loading...

Laporan Praktikum Analisis Vitamin C


          LAPORAN PRAKTIKUM       
ANALISA VITAMIN C



BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Vitamin C atau asam askorbat adalah komponen berharga dalam makanan karena berguna sebagai antioksidan dan mengandung khasiat pengobatan. Vitamin C mudah diabsorpsi secara aktif, tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C bila di konsumsi mencapai 100 mg sehari. Jumlah ini dapat mencegah terjadinya skorbut selama tiga bulan. Tanda-tanda skorbut akan terjadi bila persediaan di dalam tubuh tinggal 300 mg. Konsumsi melebihi taraf kejenuhan akan dikeluarkan melalui urin ( Almatsier, 2001). Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah seperti jeruk, nenas, rambutan, papaya, tomat dan wortel. 
        
Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam tulang, dentin, dan vasculair endothelium. Asam askorbat sangat penting peranannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin. 

Penetapan kadar Vitamin C dalam suasana asam akan mereduksi larutan dye membentuk larutan yang tidak berwarna. Apabila semua asam askorbat sudah mereduksi larutan dye sedikit saja akan terlihat dengan terjadinya perubahan warna merah jambu (Almatsier, 2001).

1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui pH total asam dan vitamin C suatu bahan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Vitamin C
Vitamin C adalah vitamin yang tergolong vitamin yang larut dalam air. Sumber Vitamin C sebagian besar tergolong dari sayur-sayuran dan buah-buahan terutama buah-buahan segar. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam individu yang berbeda (Sweetman, 2005).
     
Asam askorbat (vitamin C) adalah turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk teroksidasi). Oksidasi bolak-balik L-asam askorbat menjadi L-asam dehidro askorbat terjadi apabila bersentuhan dengan tembaga, panas, atau alkali (Akhilender, 2003).

Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh. Pertama, fungsi vitamin C adalah sebagai sintesis kolagen. Karena vitamin C mempunyai kaitan yang sangat penting dalam pembentukan kolagen. Karena vitamin C diperlukan untuk hidroksilasi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin yang merupakan bahan penting dalam pembentukan kolagen. Kolagen merupakan senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur sel di semua jaringan ikat, seperti pada tulang rawan, matriks tulang, gigi, membrane kapiler, kulit dan tendon. Dengan demikian maka fungsi vitamin C dalam kehidupan sehari-hari berperan dalam penyembuhan luka, patah tulang, perdarahan di bawah kulit dan perdarahan gusi.
     
Asam askorbat penting untuk mengaktifkan enzim prolil hidroksilase, yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan hidroksipolin, suatu unsure integral kolagen. Tanpa asam askorbat, maka serabut kolagen yang terbentuk di semua jaringan tubuh menjadi cacat dan lemah. Oleh sebab itu, vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan kekurangan serabut di jaringan subkutan, kartilago, tulang, dan gigi (Guyton, 2007).

2.2 Penjelasan Bahan Baku
2.2.1 Jeruk Manis
Jeruk (Citrus sp) adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Balai Pelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Badan litbang Pertanian di Malang telah mengumpulkan lebih kurang 160 jenis jeruk yang dieksplorasi mulai dari Sabang sampai Merauke serta beberapa jenis jeruk import. Beberapa jenis jeruk diantaranya adalah jeruk keprok Tejakula, Sipirok, Kacang, Siam Banjar, Siompu, Simadu, Bali Merah, Crifta 01, Jemari Taji, Pamelo Ratu, Raja, Magetan, Sri Nyonya, Nambangan, jeruk manis Pacitan dan lain-lainnya dan dapat tumbuh dan berproduksi di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik dilahan sawah maupun tegalan. Dari semua jenis jeruk tersebut, jeruk siam, jeruk baby, jeruk keprok, jeruk Bali, jeruk nipis dan jeruk purut merupakan jenis jeruk lokal paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Sedangkan jeruk yang diintroduksi paling banyak adalah jenis Lemon dan Grapefruit. Sekitar 70-80% pertanaman jeruk di Indonesia adalah jeruk siam, sedangkan jenis jeruk lainnya adalah jeruk keprok, dan pamelo (Badan Litbang Pertanian, 2005).

2.2.2 Cabe
Cabai merupakan sumber vitamin A, B, C dan E , serta ditambah mineral seperti molibdenum, mangan, folat, kalium, thiamin, dan tembaga. Cabai merah dan hijau yang segar adalah sumber yang kaya vitamin C-. Pada 100 g cabai segar menyediakan sekitar 143,7 mg , atau sekitar 240% RDA. Vitamin C adalah antioksidan ampuh yang larut dalam air . Ini diperlukan untuk pembentukan kolagen dalam tubuh. Kolagen adalah protein struktural utama dalam tubuh yang diperlukan untuk menjaga integritas pembuluh darah, kulit, organ, dan tulang. Mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin C dapat membantu tubuh terlindungi dari penyakit kudis, meningkatkan kekebalan, anti radikal bebas pada tubuh (Cahyono, 2010).

2.3 Prinsip Analisa Titrasi Iodin
Metode ini paling banyak digunakan, karena murah, sederhana, dan tidak memerlukan peralatan laboratorium yang canggih. titrasi ini memakai Iodium sebagai oksidator yang mengoksidasi vitamin C dan memakai amilum sebagai indikatornya (Wijanarko, 2002).
     
Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan dianjurkan apabila thiosulfat harus digunakan untuk penentuan tembaga (Day & Underwood, 1981).
     
Dalam menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodine. Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen pengoksid yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksid yang membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya (Day & Underwood, 1981).



