loading...

Laporan Praktikum : Makalah Kromatografi


MAKALAH

KIMIA ANALITIK

“Kromatografi”




















Oleh :












TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN 
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI
 2017







BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Sekarang ini deteksi sifat spesifik suatu senyawa menjadi sangat penting, terutama dalam bidang farmasi, kimia, dan klinik, serta bidang lainnya. Suatu analisis kimia seperti pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum identifikasi dan pengukuran banyak dilakukan. Banyak metode analisis seperti spektrofotometri, manganometri, atau lainnya, akan tetapi semuanya membutuhkan kerja ekstra dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil analisis dibandingkan dengan teknik kromatografi. Dengan alasan inilah penyusun membahas tentang kromatografi, terutama kromatografi kolom. Tanpa teknik kromatografi, sintesis senyawa murni (atau hampir murni) akan sangat sukar, dan dalam banyak kasus, hampir tidak mungkin. Pada umumnya sebelum suatu senyawa diidentifikasi dan dapat di ukur kadarnya, perlu di pisahkan dari matriknya. Oleh karna itu, pemisahan merupakan langkah penting dalam analisi kualitatis. Suatu analisis kimia menjadi meragukan jika pengukuran sifat tidak berhubungan dengan sifat spesifik senyawa terukur. Analisis meliputi pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum identifikasi dan pengukuran. Terdapat banyak teknik pemisahan tetapi kromatografi merupakan teknik yang paling banyak di gunakan.

Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini telah banyak digunakan, dibandingkan dengan metode yang lainnya seperti detilasi, kristalisasi, pengendapan, ekstraksi, dan lain-lain mempunyai keuntungan dalam pelaksanaan yang lebih sederhana, penggunaan waktu yang sangat singkat terutama mempunyai kepekaan yang tinggi serta mempunyai kemampuan memisahkan yang tinggi, Metode ini digunakan, jika dengan metode lain tidak dapat di lakukan misalnya karena jumlah cuplikan sangat sedikit atau campurannya kompleks. Meskipun dasar kromatografi adalah suatu proses pemisahan namun banyak diantara cara ini dapat digunakan untuk







analisi kuatitatif. Jenis-jenis kromatografi yang bermanfaat dalam analisis kualitatif dan analisis kuantitatif adalah kromatografi kertas, kromatigrafi lapis tipis (KLT), kromatografi kolom, kromatografi gas, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Kromatografi kertas dan KLT pada umunya lebih bermanfaat untuk tujuan indentifikasi, karena lebih mudah dan sederhana.

Teknik pemisahan kromatografi dilakukan untuk mendapatkan pemisahan campuran diantara dua fase. Fase tersebut adalah fase diam dan fase gerak. Fase diam dapat berupa zat cair dan zat padat, sedangkan fase gerak dapat berupa zat cair atau gas. Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat. Karena pemanfaatannya yang leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif. Biasanya, kromatografi analitik dipakai pada tahap permulaan untuk semua cuplikan, dan kromatografi preparatif hanya dilakukan jika diperlukan fraksi murni dari campuran. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Pemisahan senyawa biasanya menggunakan beberapa teknik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Berdasarkan uraian tersebut, maka akan dibahas tentang pemisahan dengan cara kromatografi.



1.2 Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah bagi penulis dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud dengan kromatografi ?

2.      Apa jenis-jenis kromatografi  ?

3.      Bagaimana contoh penerapan pemisahan dengan cara kromatografi ?


1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.   Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :








a)      Untuk mengetahui kromatografi

b)      Untuk mengetahui jenis-jenis kromatografi

c)      Untuk mengetahui contoh penerapan pemisahan dengan cara kromatografi

2.   Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan penulis dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

a)      Sebagai salah satu tugas praktikum mata kuliah Kimia Analitik pada Semester enam (6) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Tahun Akademik 2016/2017.

b)      Sebagai bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut.




















































BAB II

       PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Kromatografi

Metode kromatografi merupakan metode yang banyak digunakan dalam aplikasi industri untuk sampel gas dan uap. Kromatografi berasal dari kata cromatography yang bersal dari bahasa Yunani yang berarti “berwarna” karena metode ini pada awalnya digunakan untuk pemisahan zat warna.

Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli botani RusiaMichael Tsweet pada tahun 1903 untuk memisahkan pigmen berwarna dalam tanaman dengan cara perkolasi esktrak petroleum eter dalam kolom gelas yangberisi kalsium karbonat (CaCo3). Saat ini kromatografi merupakan teknik pemisahan yang paling umum dan paling sering digunakan dalam bidang kimia analisis dan dapat dimanfaatkan untuk melakukan analisis, baik analisis kualitatif, kuantitatif, atau preparative dalam bidang farmasi, lingkungan, industri, dan sebagainya. (Rohman, 2007).

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasrkan perbedaan pola pergerakannya antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase diam.Molekul yang memiliki ikatan yang kuat dengan kolom akan cenderung bergerak lebih lambat dibandingmolekul yang berikatan lemah. Dengan ini, berbagai macam tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan pergerakan pada kolom.

Pada kolom kromatografi terdapat fasa diam yang umumnya terbuat dari material padatan yang dapat mengabsorpsi komponen-komponen dalam sampel. Fasa diam ini dapat berupa cairan yang melarutlkan komponen-komponen dalam sampel. Komponen-komponen dalam sampel masuk ke dalam kolom kromatografi yang mengandung fasa diam, dan terjadi interaksi antara komp0nen-komponen yang terbawa oleh fasa gerak dan fasa diam. Interaksi ini berbeda-beda untuk masing-masing komponen yang terdapat







dalam campuran tersebut, sehingga terjadi proses pemisahan. Setelah komponen-komponen dalam sampel terpisah, masing-masing komponen tersebut dideteksi oleh detektor yang terdapat pada peralatan kromatografi. Signal yang keluar dari detektor kromatografi dapat di plot terhadap waktu. Plot signal terhadap waktu ini disebut “kromatogram”

2.2 Jenis-Jenis Kromatografi

Umumnya metode kromatografi diklasifikasikan berdasarkan jenis fasa yang digunakan dan sebagian berdasarkan mekanisme pemisahannya. Berdasarkan fasa gerak dan fasa diamnya , kromatografi dapat di bedakan atas berbagai tipe sebagai berikut:

2.2.1    Kromatografi berdasarkan prinsip/mekanisme pemisahannya

a). Kromatografi cair-padat (Kromatografi Adsorpsi)

Kromatografi adsorpsi adalah teknik kromatografi tertua dioperasikan berdasarkan retensi terlarut pada permukaan adsorben. Pada kromatografi adsorpsi, fasa stasionernya terdiri atas zat padat dan fasa mobilnya terdiri atas zat gas atau zat cair.

Adsorpsi merupakan penyerapan pada permukaannya saja dan jangan sekali-kali dikacaukan dengan proses absorpsi yang berarti penyerapan keseluruhan. Adsorpsi pada permukaan melibatkan interaksi-interaksi elektrostatik seperti ikatan hidrogen, penarikan dipol-dipol, dan penarikan yang diinduksi oleh dipole.Silika gel merupakan jenis absorben (fase diam) yang penggunaannya paling luas.Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-O-Si dan gugus silanol (Si-OH). Kromatografi Adsorpsi seperti:

1)            Kromatografi Kertas

Pada kromatografi kertas sebagai penjerap digunakan sehelai kertas dengan susunan serabut dan tebal yang sesuai.Sebagai alternatif dapat juga digunakan sistem dua fase.Kertas diimpregnasi dengan salah satu fase yang kemudianmenjadi fase diam (umumnya fase yang lebih polar dalam hal kertas yang dimodifikasi).Kromatogram dilakukan dengan merambatkan fase gerak,







melalui kertas. Dapat dilakukan kromatografi menaik, pelarut merambat naik pada kertas ditarik oleh gaya kapiler ataupun kromatografi menurun, pelarutnya mengalir oleh gaya gravitasi.




