loading...

Produk Olahan Lanjut Minyak Sawit || Materi Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit


PRODUK OLAHAN LANJUT MINYAK SAWIT

A. Lubricant (minyak pelumas)
Minyak kelapa sawit dapat dibuat menjadi pelumas cair (biolubricants) dan pelumas semi-padat (biogrease). Biolubricants dapat dibuat dari refined bleached deodorized palm oil (RBDPO) olein melalui proses transesterifikasi, epoksidasi pada ikatan rangkap dan adisi dengan gliserol. Produk yang dihasilkan termasuk jenis minyak lumas ester, lebih polar dan memiliki lubrisitas serta biodegradabilitas lebih baik dari minyak lumas mineral. Biolubricants ini memiliki ketahanan oksidasi lebih baik dibandingkan dengan minyak nabati
trigliserida asalnya, namun tetap memiliki sifat sebagai minyak nabati yang edible.

Biogrease dianalogikan sebagai sponge atau busa yang penuh dengan minyak dimana sponge tersebut adalah thickenernya (Calcium, Lithium). Biogrease dibuat menggunakan minyak dasar biolubricants yang memiliki sifat biodegradable dan edible.

B. Surfaktan dan emulsifier
Surface active agent (surfactant) adalah senyawa aktif penurun tegangan permukaan atau Senyawa organik yang dalam molekulnya memiliki sedikitnya satu gugus hidrofilik dan satu gugus hidrofobik. Surfaktan dimanfaatkan sebagai bahan penggumpal, pembasah, pembusaan, emulsifier oleh berbagai industri seperti industri farmasi, kosmetika, personal care products, cleaning and washing product, perminyakan, konstruksi, tambang, dan sebagainya.

Methyl Ester Sulphonate (MES) merupakan salah satu surfaktan yang dapat dihasilkan dari minyak inti sawit (palm kernel oil), yaitu surfaktan anionik yang digunakan untuk menurunkan tegangan permukaan, tegangan permukaan, tegangan antarmuka, meningkatkan kestabilan partikel terdispersi dan mengontrol jenis formasi emulsi. MES digunakan dalam produk deterjen dan personal care.

Mono and Diacylglycerol (MDAG) merupakan emulsifier yang dapat dibuat dari RBDPO yang mengandung monoasilgliserol sekitar 40% yang diproses menggunakan katalis alkali. MDAG digunakan dalam industri pangan untuk mengurangi tegangan antar muka, menstabilkan sistem emulsi, memperpanjang umur simpan, menghomogenkan produk dan melembutkan produk.

MAG dapat disintesis melalui beberapa metode, yaitu hidrolisis selektif, esterifikasi asam lemak atau ester asam lemak dengan gliserol, dan gliserolisis lemak/minyak. MAG dapat juga diproduksi dengan cara yang lebih mild, yaitu dengan gliserolisis enzimatis. Dalam hal ini lipase digunakan sebagai katalis dalam proses esterifikasi asam lemak bebas dengan gliserol. Jenis asil gliserol lain yang dapat digunakan sebagai emulsifier komersial adalah diasilgliserol (DAG) yang memiliki dua gugus asil pada molekul gliserol.

C. Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang mempunyai karakteristik menyerupai minyak diesel dari petrokimia. Biodiesel dibuat menggunakan reaksi transesterifikasi antara trigliserida dan metanol yang disebut metanolisis menggunakan katalis NaOH. Apabila triolein dalam minyak nabati bereaksi dengan metanol akan menghasilkan 3 molekul metil oleat (produk inilah yang disebut sebagai biodiesel) dan 1 molekul gliserol.

Pada reaksi transesterifikasi dimana R1, R2, R3, merupakan rantai panjang
dari atom karbon dan hidrogen, yang disebut sebagai asam lemak. Ada beberapa
tipe rantai dari minyak nabati yaitu :
Palmitik R = - (CH2)14 – CH3 (16 karbon termasuk R (16 :0)
Stearik R = - (CH2)16 – CH3 (18 karbon , 0 double bond, (18 : 0)
Oleat R = - (CH2)7 CH = CH (CH2)7CH3 (18 karbon , 1 double bond, (18 : 1)
Linoleat R= -(CH2)7CH=CH-CH2–CH=CH(CH2)4CH3 (18 karbon , 2 double bond, (18 : 2)
Linolenik R=-(CH2)7CH=CH-CH2–CH=CH-CH2-CH=CHCH2-CH3 (18 karbon , 3 double bond, (18 : 3)

Apabila triolein dalam minyak nabati beraksi dengan methanol akan menghasilkan 3 molekul methil oleat (inilah yang disebut sebagai biodiesel) dan 1 molekul gliserol. Sejumlah kecil asam lemak bebas (free fatty acid, FFA) yang masih tersisa dalam minyak murni akan bereaksi dengan NaOH menghasilkan sabun dan air.

Hasil reaksi dipisahkan dengan menggunakan dekanter menjadi fasa gliserol dan fasa ester. Fasa ester masuk ke reaktor transesterifikasi II (CSTR II) sedangkan fasa gliserol dibawa ke tangki penampungan sementara. Proses yang sama terjadi pada reaktor transesterifikasi II dan dekanter II. Fasa ester dari dekanter 2 dibawa ke unit pencucian ester sedangkan fasa gliserolnya masuk ke tangki penampungan sementara.

Impuritis-impuritis dalam fasa ester seperti metanol, sabun, dan sisa gliserol harus dipisahkan dari ester metil yang dilakukan dengan cara mencuci fasa ester tersebut dengan air hangat. Aliran limbah yang dihasilkan dikirim ke tangki penyimpanan sementara sedangkan ester yang telah dicuci dikirim ke tangki pengendap untuk memisahkan ester metil dengan fasa air yang masih tersisa. Kemudian dibawa menuju pengering vakum untuk mencapai kelembaban tertentu. Selanjutnya dikirim ketempat penyimpanan biodiesel.

Semua fasa gliserol kotor dan air limbah yang diperoleh ditampung dalam satu tangki penampungan sementara. Dari tangki ini campuran dipanaskan hingga suhunya mencapai titik didih metanol, yaitu 65oC. Kemudian metanol yang terdapat dalam campuran dipisahkan menggunakan steam panas pada kolom stripper alkohol-gliserol. Uap metanol jenuh beserta steam dialirkan ke kolom distilasi untuk mendapatkan uap metanol murni sebagai distilat. Uap metanol yang terbentuk dikondensasikan dan direcycle kembali ke reaktor transesterifikasi. Gliserol kotor dari kolom stripper dicampur dengan larutan HCL murni dalam reaktor asidulasi. Katalis NaOH yang terdapat dalam gliserol kotor akan bereaksi dengan HCl membentuk air dan NaCl sedangkan sabun yang ada akan bereaksi dengan HCl membentuk FFA dan NaCl pada reaktor ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Produk Olahan Lanjut Minyak Sawit || Materi Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit "

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!