namun dengan penggunaan sabun kita akan mendapatkan efek lain pada kulit, pembengkakan dan pengeringan kulit, denaturasi protein dan ionisasi, antimikrobial, antiperspiral, dan lain sebagainya (Wasitaatmadja, 1997).

2.5. Alkali (NaOH)
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines (sinonim: 2-Aminoethanol, monoethanolamine, dengan rumus kimia C2H7NO, dan formulasi kimia NH2CH2CH2OH). NaOH atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida dari minyak atau lemak (Fessenden, 1992).

     Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basal ogam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium Hidroksida digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia (Fessenden, 1992).
Menurut Fessenden  (1992) sifat fisik dan kimia NaOH yaitu sebagai berikut: 1. Sifat fisik NaOH:
 · Berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50% .
 · Bersifat lembab cair dan secara spontan
 · Titik leleh 318°C
·Titik didih 1390°C
 · Padatan berwarna putih
2. Sifat Kimia NaOH:
·Menyerap karbon dioksida dari udara bebas.
·Sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan
·Larut dalam etanol dan metanol,
·Tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya
·Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas.
·Sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida
Soda Kaustik (NaOH) merupakan bahan penting dalam pembuatan sabun mandi karena menjadi bahan utama dalam proses saponifikasi dimana minyak atau lemak akan diubah menjadi sabun. Tanpa bantuan NaOH maka proses kimia sabun tidak akan terjadi. Setelah menjadi sabun maka NaOH akan terpecah menjadi unsur penyusunnya yang netral. Konsentrasi NaOH berpengaruh terhadap kualitas sabun yang dibuat karena dapat mempengaruhi pH sabun, asam lemak bebas, alkali bebas, kadar fraksi tak tersabunkan, asam lemak sabun, dan kadar air. Tinggi rendahnya konsentrasi NaOH akan mempengaruhi kesempurnaan proses saponifikasi pada sabun sehingga secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kualitas sabun yang dihasilkan.




BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ekstraksi minyak bunga kamboja dilaksanakan pada tanggal  21 Februari 2017 s/d 19 Maret 2017 pada pukul 10.00-12.00 WIB. Sedangkan pembuatan sabun ini dilaksanakan pada hari Senin, 4 Mei 2017 pada pukul 10.00 WIB s/d Selesai di Labotarium Analisis Pengolahan Hasil Pertanian (Dapur) Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.

3.2 Bahan dan Alat
            3.2.1 Bahan dan AlatEkstraksi Minyak Atsiri
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu bunga kamboja, bunga kenanga, minyak sawit, minyak kelapa, minyak wijen, dan minyak kedelai. Alat yang digunakan yaitu toples kaca, saringan, gelas ukur, timbangan digital, plastik, alumunium foil, dan botol gelap.
3.2.2 Bahan dan Alat Pembuatan Sabun
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gelas piala,mixer dan hotplate. Sedangkan bahan yang digunakan adalah minyak kenanga hasil praktikum pertama dan NaOH.

