loading...

Laporan Praktikum : Penentuan Kadar Gula Dengan Refraktometer

LAPORAN PRATIKUM
ANALISIS PANGAN DAN HASIL PERTANIAN


PENENTUAN KADAR GULA DENGAN REFRAKTOMETER






Disusun Oleh:
Muhammad Wasil
J1A114013





JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara garis besar pekerjaan analisis kimia dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Melalui analisis kualitatif dan kuantitatif kita dapat mendeteksi dan mengidentifikasi jenis dan jumlahdari komponen penyusun bahan yang dianalisis atau lebih dikenal sebagai analit. Perkembangan instrument sebagai hasil perkembangan teknologi, memungkinkan kita melakukan analisis dalam berbagai bentuk komposisi analit. (Khopkar, 2007)
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya. . Pengukurannya didasarkan atas prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prisma-cahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas. (Anonim, 2010).
Refraktometer yang digunakan sebelumnya distandarisasi dengan menggunakan larutan tak berkonsentrasi, yaitu aquadest sehingga menunjukan angka 0,00 barulah kemudian dapat digunakan untuk mengukur indeks bias larutan yang spesifik. Kemurnian dan konsentrasi bahan yang digunakan akan terlihat dengan refraktometer dalam waktu singkat. (Mulyono, 1997)           

1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktium ini adalah untuk mengetahui pengukuran kadar gula dengan refraktometer.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gula
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan oligosakarida, polimer dengan derajat polimerisasi 2-10 dan biasanya bersifat larut dalam air yang terdiri dari dua molekul yaitu glukosa dan fruktosa. Gula memberikan flavor dan warna melalui reaksi browning secara non enzimatis pada berbagai jenis makanan. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Dalam industri pangan, sukrosa diperoleh dari bit atau tebu (Winarno 1997)

2.2 Refraktometer
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20 (Anonim, 2010).
Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20oC dan suhu tersebut harus benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks bias. Umumnya alat dirancang untuk digunakan dengan cahaya putih. Setiap zat memiliki konsentrasi sendiri-sendiri. Konsentrasi zat dapat diubah dengan menambahkan zat terlarut atau pelarutnya sendiri. Penambahan zat tidak dilakukan dengan sembarangan, melainkan dengan perhitungan tertentu agar mendapatkan konsentrasi yang diperlukan.Kebanyakan obyek yang dapat kita lihat, tampak karena obyek itu memantulkan cahaya ke mata kita. Pada pantulan yang paling umum terjadi, cahaya memantul ke semua arah, disebut pantulan baur. Sebuah buku di atas meja yang disinari oleh hanya sebuah sumber titik cahaya dapat dilihat dari segenap penjuru ruangan. Supaya lebih tegas misalkan suatu zat adalah udara dan yang di bawah air. Tempuhan cahaya dilukiskan sebagai seberkas sinar akanterlihat jelas jika ada asap atau debu di udara, dan jika air itu mengandung sedikit bahan celup fluoresen. Sebagian dari cahaya yang dating akan dipantulkan oleh permukaan tersebut dan sebagian lagi akan terus ke dalam air atau membias. Arah sinar datang, sinar pantul dan sinar bias ini diperinci atas dasar besar sudut yang dibentuknya dengan garis yang tegak lurus pada permukaan di titik datang. Untuk keperluan ini cukuplah kita melukiskan satu sinar saja, sekalipun cahaya yang terjadi dari satu sinar saja mustahil ada atau hanya merupakan abstraksi geometrikal saja. (Sodiq, 2004)
Pengukuran nilai % obrix larutan gula. Refraktometer dikalibrasi terlebih dahulu ke 0 dengan meneteskan 2 hingga 3 tetes aquades ke permukaan kaca optik. Tekan tombol “meas” sehingga angka %obixnya menunjukkan 0. Kemudian cairan aquades adi dibersihkan menggunakan tisu tanpa menekan permukaan kaca optik. Larutan gula diteteskan ke permukaan kaca optik 2 hinngga 3 tetes, lalu ditutup agar tidak terkena cahaya dari luar. Masing-masing konsentrasi gula dilakukan 3 kali pengulangan untuk mendapatkan nilai atau data yang benar. (Tanjung, 2013)




         
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Penulis melakukan praktikum tempatnya di Laboratorium Kimia Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian sedangkan waktu melakukan praktikum adalah jam 7.30 – 09.30 tanggal 17 Maret  2016.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Refraktometer digital 85%, Refraktometer 45%, Refraktometer manual 32% dan pipet tetes.

