loading...

Laporan Praktikum Penentuan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Sawit


LAPORAN PRAKTIKUM PENENTUAN ASAM LEMAK BEBAS PADA CPO

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Minyak sawit kasar (crude palm oil) merupakan minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi tanpa mengalami pengolahan lebih lanjut (Ketaren, 1986). CPO yang diekstraksi secara komersial dari TBS walaupun dalam jumlah kecil mengandung komponen dan pengotor yang tidak diinginkan. Komponen ini termasuk serat mesocrap, kelembaban, bahan-bahan tidak larut, asam lemak bebas, fosfolipida, logam, produk oksidasi dan bahan-bahan yang memiliki bau yang kuat, sehingga diperlukan proses pemurnian sebelum digunakan.
     
Proses pemurnian bertujuan untuk menghilangkan gum, impuritis, produk oksidasi (aldehid), mengurangi asam lemak bebas yang terdapat pada CPO. Pemurnian CPO terdiri dari beberapa tahap, yaitu degumming, netralisasi, bleaching, deodorisasi dan fraksinasi.
     
Proses pemisahan asam lemak bebas dalam minyak sawit kasar disebut netralisasi atau deasidifikasi. Deasidifikasi dapat dilakukan dengan metode kimia, fisik, micella, biologis, ekstraksi pelarut, dan teknologi membran (Yernisa, 2013).
     
Netralisasi melalui proses kimia dengan alkali, saat ini yang paling umum digunakan adalah dengan melarutkan soda kaustik. Netralisasi harus dilakukan dengan benar atau beberapa gliserida akan tersabunkan yang mengakibatkan peningkatan refinning loss. Oleh karena itu, dilakukan praktikum netralisasi sawit agar mengetahui proses netralisasi dengan benar.

1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara menghilangkan asam lemak bebas pada CPO melalui tahap netralisasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak Sawit Kasar (CPO)
Minyak sawit kasar (CPO) adalah hasil olahan daging buah kelapa sawit melalui proses perebusan (dengan steam) Tandan Buah Segar (TBS), perontokan,  dan pengepressan. CPO ini diperoleh dari bagian mesokarp buah kelapa sawit yang telah mengalami beberapa proses, yaitu sterilisasi, pengepressan, dan klarifikasi (Ketaren, 1986).
     
Kandungan utama minyak  sawit kasar adalah trigliserida (94%), digliserida (2%), sedikit monogliserida,  asam lemak bebas (3-5%) dan komponen minor (1%). Komponen minor ini terdiri dari  karotoneid, tokoferol, sterol, fosfolipida, glikolipida, hidrokarbon, lilin, dan berbagai kotoran (Gob dkk, dalam Vallent, 1996).
     
CPO yang diekstrak secara komersial dari TBS walaupun dalam jumlah kecil mengandung komponen dan pengotor yang tidak diinginkan. Komponen  ini termasuk  serat mesokarp, kelembapan, bahan-bahan tidak larut, asam lemak bebas, phospolida, logam, produk oksidasi, dan bahan-bahan yang memiliki bau yang kuat sehingga diperlukan proses pemurnian sebelum (Sahidi, 2005).

2.2 Asam Lemak Bebas
Sebagian asam lemak bebas tidak tergabung dengan molekul gliserol pada minyak atau lemak yang dikenal dengan Asam Lemak Bebas. CPO mengandung 3-5% asam lemak bebas. Lemak dan minyak yang telah dimurnikan yang siap untuk dikonsumsi memiliki asam lemak bebas <0,05% (Cadenas, 2002).
     
Kenaikan asam lemak bebas mempermudah oksidasi berantai dan pembentukan senyawa peroksida, aldehida, keton dan polimer. Oksidasi berantai  menyebabkan penguraian konstituen aroma,flavor dan vitamin. Pembentukan senyawa seperti peroksida, aldehida dan keton menyebabkan bau tengik, pencoklatan minyak dan kemungkinan menimbulkan keracunan (Yernisa, 2013).

2.3 Pemurnian CPO
Pemurnian minyak sawit merah secara konvensional meliputi, pemisahan gum (degumming), pemisahan asam lemak bebas (deasidifikasi), pemucatan (bleaching) dan penghilangan bau (deodorisasi). Tahap terakhir yaitu fraksinasi yang merupakan bagian dari pemurnian sawit hasil ekstraksi. Fraksinasi merupakan proses pemisahan fraksi cair (olein) dan fraksi padat (stearin) dari minyak dengan winterisasi (Ketaren, 1986).

2.4 Netralisasi (Deasidifikasi)
Deasidifikasi adalah proses pemisahan asam lemak bebas dalam minyak sawit kasar. Deasidifikasi  dapat dilakukan dengan metode kimia, fisik, micella, biologis, ekstraksi pelarut, dan teknologi membran. Deasidifikasi secara umum dilakukan dengan cara netralisasi dengan mereaksikan asam lemak bebas dengan basa sehingga membentuk sabun. Alkali yang biasa digunakan adalah NAOH, proses ini dikenal dengan istilah “caustic deacidification” (Yernisa, 2013).

Netralisasi melalui proses kimia dengan alkali, saat ini yang paling umum digunakan adalah dengan melarutkan soda caustik. Reaksinya adalah reaksi penyabunan yang terbentuk dari asam lemak bebas. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan kotoran seperti fosdotida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi (Yernisa, 2013).

