loading...

Laporan Mesin dan Peralatan Pengolahan Sortasi dan Grading

LAPORAN PRAKTIKUM 
Mesin dan Peralatan Pengolahan Sortasi dan Grading




BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kegiatan pasca panen bertujuan mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen, menekan losses atau kehilangan karena penyusutan dan kerusakan, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomis hasil pertanian.
Kegiatan penanganan pasca panen umumnya masih belum cukup baik dilakukan oleh petani, packing house (rumah kemasan) maupun pedagang. Saat ini, kegiatan pasca panen di tingkat petani umumnya dilakukan secara tradisional dengan alat yang sederhana.
Sebelum memasuki proses pengolahan, bahan pangan perlu dilakukan pembersihan, sortasi, dan grading untuk mengurangi kerugian dan kegagalan produksi serta menghasilkan produk yang berkualitas dan bermutu. Oleh karena itu sebelum dipasarkan, bahan pangan  harus melalui proses sortasi dan grading.

Tujuan
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mengidentifikasi sortasi sederhana, dan menganalisis serta menerapkan prinsip sortasi dan grading pada bahan pangan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sortasi dan Grading
Sortasi adalah pemisahan bahan yang sudah dibersihkan ke dalam berbagai fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik ( kadar air, bentuk, ukuran, berat jenis, tekstur, warna, benda asing/ kotoran ), kimia ( komposisi bahan, bau dan rasa ketengikan ) dan biologis ( jenis dan jumlah kerusakan oleh serangga, jumlah mikroba dan daya tumbuh khususnya pada bahan pertanian berbentuk bijian ) ( Raharjo, 1976 ).
Ada dua macam proses sortasi, yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya dari simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, maka bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak,serta pengotoran lainnya harus dibuang. Hal tersebut dikarenakan tanah merupakan salah satu sumber  mikroba yang potensial. Sehingga, pembersihantanah dapat mengurangi kontaminasi mikroba pada bahan obat. Sedangkan sortasi kering pada dasarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuannya untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran lain yang masih tertinggal pada simplisia kering. Sortasi dapat dilakukan dengan atau secara mekanik (Tjahjadi, 2011).
Adapun tujuan Sortasi antara lain :
a) Untuk memperoleh simplisia yang dikehendaki, baik kemurnian maupun kebersihannya (Widyastuti, 1997).
b) Memilih dan memisahkan simplisia yang baik dan tidak cacat.
c) Memisahkan bahan yang masih baik dengan bahan yang rusak akibat kesalahan panen atau serangan patogen, serta kotoran berupa bahan asingyang mencemari tanaman obat (Santoso, 2009).
d) Memperoleh kualitas yang lebih baik dan seragam (baik bahan mentah maupun produk akhir yang dihasilkan)
e)  Memberikan standarisasi dan perbaikan-perbaikan cara pengolahannya
f) Menawarkan beberapa kualitas kepada konsumen dengan harga yang sesuai dengan kualitasnya.
Grading adalah proses pemilihan bahan berdasarkan permintaan konsumen atau berdasarkan nilai komersilnya. Sortasi dan grading berkait erat dengan  tingkat  selera konsumen suatu produk  atau  segmen pasar yang akan dituju dalam pemasaran suatu produk. Terlebih apabila yang akan dituju adalah segmen pasar tingkat menengah ke atas dan atau segmen pasar luar negeri. Kegiatan sortasi dan grading sangat menentukan apakah suatu produk laku pasar atau tidak.Pada kegiatan grading, penentuan mutu hasil panen biasanya didasarkanpada kebersihan produk, aspek kesehatan, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak adanya serangan/ kerusakan oleh penyakit, adanya kerusakan oleh serangga, dan luka/ lecet oleh faktor mekanis ( Desrosier, 1969 ).
Pada usaha budidaya tanaman, penyortiran produk hasil panenan dilakukan secara manual, yaitu menggunakan tangan. Sedang grading dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin penyortir. Grading secara manual memerlukan tenaga yang terampil dan terlatih, dan bila hasil panen dalam jumlah besar akan memerlukan lebih banyak tenaga kerja ( Buckle, 1987 ).