3.2.2 Bahan                           
Bahan yang digunakan yaitu larutan sukrosa 0,01 M, fruktosa 0,01 M, sukrosa 1 M, sukrosa 2 M dan sukrosa 3 M.

3.3  Prosedur Kerja
            3.2.1 Refraktometer Manual
            Diteteskan 2 tetes larutan sampel pada prisma alat refraktometer yang telah dibersihkan kemudian ditutup, dilihat angka pada refrekto. Dicatat angka yang terbaca di refraktometer.

            3.2.2 Refraktometer Digital
            Diteteskan 2 tetes larutan sampel pada prisma alat refraktometer yang telah dibersihkan kemudian hidupkan lampu abb refrak “zero” selanjutnya ditekan tombol “read”. Lalu catat angka yang terbaca di refraktometer.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
                                                        
No
Hasil baca Refraktometer
Larutan
Digital 85% brix
Manual 32% brix
Digital 45% brix
1
Fruktosa 0,01 M
0
3% brix
(Tidak dilakukan pengukuran)
2
Sukrosa 0,01 M
0
2,9% brix
(Tidak dilakukan pengukuran)
3
Sukrosa 1 M
31,97% brix
Tidak terbaca
34,6% brix
4
Sukrosa 2 M
16,7% brix
19,06% brix
15,5% brix
5
Sukrosa 3 M
45,4%
Tidak terbaca
Tidak terbaca


4.2  Pembahasan

Pada praktikum kali ini untuk mengetahui kadar gula pada larutan, yaitu dengan pengamatan berdasarkan prinsip bahwa penentuan kadar atau konsentrasi larutan gula di dasarkan indeks bias larutan gula dengan menggunakan alat refraktometer. Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar / konsentrasi bahan terlarut. Refraktometer bekerja berdasarkan prinsip pemanfaatan refraksi cahaya, pengukurannya didasarkan atas prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prisma-cahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas.
Pada praktikum ini dilihat pada tabel bahwa sukrosa 1 M dihitung menggunakan refraktometer digital 85% dan refraktometer 45% didapatkan hasil yang berbeda yaitu 31,97% brix dan 34,6% brix, namun hasil ini tidak terlalu jauh disebabkan kepekaan alat berbeda-beda dan untuk mendapatkan hasil yang akurat dapat dilakukan pengulangan. Namun pada refraktometer manual 32% brix hasil tidak terbaca dikarenakan telah melebihi kapasitas % brix. Pada sukrosa 2 M dihitung dengan menggunakan refraktometer digital 85% dan 45% didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda yaitu 16,7% brix dan 15,5% brix, pada refraktometer manaual 32% brix didapatkan hasil 19,6% brix, sedangkan pada sukrosa 3 M diperoleh hasil pada refraktometrer digital 85% brix didapatkan 45,4% brix, pada refraktometer digital 45% brix dan refraktometer manual 32% brix didapatkan hasil tidak terbaca dikarenakan melebihi kapasitas.
Pada larutan fruktosa 0,01 M dan sukrosa 0,01 M tidak terbaca pada refraktometer digital 85% brix karena karena dibawah 0 dan terlalu kecil untuk di deteksi dan pada refraktometer manual 32% brix didapatkan hasil 3% brix dan 2,9% brix.






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan glukosa maka semakin begula indeks biasnya. Pada kandungan gula yang terlalu rendah dan terlalu tinggi melebihi % brix tidak dapat terbaca pada alat refraktometer.

5.2 Saran
Diharapkan kepada mahasiswa dapat menggunakan alat sesuai dengan cara kerjanya dan mengamati indeks bias yang tertera pada refraktometer dengan baik.



















Daftar Pustaka

Anonim, 2010. Refraktometer. http://www.scribd.com/doc/28934767/laporan-praktikum

Khopkar, S.M, 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press

Mulyono. 1997. Kamus Pintar Kimia. Jakarta: Erlangga

Sodiq, Ibnu. 2004. Kimia Analitik I. Malang : JICA

Winarno, 1997. Kimia Analitik.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum : Penentuan Kadar Gula Dengan Refraktometer"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!