3.3 Prosedur
            3.3.1 ProsedurEkstraksi Minyak Atsiri
Disiapkan alat dan bahan yang akan diguakan. Dipilih bunga yang baru dan tidak cacat, kemudian ditimbang sebanyak 50 gram. Diukur minyak nabati sebanyak 500 ml dengan gela ukur. Dimasukkan bunga segar ke dalam toples, kemudian masukkan minyak nabati. Selanjutnya ditutup dengan plastik kemudian tutup dengan tutup toples dengan rapat. Diberi label pada toples sesuai dengan jenis bunga yang dimasukkan. Ditempatkan toples pada ruang yang terkena sinar matahari secara langsung. Jika memungkinkan, dijemur toples tersebut dibawah terik matahari setiap hari. Diganti bunga yang telah layu dengan bunga sejenis yang masih segar (setiap 3 hari sekali selama 1 bulan atau 4 minggu). Kemudian dipisahkan minyak nabati dari bagian-bagian bunga yang telah layu. Pemisahan (separasi) dilakukan dengan teknik penyaringan (filtrasi) ataupun sentrifugasi. Diamati aroma, kekentalan dan warna minyak tersebut didalam botol bewarna gelap yang tertutup untuk dipergunakan pada praktikum selanjutnya.
3.3.2 Bahan dan Alat Pembuatan Sabun
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum kali ini.Selanjutnya ditimbang minyak sebanyak 200 gr di dalam gelas piala. Kemudian timbang pula NaOH sebanyak 29 gram dan aquades sebanyak 58 gr. Dilarutkan NaOH ke dalam aquades sedikit demi sedikit (larutan akan panas) dan diaduk sampai semua NaOH larut. Didiamkan beberapa saat hingga suhu larutan mencapai suhu dibawah 400 C. Ketika suhu NaOH  telah mencapai sekitar 30-350 C tuangkan kedalam minyak kenanga secara perlahan. Diaduk secara terus-menerus menggunakan mixer sampai tercampur dan kental sempurna sambil dipanaskan selama 1 jam. Setelah itu masukkan kedalam cetakan. Amati aroma sabun pada hari pertama dan ketujuh.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Hasil Pengamatan Minyak Atsiri Bunga Kamboja
Tabel 2. Pengamatan Bunga Kamboja Selama 4 Minggu (Kelompok 2)
Tanggal
Perlakuan
Pengamatan
Minyak (ml)
Warna minyak
Aroma minyak
21-Feb-17
Minyak Wijen 500 ml dan
Bunga Kamboja 50 gram
500
Kuning jernih
Tidak khas bunga kamboja
24-Feb-17
Kuning agak keruh
Tidak khas bunga kamboja
27-Feb-17
Kuning agak keruh
Tidak khas bunga kamboja
02-Mar-17
Kuning keruh dan terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja
06-Mar-17
Agak kecoklatan dan terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja
10-Mar-17
Kecoklatan dan  terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja dan agak  apek
13-Mar-17
Kecoklatan, agak kental dan  terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja dan agak  apek
16-Mar-17
Kecoklatan,  kental dan  terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja dan berbau apek
19-Mar-17
14
Coklat pekat,  kental dan  terdapat film berwarna putih
Agak khas bunga kamboja dan berbau sangat apek




Tabel 7. Hasil Pengamatan Minyak Bunga Kenanga (Kelompok 6)
Tanggal
Perlakuan
Pengamatan
Minyak (ml)
Warna minyak
Aroma minyak
22-Feb-17
Minyak Goreng (sawit) 500 ml dan
Bunga Kenanga 50 gram
500
kuning
khas bunga kenanga
24-Feb-17
440
hijau lumut muda
campur dan bau apek
27-Feb-17
400
hijau lumut agak pekat
campur dan bau apek
02-Mar-17
380
hijau lumut pekat
campur dan bau apek
06-Mar-17
340
coklat pekat kental
campur dan bau apek
09-Mar-17
300
coklat pekat kental
campur dan bau apek
13-Mar-17
280
coklat pekat kental
campur dan bau apek
16-Mar-17
240
coklat pekat kental
campur dan bau apek
20-Mar-17
180
coklat pekat kental
campur dan bau apek