2)            Kromatografi Lapis Tipis

Pada KLT, zat penjerap merupakan lapis tipis serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca. Plastik atau logam secara merata, umumnya digunakan lempeng kaca. Pemisahan yang tercapai dapat didasarkan pada adsorpsi, partisi atau kombinasi dari kedua efek, tergantung jenis penyangga, cara pembuatan, dan jenis pelarut yang digunakan. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dan ukuran yang hamper sama. Dengan menotolkan zat uji dan baku pembanding pada lempeng yang sama. Bercak dapat dikerok dari lempeng, kemudian diekstraksi dengan pelarut yang sesuai dan diukur secara spektrofotometri.

Kromatografi kertas termasuk kromatografi partisi.Fasa diamnya air dan fasa penyokongnya adalah selulosa.Fasa geraknya biasanya merupakan campuran dari salah satu pelarut-pelarut organik atau air.Setelah elusi selesai, noda ditandai dengan penanda.Bila noda tidak berwarna maka harus dideteksi secara fisika dan kimia.

a.            Secara fisika dengan menggunakan uap iodium, lampu UV

b.            Secara kimia dengan menggunakan pereaksi cerium sulfat,

dragendrof, liberman burchard.

Kecepatan elusi pada kromatografi kertas dipengaruhi oleh:

a.              Ketebalan kertas

b.            Kekentalan eluen

c.              Pelarut, jangan menggunakan pelarut yang terlalu cepat










menguap.

Pada kromatografi kertas, eluen bergerak berdasarkan gaya kapiler dari bawah keatas (ascending) sama dengan KLT. Tetapi bisa juga dengan gaya gravitasi bila elusinya dari atas ke bawah (descending). Eluen yang digunakan pada kromatografi kertas umumnya adalah campuran berbagai pelarut terutama air.

Kertas kromatografi yang sering digunakan adalah kertas whatmann yang beredar bermacam-macam seperti ukuran 20 x 20 cm, 5 x 100 cm dan 50 x 50 cm.

Kromatografi kertasserat fasa penyokongnya lebih pendek, bercaknya lebih kecil dari pada KLT (kromatografi lapis tipis), waktunya lebih lama dari pada adsorben lain, tapi lebih singkat dari pada KLTtidak bisa menggunakan pereaksi H2SO4 karena selulosa akan terdekomposisi




b). Kromatografi Cair-cair (Kromatografi Partisi)

Partisi merupakan analog dengan ekstraksi pelarut.Fase diam diikatkan pada padatan lapis tipis yang lembam (inert). Karena fase diam cair diikatkan pada padatan pendukung maka masih diperdebatkan apakah proses adsorpsinya merupakan partisi murni atau partisi yang dimodifikasi karena absorpsi juga mungkin terjadi (Rohman,2007).

Cara ini didasarkan pada partisi linarut antara dua pelarut yang tak bercampur, salah satunya diam (fase diam) dan yang lainnya bergerak (fase gerak). Pada tahap awal KC, fase diam dibuat dengan cara yang sama seperti membuat penyangga kromatografi gas (Johnson, Stevenson,1991).

Fase diam pada kromatografi Jenis ini berupa lapisan tipis cairan yang terserap pada: padatan inert berpori, yang berfungsi sebagai fase pendukung.

c). Pertukaran Ion











Cara ini didasarkan pada pertukaran (penjerapan) ion antara fase gerak dan titik ion pada kemasan.Banyak dammar diperoleh dari kopolimer stirena divinilbenzena yang telah ditambahi gugus fungsi.Dammar jenis asam sulfonat dan jenis amin kuartener merupakan pilihan terbaik untuk sebagian besar pemakaian.Baik fase terikat maupun dammar telah digunakan. Cara tersebut banyak dipakai dalam ilmu hayat, contohnya pemisahan asam amino, dan dapat pula dipakai untuk pemisahan kation dan anion (Jonhson, Stevenson,1991).