2.2 Analisis Bahan
2.2.1 Pisang
Pisang adalah tanaman buah berupa herbal yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.
Pisang adalah buah paling popular daripada buah-buah tropis lainnya. Berasal dari Asia tropis, budidaya pisang tersebar luas di Afrika sekitar 3000 tahun yang lalu dan tersebar di Amerika setelah Colombus. Namun, asal usul pisang dari Asia masih terselubung dalam misteri.
Pisang merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang cukup tinggi. Pati yang terkandung dalam pisang lebih mudah dicerna daripada karbohidrat kompleks lainnya, sehingga mempunyai peranan dalam memicu pembakaran lemak dan menimbulkan efek yang mengenyangkan. Kandungan potassium yang terdapat pada pisang  emberikan efek yang baik bagi ginjal dan juga dapat meredakan stress. Pisang juga mempunyai kandungan serat dan vitamin yang dapat meningkatkan system daya tubuh dari sumber penyakit.
Buah pisang merupakan produk hortikultura mempunyai arti penting bagi peningkatan gizi masyarakat karena buahnya merupakan sumber vitamin (A, B1 dan C), mineral (kalium, natrium, chlor, magnesium, posfor) dan karbohidrat 25% yang mudah dicerna.
2.2.2 Buncis
Buncis (Phaseolus vulgaris .L.) merupakan tanaman sayuran yang banyak
dimanfaatkan baik oleh ibu rumah tangga maupun industri pengolahan yang membutuhkan dalam jumlah besar. Selain dikonsumsi di dalam negeri, buncis merupakan produk ekspor ke Singapura, Hongkong, Australia, Malaysia, dan Inggris. Bentuk ekspor tersebut bermacam-macam, dalam bentuk polong segar, didinginkan atau dibekukan, dan ada pula yang berbentuk biji kering.
Saat ini produksi buncis dalam negeri relatif masih rendah. Usaha-usaha peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan cara intensifikasi, antara lain penggunaan bibit unggul, perbaikan cara bercocok tanam dan penanganan pasca panen yang baik.
Buncis yang telah dipanen sering kali mengalami kerusakan akibat pengangkutan hasil produk dari lapangan atau penanganan pasca panen yang kurang intensif sehingga tidak sedikit hasil panen terbuang sia-sia. Cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan kegiatan yang intensif pada setiap tahapan mulai dari kegiatan budidaya di lapangan, pengangkutan, perlakuan pasca panen dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan penyimpanan seperti suhu dan kelembaban, sampai dengan pemasaran. Penanganan pasca panen yang baik memerlukan koordinasi dan integrasi yang hati-hati dari seluruh tahapan dari pemanenan sampai ke tingkat konsumen untuk mempertahankan mutu. Buncis yang selesai dipanen harus segera dilakukan penanganan pasca panen agar mutunya dapat dipertahankan tetap tinggi serta kehilangan hasil dapat ditekan, sehingga mutu buncis bisa mendekati standar yang telah ditetapkan oleh pasar.

2.2.3 Kacang Hijau
Kacang hijau memiliki manfaat yang sangat penting untuk kesehatan, karena memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Dalam 100 gram kacang hijau mengandung karbohidrat sebesar 62,5gr ; protein 22,2 gr ; lemak 1,5 gr ; vitamin A 9 IU ; vitamin B1 150-400 IU dan juga mineral seperti kalsium, belerang, mangan dan besi. Komponen ini diperlukan dalam tumbuh kembang dan juga menjaga kesehatan tubuh manusia.
Varietas unggul kacang hijau umumnya berumur genjah (pendek) yaitu saat tanaman berumur 58-65 hari setelah tanam. Untuk varietas yang berumur panjang baru dipanen pada umur maksimal 100 hari setelah tanam. Untuk benih, pemanenan dilakukan bila polong sudah tua dan benih telah keras.
Ketepatan panen untuk kacang hijau sangat penting karena polongnya mudah pecah jika kering sehingga akan banyak benih yang hilang di lapang. Demikian pula waktu panen, hendaknya tidak dilakukan saat hujan atau saat pagi hari dimana masih ada embun karena akan meningkatkan kadar air benih






BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 29 september 2017 pukul 15.20-17.00, di Laboratorium Pengolahan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi kampus pondok meja.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah jangka sorong, timbangan, wadah, panic dan alat pemanas. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pisang dengan berbagai tingkat kematangan, buncis, dan kacang hijau.