4.2 Pembahasan
·         Proses Ekstraksi Minyak Atsiri
Praktikum kali ini dilakukan ekstraksi minyak atsiri dari bunga kamboja dan kenanga dengan menggunakan pelarut minyak nabati, yaitu minyak kelapa, minyak sawit, minyak wijen dan minyak kedelai. Pada bagian ini kami melakukan atau mengekstrak bunga kamboja menggunakan minyak wijen sebagai pelarut
Ekstraksi bunga kamboja menggunakan minyak wijen dilakukan secara maserasi. Maserasi dilakukan dengan merendam bunga kamboja dengan minyak wijen sampai bunga tenggelam dalam minyak yang direndam dalam stoples kaca bening, lalu diletakkan di dalam ruangan dan diusahakan terkena sedikit sinar matahari.Penggunaan toples kaca bertujuan untuk menghindari bahan bereaksi dengan wadah, jadi karena kaca merupakan wadah yang inert dengan bahansehingga dapat digunakan selama proses ekstraksi. Bunga lalu diganti setiap 3 hari sekali dengan bunga segar yang sama dengan bunga yang sebelumnya. Proses ini dilakukan selama 4 minggu.
Pada maserasi, cairan penyari (pelarut) akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel, maka larutan terpekat akan terdesak keluar. Peristiwa ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan didalam sel.
Hasil ekstraksi didapatkan rendemen minyak terbanyak pada bunga kenanga dengan pelarut minyak kelapa sebesar 53,6% dan minyak yang dihasilkan adalah berwarna cokelat, kental dan beraroma khas kenanga. Rendemen terkecil pada bunga kamboja dengan pelarut minyak wijen dan minyak sawit sebesar 2,8%, dengan minyak yang dihasilkan berwarna cokelat pekat. Untuk minyak wijen beraroma agak khas kamboja dan sangat apek serta kental, sedangkan untuk minyak sawit beraroma tidak khas kamboja dan sangat apek serta sangat kental.Hal ini mungkin dikarenakan jenis bunga yang digunakan memilki sifat yang berbeda dari bunga kamboja hal ini dapat dilihat beberapa jenis minyak yang digunakan untuk melarutkan minyak atau komponen yang terdapat didalam minyak atsiri menghasilkan minyak yang sangat sedikit baik itu pelarut minyak  sawit maupun minyak wijen.
Selama proses ektraksi minyak atsiri bunga kamboja, dihasilkan minyak yang semakin lama semakin berwarna cokelat, kental, dan terbentuk film berwarna putih. Hal ini kemungkinan disebabkan ikut terekstraknya komponen nonminyak atsiri seperti pati. Sehingga mempengaruhi warna, aroma dan komposisi minyak atsiri bunga kamboja. Menurut Wartini (2011) dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diidentifikasi lima senyawa utama yang merupakan penyusun terbesar minyak atsiri bunga kamboja cendana yaitu nonadecana, patchouli alkohol, octadecenal, octadecana, dan eicosane. Yang merupakan senyawa aroma pada bunga kamboja.
Kesuruhan ekstraksi bunga munggunakan pelarut minyaak, dihasilkan rendemen minyak kurang maksimal. Hal ini dapat disebakan oleh tidak dilakukannya perlakuan pendahuluan berupa pengecilan ukuran, yang bertujuan memperluas permukaan bahan sehingga memudahkan komponen bioaktif dari bahan pindah ke pelarut.
·         Proses Pembuatan Sabun
Setelah proses ektraksi selesai dan didapatkan rendemen minyak, langkah selanjutnya adalah pembuatan sabun. Sabun yang dibuat  menggunakan bahan utama minyak atsiri hasil ekstraksi bunga kamboja dan senyawa alkali berupa NaOH. Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani (Qisti, 2009), sedangkan sabun mandi adalah senyawa natrium dengan asam lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit (SNI, 1994).
            Dalam pembuatan sabun dilakukan bebrapa tahap proses, yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Qisti, 2009).
            Sabun yang dibuat dalam praktikum kali ini dilakukan uji organoleptik terhadap aroma pada sabun. Pengamatan aroma sabun dilakukanan selama satu minggu yaitu dilakukan pada hari pertama dan hari ke tujuh. Berdasarkan respon panelis aroma sabun mengalami penurunanan aroma kamboja selama proses pengamatan dari hari pertama hingga hari ketujuh.
Dari hasil praktikum Untuk organoleptik aroma pada hari ke tujuh sabun yang dibuat dari minyak kamboja menggalami peningkatanm aroma dari pada hari pertama. Hal ini mungkin dikarenakan senyawa didalam minyak bunga kamboja menjadi lebih tercium setelah ditambahkan bahan lainnya dan disimpan lebih lama. Aroma terbaik terdapat pada sabun bunga kenanga kelompok 5 yaitu khas bunga kenanga dengan rata-rata 4,5 dan aroma terbaik pada hari ketujuh adalah sabun bunga kenanga kelompok 1 yaitu dengan aroma sangat khas bunga kenanga, yang memiliki nilai rata-rata 5.
            Aroma kamboja pada sabun tidak begitu tercium disebabkan karena penggunaan minyak hasil ekstraksi memang menghasilkan minyak atsiri  yang sedikit dan tidak begitu tercium aroma kamboja nya. Hal ini mungkin dikarenakan jenis bunga tidak terlalu harum seperti bunga kamboja dan tidak terlalu baik untuk diekstrak menggunakan minyak. Karena hasil ekstraksi bunga kamboja menggunakan pelarut jenis minyak apapun menghasilkan minyak atsiri dengan tekstur seperti bubur bukan berbentuk cair. Sehingga menghasilkan aroma yang tidak begitu tajam atau khas kamboja yang juga berdampak pada aroma sabun yang tidak berbau khas kamboja.
            Sabun yang dibuat juga memilki tekstur yang keras. Hal ini didukung dengan pernyataan Qisti (2009) bahwa Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap).
Fungsi sabun sendiri dalam aneka ragam cara adalah sebagai bahan pembersih. Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air itu membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif, sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan gemuk; dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran (Keenan, 1980). Kotoran yang menempel pada kulit umumnya adalah minyak, lemak dan keringat. Zat-zat ini tidak dapat larut dalam air karena sifatnya yang non polar. Sabun digunakan untuk melarutkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. Sabun memiliki gugus non polar yaitu gugus –R yang akan mengikat kotoran, dan gugus –COONa yang akan mengikat air karena sama-sama gugus polar. Kotoran tidak dapat lepas karena terikat pada sabun dan sabun terikat pada air (Qisti, 2009).