d). Kromatografi Eksklusi

Eksklusi berbeda dari mekanisme sorpsi yang lain, yakni dalam eksklusi tidak ada interaksi spesifik antara solute dengan fase diam. Teknik ini unik karena dalam pemisahan didasarkan pada ukuran molekul dari zat padat pengepak (fase diam). Pengepak adalah suatu gel dengan permukaan berlubang-lubang sangat kecil (porous) yang inert.Sebagai fase gerak digunakan cairan. Kromatografi jenis ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan bentuk struktur dan ukuran molekul (Rohman,2007).

e). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Kromatografi cair kinerja tinggi atau KCKT atau biasa juga disebut dengan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dikembangkan pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an. Saat ini, KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam cairanfisiologis;menentukan kadarsenyawa-senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintesis.

2.2.2     Kromatografi berdasarkan Fase yang digunakan

a). kromatografi Padat cair

Bila fase geraknya berupa air sedangkan fase diamnya berupa padatan yang amorf yang dapat menyerap.

b. Kromatografi gas-padat









Bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa padatan yang dapat menyerap/mengadsorp.

c. Kromatografi cair-cair

Bila fase gerak dan diamnya berupa cairan, dimana fase diamnya dilapisi pada permukaan padatan pendukung yang inert

d. Kromatografi gas-cair

Bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa cairan yang dilapiskanpada padatan pendukung yang inert.

2.2.3     kromatografi berdasarkan Alat yang digunakan

a).  Kromatografi Kolom

Apabila komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fase gerak melalui sebuah kolom kemudian setiap komponen terpisahkan berupa zona-zona pita. Pada kromatografi analitik setiap komponen yang keluar dari kolom akan dicatat oleh rekorder dan disajikan dalam bentuk puncak (peak) yang menunjukkan konsentrasi eluen sebagai fungsi waktu. Untuk suatu senyawa yang mengandung komponen tunggal akan ditandai dengan waktu elusi yang tampak pada konsentrasi eluen maksimum. Tinggi atau luasan puncak sebanding dengan konsentrasi komponen sampel. Pada kromatografi preparatif, akan diperoleh sejumlah fraksi isolate dari komponen sampel dalam fase gerak.

b).HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

Teknik pemisahan HPLC memiliki banyak keunggulan dibanding dengan kromatografi lainnya, diantaranya adalah: cepat dalam proses analisa, resolusi yang lebih tinggi, sensitivitas detektor yang lebih tinggi, kolom yang dipakai dapat digunakan kembali, ideal dan cocok untuk zat bermolekul besar dan berionik dan mudah untuk rekoveri sampel. HPLC boleh dibilang sebagai teknik tercanggih dalam metode kromatografi. HPLC juga menggunakan sistem instrumen seperti pada kromatogarfi gas. Di dalam teknik ini juga


digunakan tekanan dan kecepatan yang cukup tinggi sehingga mampu dihasilkan resolusi yang lebih baik.

c) Kromatografi Kertas

Pada kromatografi kertas, eluen bergerak berdasarkan gaya kapiler dari bawah keatas (ascending) sama dengan KLT. Tetapi bisa juga dengan gaya gravitasi bila elusinya dari atas ke bawah (descending). Eluen yang digunakan pada kromatografi kertas umumnya adalah campuran berbagai pelarut terutama air.