3.3 Prosedur
Disiapkan alat dan bahan. Lalu dilakukan sortasi dan grading berdasarkan ukuran dan criteria tertentu. Kemudian ditimbang masing-masing fraksi bahan. Selajutnya diamati sifat organoleptik dari tiap fraksi.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
 Tabel 4.1.1 Pengamatan Buncis
No.
Grade
Berat (gr)
Persentase (%)

1.
3
51,4
21

2.
4
135,1
54

3.
5
63,2
25

Total
249,7 gr
100 %


Tabel 4.1.2 Pengamatan Pisang
Fase Kematangan
Warna Kulit Pisang
Kekerasan
Aroma
Berat (gr)

1 (pra matang)
Hijau
Keras
Tidak Khas
526,5

2 (matang)
Hijau sedikit kuning
Agak lembut
Khas Pisang
494

7 (masak)
Kuning, sedkit bintik coklat
Lunak
Khas Pisang
477,5

Total
1498 gr


Tabel 4.1.3 Pengamatan Kacang Hijau
 Fraksi Kacang Hijau
Bentuk
Ukuran
Warna
Cacat
Berat (gr)
Persentase (%)

Muda
Oval
Membesar
Hijau pucat
-
 62,4
25%

Tua
oval
Agak membesar
Hijau pekat
keriput
 187,3
75%

Total
249,7
100%

4.2 Pembahasan
Sortasi ialah suatu kegiatan pemilihan dan pemisahan bahan industri untuk mendapatkan keseragaman dengan kriteria tertentu.
Pada praktikum sortasi dan grading, percobaan yang kami lakukan ialah sortasi dan grading pada bahan buncis, pisang dan kacang hijau. Buncis disortasi berdasarkan ukuran pada buncis. Buncis yang digunakan memiliki berat 249,7 gr. Buncis pada grade no 3 sebesar 21%, pada grade no 4 sebesar 54% dan pada grade 5 sebesar 25 %. Hal ini berarti buncis yang digunakan seragam sifat organoleptiknya pada grade no 3,4 dan 5.
Pada bahan pisang diamati sifat organoleptiknya yaitu aroma dan kekersan buah. Pisang yang digunakan adalah pisang pra matang, matang dan masak. Pisang pra matang dengan berat 526, 5 gr termasuk ke dalam fase 1 dengan warna hijau dan tekstur keras serta beraroma tidak khas pisang.Pisang matang dengan berat 494 gr termasuk ke dalam fase 2 dengan warna hijau, sedikit kuning dan memiliki tekstur agak lembut dan beraroma khas pisang. Sedangkan pisang masak dengan berat 477,5 gr termasuk ke dalam fase 7 dengan warna kuning dengan sedikit bintik-bintik coklat dan memiliki tekstur lunak serta beraroma khas pisang.
Pada bahan kacang hijau, disortasi kacang dengan diameter terbesar untuk dilakukan perlakuan selanjutnya.Kacang dengan diameter paling besar memiliki total berat 249,7 gr. Setelah dilakukan grading dengan cara mencelupkan bahan kedalam larutan garam didapatkan hasil bahwa fraksi kacang hijau muda mengendap sebanyak 25% yaitu 62,4 gr dengan bentuk oval dan mengalami perbesaran ukuran. Sedangkan fraksi kacang hijau tua mengalami perubahan menjadi keriput sebanyak 75% yaitu 187,3 gr.
Dari semua hasil pengamatan dapat dilihat terjadinya pengkelasan atau adanya kriteria- kriteria yang digunakan maupun dihasilkan dari setiap proses sortasi. Hal ini tentu sesuai dengan defenisi atau fungsi dari sortasi yaitu proses pemisahan bahan yang sudah dibersihkan ke dalam berbagai fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik, kimia dan biologis.



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada masing-masing bahan terjadinya pengkelasan atau adanya kriteria- kriteria yang digunakan maupun dihasilkan dari setiap proses sortasi. Hal ini sesuai dengan defenisi atau fungsi dari sortasi yaitu proses pemisahan bahan yang sudah dibersihkan ke dalam berbagai fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik, kimia dan biologis.

5.2 Saran
Perlunya kelengkapan alat untuk pengamatan yang maksimal pada tiap bahan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Laporan Mesin dan Peralatan Pengolahan Sortasi dan Grading"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!