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri adalah minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile) yang merupakan salah satu hasil metabolisme tanaman. Minyak atsiri dengan rendemen terbanyak didapatkan pada bunga kenanga dengan pelarut minyak kelapa sebesar 53,6% dan minyak yang dihasilkan adalah berwarna cokelat, kental dan beraroma khas kenanga.Rendemen terkecil pada bunga kamboja dengan pelarut minyak wijen dan minyak sawit sebesar 2,8%,dengan aroma tidak khas bunga kamboja.
Pada pembuatan sabun dilakaukan dua tahap proses yaitu proses saponifikasi dan netralisasi minyak. Fungsi sabun sendiri dalam anekaragam cara adalah sebagai bahan pembersih. Berdasarkan respon panelis aroma sabun mengalami peningkatan aroma bunga kamboja selama proses pengamatan dari hari pertama hingga hari ketujuh. Organoleptik aroma sabun pada hari pertama, aroma terbaik terdapat pada sabun bunga kenanga kelompok 5 yaitu khas bunga kenanga dan aroma terbaik pada hari ketujuh adalah sabun bunga kenanga kelompok 1 yaitu dengan aroma sangat khas bunga kenanga.

5.2 Saran
            Diperlukan pengetahuan tentang konsentrasi bahan yang tepat serta proses pembuatan yang benar agar dihasilkan sabun sesui yang diinginkan.







DAFTAR PUSTAKA

Achmad, R. (2004). Kimia Lingkungan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Hal. 111.
Agusta, A. (2000). Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung:
Andreas, H. (2009). Membuat Sabun 2 Laporan Ilmiah. http://id.scribd.com. Diakses pada tanggal 27 Juni 2017.
Dalimartha S. 1999. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Diktorat Jendral POM-Depkes RI.
Fessenden, R.J. 1992. Analisa dan Pembuatan Sabun Mandi. Universitas Sumatra Utara, Medan


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum : Ekstraksi Minyak Atsiri dari Bunga Kamboja dan Kenanga"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!