Kertas kromatografi yang sering digunakan adalah kertas whatmann yang beredar bermacam-macam seperti ukuran 20 x 20 cm, 5 x 100 cm dan 50 x 50 cm. Kromatografi kertas serat fasa penyokongnya lebih pendek, bercaknya lebih kecil dari pada KLT (kromatografi lapis tipis), waktunya lebih lama dari pada adsorben lain, tapi lebih singkat dari pada KLTtidak bisa menggunakan pereaksi H2SO4 karena selulosa akan terdekomposisi.

d). Kromatografi Cair Vakum

Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode fraksinasi yaitu dengan memisahkan crude extract menjadi fraksi-fraksinya yang lebih sederhana. Pemisahan tersebut memanfaatkan kolom yang berisi fasa diam dan aliran fasa geraknya dibantu dengan pompa vakum.Fasa diam yang digunakan dapat berupa silika gel atau alumunium oksida (Ghisalberti, 2008).

e). Kromatografi Planar (Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Kertas)

Apabila komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fase gerak dalam sebuah bidang datar. Senyawa yang bergerak berupa bentuk noda (spot) yang dapat dikenali dengan bantuan metode fisika, kimia, maupun biologis. Posisi noda menunjukkan identitas suatu komponen / senyawa, sedangkan besar atau intensitasnya menunjukkan konsentrasinya. Pada kromatografi planar beberapa komponen dapat dipisahkan secara bersamaan
maupun dipisahkan dengan dua langkah yang pertama, Cara ini dikenal dengan metode kromatografi dua dimensi.


2.3 Contoh Pemisahan Dengan Cara Kromatografi

Salah satu contoh pemisahan dengan cara kromatografi adalah pemisahan Pemisahan ekstrak purwoceng dapat menggunakan teknik kromatografi lapis tipis (KLT). Teknik ini merupakan suatu cara pemisahan komponen senyawa kimia di antara dua fase, yaitu fase gerak dan fase diam (Kartasubrata, 1987). Teknik tersebut hingga saat ini masih digunakan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa kimia, karena murah, sederhana, serta dapat menganalisis beberapa komponen secara serempak (Hernani, 1999). Teknik standar dalam melaksanakan pemisahan dengan KLT diawali dengan pembuatan lapisan tipis adsorben pada permukaan plat kaca (Institut Teknologi Bandung 1995). Tebal lapisan bervariasi, bergantung pada analisis yang akan dilakukan (kualitatif atau kuantitatif).

Pemisahan komponen kimia dari ekstrak purwoceng secara KLT bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam ekstrak tersebut. Percobaan dibuat dengan berbagai pereaksi (eluen) untuk mengetahui eluen atau pereaksi yang dapat memperoleh komponen terbanyak dari ekstrak purwoceng (Hayani, dan may, 2005).

Purwoceng yang diamati berasal dari ekstrak metanol akar dan daun. Tanaman purwoceng yang telah digiling, ditimbang 100 g lalu dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambahkan 300 ml metanol, dan dikocok selama 2 jam.

Campuran lalu didiamkan semalam dan disaring. Ampasnya ditambah metanol 100 ml lalu dikocok selama 2 jam, didiamkan semalam, filtratnya disatukan, ampasnya ditambahkan lagi 100 ml metanol, dikocok selama 2 jam, didiamkan semalam, filtratnya disatukan kemudian seluruh filtrat dipekatkan dengan menggunakan evaporator (Hayani dan may, 2005).

Beberapa pereaksi atau eluen digunakan untuk memperoleh eluen yang tepat untuk pemisahan komponen dari ekstrak purwoceng. Eluen yang digunakan adalah: (1) heksana : diklorometan (DCM) : metanol (MeOH) =


20:10 :1; (2) sikloheksana : etil asetat = 4:1; (3) toluen : eter = 1:1; (4)

sikloheksana : aseton = 2:1; (5) eter : sikloheksana = 1:1; (6) etil asetat :

toluen = 4:6; (7) sikloheksana : aseton : toluen = 2:1:0,5; serta (8) toluen : etil

asetat : sikloheksana = 3:1:1 (hayani dan may, 2005).