BAB III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Penulis melakukan praktikum tempatnya di Laboratorium Kimia Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Jambi sedangkan waktu melakukan praktikum adalah jam 7.30 – 09.30 tanggal 31 Maret 2016.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Uji Keasaman pH
  • Alat Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah blender, pH meter dan gelas piala. 
  • Bahan Bahan yang digunakan yaitu: jeruk manis dan cabe.  

3.2.2 Total Asam Tertitrasi
  • Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah blender, labu takar 250 ml, kertas saring, erlenmeyer 50 ml, buret, pipet dan statis.
  • Bahan Bahan yang digunakan yaitu: jeruk, wortel, NaOH 0,1 N dan indikator pp.

3.2.3 Asam Askorbat (Vitamin C)
  • Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah erlenmeyer, pipet, buret dan statis.
  • Bahan Bahan yang digunakan yaitu: larutan iod 0,01 dan indikator amilum.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Uji Keasaman pH
Hancurkan bahan sebanyak 100 g menggunakan blender. Untuk bahan yang kadar airnya yang relatif rendah, tambahkan akuadessebanyak 100 ml (1:1) ke dalam blender sebelum bahan dihancurkan. Ukur pH hancuran bahan menggunakan pH meter sebanyak sebanyak tiga kali kemudian nilainya dirata- ratakan.

3.3.2 Total Asam Tertitrasi
Hancurkan bahan sebanyak 100 gram menggunakan blender dengan penambahan 100 ml akuades, masukkan hancuran bahan kedalam labu takar 250 ml lalu encerkan sampai tanda batas dengan akuades digunakan sebagai pembilas blender. Saring dengan kertas saring lalu titrasi filtrat yang diperoleh sebanyak 25 mldengan larutan NaOH 0,1 N, tambahkan indikator PP sebanyak tiga tetes kedalam filtrat sebelum dititrasi. Lakukan titrasi sampai terbentuk warna merah muda yang stabil. Total asam tertitrasi dinyatakan sebagai NaOH 0,1 per 100 gram bahan. 

3.3.3 Asam Askorbat (Vitamin C)
Titrasi 25 ml filtrat untuk pengukuran total asam tertitrasi dengan larutan iod 0,01 N. Tambahkan indikator amilum pada filtrat sebelum dititrasi, lakukan titrasi sampai terjadi warna ungu yang stabil (terbentuk warna biru ungu). Asam askorbat (mg/100 bahan) = ml iod 0,01 N x faktor pengenceran x 100 : berat contoh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini penetuan kadar asam yang terdapat pada sampel menggunakan kertas pengukur keasamanan sampai terbentuk warna merah bata yang menandakan adanya kandungan asam pada masing-masing sampel. Penentuan kandungan asam diperoleh data hasil pengukuran keasaman (pH) pada masing- masing bahan yaitu pada jeruk nipis di peroleh data pengukuran pH 2,50, pada cabai di peroleh pH 5,09, pada buah jeruk manis diperoleh pH 4,44 dan pada buah tomat diperoleh pH 4,22. Cabai mengandung asam yang paling rendah, semakin tinggi pH maka semakin rendah asam yang terdapat pada bahan.
     
Penentuan total asam menggunakan sampel timun, jeruk, wortel dan tomat. Masing-masing sampel di titrasi dengan di tambahkan indikator PP sebagai indikator penguji sebanyak 3 tetes dan menggunakan NaOH secukupnya sampai terbentuknya warna merah muda yang tetap dan tidak hilang selama 30 detik. Pada masing-masing sampel terbentuknya warna merah muda menyatakan bahwa adanya kandungan total asam yang terdapat pada masing-masing bahan. Pada timun NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi yaitu 1,25 ml dalam jangka waktu 57 detik terbentuknya warna merah muda tetap. Pada jeruk NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi yaitu sebanyak 4 ml dalam waktu 40 detik terbentuknya warna merah muda tetap. Untuk wortel NaOH yang dibutuhkan pada titrasi yaitu 1,3 ml dalam jangka waktu 40 detik terbentuk warna merah muda tetap. Sedangkan pada tomat NaOH yang dibutuhkan sebanyak 1,3 ml dalam jangka waktu 1 menit 40 detik sampai terbentuk warna tetap pada setiap bahan.
     
Penetapan kadar vitamin C pada praktikum ini menggunakan sampel timun dan tomat. Pada air tomat volume iodium yang dibutuhkan untuk titrasi 3,5 ml sehingga dapat diketahui kadar vitamin C sebanyak 1,23 %. Sedangkan pada penentuan kadar vitamin C buah timun mengalami kegagalan dikarenakan proses penyaringan yang terlalu cepat menyebabakan warna yang diinginkan tidak terbentuk namun warna yang didapat yaitu hijau kehitaman serta volume iod yang di butuhkan juga terlalu banyak. 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum dapat disimpulkan bahwa pada buah jeruk manis, jeruk nipis, cabai dan tomat memiliki pH yang berbeda-beda sesuai kandungan masing-masing keasaman. Untuk total keasaman jeruk memiliki total asam tertitrasi paling tinggi dari tomat, timun dan wortel dengan waktu pentitrasian paling cepat. Penentuan kadar vitamin C yang di peroleh pada buah tomat yaitu 1,232 %

5.2 Saran
Diharapkan kepada mahasiswa Pada saat menjelaskan teori lebih jelas agar praktikan lebih paham dan selesai meggunakan alat laboratorium, segera dicuci dan kembalikan ke tempat semula.

Daftar Pustaka

Akhilender. 2003. Dasar-Dasar Biokimia I. Erlangga, Jakarta.

Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Cahyono, Bambang. 2010. Sukses Budi Daya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan. Yogyakarta: Lily Publisher Day,

R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Laporan Praktikum Analisis Vitamin C"

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!