2.5 Alkali (NaOH)
Konsentrasi larutan alkali untuk netralisasi biasa dinyatakan dengan “derajat Baume (°Be)”. Konsentrasi bahan kimia yang digunakan dalam netralisasi tergantung pada jumlah asam lemak bebas, makin besar jumlah asam lemak bebas , makin besar pula konsentrasi bahan kimia yang digunakan. Total penambahan alkali didasarkan pada jumlah alkali secara teori untuk menetralkan asam lemak bebas ditambah alkali berlebih (excess) untuk menghilangkan kotoran-kotoran lainnya. Jumalah excess alkali minimum harus digunakan sehingga penyabunan minyak netraldapat diminimalkan. Untuk minyak kandungan asam lemak bebas yang rendah lebih baik dinetralkan dengan alkali encer (konsentrasi lebih kecil dari 0,15 N atau 5°Be), sedangkan asam lemak bebas dengan kadar tinggi lebih baik dinetralkan dengan larutan alkali 10-24°Be (Yernisa, 2013).

BAB III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin 30 Oktober 2017 pada pukul 09.30 WIB – selesai, dilaksanakan di laboratorium Analisis Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah biuret, erlemeyer, batang pengaduk, sentrifus, gelas piala, hot plate, thermometer, pipet tetes, gelas ukur dan timbangan sedangkan bahan yang digunakan adalah CPO yang telah melewati proses degumming, alkohol 95% netral serta indikator PP.

3.3 Prosedur Kerja
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Netralisasi CPO dilakukan melalui beberapa tahap yaitu penentuan asam lemak bebas.
     
Ditimbang CPO sebanyak 7,05 gram contoh, kemudian dilarutkan dalam 50 ml alkohol 95% netral. Dipanaskan selama 10 menit sambil diaduk, kemudian ditambahkan 4 tetes indikator PP dan dititrasi dengan larutan standar NaOH 0,1N hingga minyak berubah warna menjadi merah muda. Dihitung volume NaOH terpakai untuk digunakan pada perhitungan asam lemak bebas, dengan rumus:
ALB (%)  =       BM x V x N
                     Berat sampel x 10
Keterangan:
V     = Volume NaOH terpakai (ml)
N     = Normalitas NaOH
BM  = BM asam palmitat

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan
Deasidifikasi dilakukan setelah proses degumming yaitu penghilangan gum, sedangkan deasidifikasi untuk memisahkan asam lemak bebas yang terbentuk oleh enzim, mikroba, uap air dan oksigen pasca panen sawit. Asam lemak bebas harus dihilangkan dari minyak karena dapat menyebabkan ketengikan pada minyak sawit hingga pencoklatan minyak dan kemungkinan menimbulkan keracunan.
     
Praktikum ini dilakukan netralisasi melalui proses kimia dengan alkali. Reaksinya adalah reaksi penyabunan yang terbentuk dari asam lemak bebas. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan kotoran seperti fosfotida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang terbentuk dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi.
     
Tahap awal proses netralisasi yaitu penentuan asam lemak bebas yaitu dengan melakukan titrasi pada CPO. Dari hasil perhitungan perlakuan perebusan menghasilkan asam lemak bebas yaitu 5,34%. Titrasi dengan menggunakan NaOH sehingga dapat diukur seberapa banyak NaOH yang digunakan untuk menghidrolisis ALB pada minyak dan karena telah ditambahkan indikator PP sehingga perubahan dapat dilihat dengan perubahan warna menjadi merah muda pada larutan.
     
Proses selanjutnya yaitu hasil pengukuran kadar asam lemak bebas pada CPO digunakan untuk menghitung jumlah NaOH yang akan digunakan dalam proses netralisasi. Jika diamati, semakin tinggi kadar asam lemak bebas pada minyak maka jumlah NaOH yang digunakan tentu akan semakin banyak. Netralisasi yang baik bergantung pada penggunaan NaOH yang tepat, temperatur yang tepat, waktu kontak yang cukup dan pemisahan yang efisien. Jika tidak maka beberapa gliserida akan tersabunkan dan mengakibatkan peningkatan refinning loss. Suhu yang digunakan yaitu 61°C, suhu yang tepat agar sabun yang terbentuk dalam minyak mengendap dengan cepat dan tepat.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu, cara netralisasi pada CPO berupa tahap perhitungan asam lemak bebas. NaOH berfungsi untuk mengikat dan mengendapkan asam lemak bebas sehingga dapat dipisahkan dari munyak. Semakin besar ALB pada CPO maka semakin besar konsentrasi NaOH yang dibutuhkan pada titrasi. Perhitungan asam lemak bebas pada perlakuan perebusan didapatkan yaitu 5,34%.

5.2  Saran
Sebaiknya setelah dilakukan netralisasi dilakukan perhitungan ALB kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Cadenas E, packer L. 2002. Handbook – of – Antioxidant. Ed ke-2

Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Universitas indonesia Press Jakarta

Pathak MP. 2005. Quality of CPO and Refinning Operations. Proceedings of Chemistry and Technology conference- International Palm Oil Congress, Malaysia. 25-29 September 2005. Malaysia : MPOB. Hal 426-430

Vallent, S. 1996. Formulasi Produk Emulsi Kaya Beta Karoten Dari Minyak Sawit Merah. [Skripsi]. IPB Bogor

Yernisa. 2013. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Jambi


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum Penentuan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Sawit"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!