Eluen yang diperlukan adalah 30 ml larutan pereaksi dalam bejana pengembang untuk memisahkan komponen dalam ekstrak yang telah diteteskan pada plat kaca silica gel. Sebagai contoh penggunaan pereaksi sikloheksan : etil asetat = 4 : 1 adalah campuran 24 ml sikloheksan dan 6 ml etil asetat yang terdapat dalam bejana pengembang. Begitu pula campuran beberapa pereaksi untuk keperluan proses pengembangan dalam bejana (Hayani dan may, 2005).

Adsorben sebagai fase diam yang digunakan yaitu silica gel 60 GF254 yang ketebalan pada plat 250µm. Pendeteksi komponen adalah H2 SO4 50% dan KOH 10% dalam alkohol (Hayani dan may, 2005).

Pada media fase diam (plat kaca) yang telah dilapisi silica gel 60 GF254 setebal 250 µm diteteskan contoh ekstrak purwoceng dengan menggunakan pipet kapiler pada jarak 1,5 cm dari bagian bawah plat. Selanjutnya plat dimasukkan ke dalam bejana pengembang yang telah berisi pereaksi atau eluen jenuh, didiamkan sehingga batas eluen sekitar 15 cm dari awal penetesan pada plat kaca atau media fase diam yang berukuran 20 cm x 20 cm. Plat kaca lalu diangkat hingga pereaksi atau eluen menguap semua pada suhu kamar. Komponen atau spot yang terdapat pada plat diamati di bawah lampu ultra violet atau disemprot pereaksi penampak noda, dipanaskan dalam oven pada suhu 105o C selama 10 menit. Setelah dingin diukur harga Rf dari masing-masing komponen. Harga Rf adalah perbandingan tinggi eluen pada plat silica gel dengan tinggi spot (Hayani dan may, 2005).

Pemisahan komponen dengan KLTdipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu ruang, kejenuhan uap pereaksi, ketebalan fase diam, dan cara penetesan contoh ekstrak. Kromatografi adsorbsi umumnya lebih mudah dilaksanakan karena polaritas adsorbennya tetap, sehingga pemisahan dapat dilaksanakan dengan memanipulasi polaritas pelarutnya (Adnan, 1997).










BAB III

      PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :

1.  Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasrkan perbedaan pola pergerakannya antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan

2.      Jenis kromatografi antara lain : kromatografi padat-cair, kromatografi cair-cair dan kromatografi gas-padat.




3.2 Saran

Sebaiknya dalam melakukan metode kromatografi hendaknya harus dipahami terlebih dahulu prinsip kerja dari kromatografi dan pengetahuan tentang cara penggunaan metode kromatografi













DAFTAR PUSTAKA



Abdul Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. ANDI, Yogyakarta. hlm. 6.

Eni Hayani dan May. S. 2005. Teknik Pemisahan Komponen Ekstrak Purwoceng Secara Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Teknik Pertanian. Volume 10 (2) : 83-85.

Ghisalberti, E.L. 2008. Detection and Isolation of Bioactive Natural Products in Bioactive Natural Products: Detection, Isolation, and Structural Determination, Taylor & Francis Group Inc. , U.S.A.

Hernani. 1999. Teknik identifikasi bahan aktif pada tumbuhan obat. Makalah pada

Seminar  Pendalaman  Materi  di  Balai  Penelitian  Tanaman  Rempah  dan

Obat, Bogor. 13 hlm.

Institut Teknologi Bandung. 1995. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi (Terjemahan). Institut Teknologi Bandung. hlm. 256.

Johnson, E.L., dan Stevenson, R., 1991, Dasar Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Penerbit ITB Bandung.

Kartasubrata, Y. 1987. Dasar-dasar kromatografi. Makalah pada Kursus Metode Analisis Instrumental. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kimia Terapan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung. 17 hlm.

Sastrohamodjojo Harddjono. 1985. Kromatografi. IPB Press. Bogor 1985

Sudjadi.1988.Metode Pemisahan.: Yogyakarta: Konsius.














Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Praktikum : Makalah Kromatografi"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!