loading...

Pembuatan Pewarna Bubuk Alami Pinang


LAPORAN  PRATIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN

PEMBUATAN PEWARNA BUBUK ALAMI PINANG




Disusun Oleh :
Muhammad Wasil (J1A114013)






JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tanaman Pinang merupakan golongan tanaman palma yang tersebar luas di Afrika Utara, Asia Selatan, dan Kepulauan Pasifik.  Penyebaran tanaman pinang di Indonesia meliputi daerah Nangroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan (Miftahorrachman dan Maskromo 2007).
Pemanfaatan pinang untuk konsumsi dalam negeri masih sedikit. Selama ini, pinang digunakan sebagai ramuan yang dimakan bersama sirih yang menjadi kebiasaan turun temurun pada beberapa daerah tertentu di Indonesia. Selain itu, pinang digunakan sebagai obat tradisional. Penggunaannya sebagai pewarna telah digunakan bersama gambir menghasilkan warna soga pada batik. (Kementan 2009).
Pinang (Areca catechu Linn) terutama pada bagian biji merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pewarna. Biji pinang dapat menghasilkan warna merah anggur tua. Sebagian besar pinang Indonesia diekspor. Volume ekspor pinang Indonesia pada tahun 2008 adalah 183.972 ton dengan nilai US$ 106.335.000 (Kementan 2009).
Pewarna yang diperoleh dari biji pinang  melalui proses ekstraksi. Ekstrak biji pinang yang berbentuk cair dapat dikeringkan menghasilkan pewarna dalam bentuk bubuk. Spray drier merupakan salah satu metode pengeringan untuk menghasilkan produk bubuk dari dari bahan berbentuk cairan. Proses pengeringan menggunakan spray drier berlangsung sangat cepat, menghasilkan bubuk dengan mutu yang baik dan stabil dan biaya operasi yang relatif rendah (Munin dan Edwards-Levy 2011).
Pada praktikum ini dilakukan proses pembuatan bubuk pinang yang diperoleh dari ekstraksi biji pinang tua, proses ekstraksi serta proses pengovenan menghasilkan bubuk pinang dan persentase rendemen.

1.2  Tujuan
Untuk mengetahui cara pembuatan bubuk pinang dan prinsip-prinsip pembuatatannya.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman pinang (Areca catechu Linn) termasuk golongan tanaman palma yang tersebar luas di Afrika Utara, Asia Selatan dan kepulauan Pasifik (Staples dan Bevaqua 2006). Penyebaran tanaman pinang di Indonesia meliputi daerah Nangroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan (Miftahorrachman dan Maskromo, 2007)
Komponen utama biji pinang adalah air, protein, karbohidrat, lemak, serat, polifenol (flavonol dan tanin), alkaloid dan bahan mineral. Komposisi kimia pada biji pinang muda (hijau) dan biji pinang yang telah masak dapat dilihat pada Tabel 1. Konsentrasi kandungan kimia biji pinang berbeda-beda tergantung pada lokasi geografi tempat tumbuh dan tingkat kematangan buah. Bagian yang memiliki nilai ekonomis yang utama pada tanaman pinang adalah buah khususnya biji. Buah pinang disebut buah batu (buni), keras dan berbentuk bulat telur. Panjang buah antara 3 – 7 cm, diameter biji 1,9 cm, warna kuning kemerahan. Buah terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan luar (epicarp) yang tipis, lapisan tengah (mesocarp) berupa sabut dan lapisan dalam (endocarp) berupa biji yang di dalamnya terdapat endosperm. (Jayalakshmi dan Mathew, 1982).
Menurut biji pinang digunakan sebagai ramuan yang dimakan bersama sirih. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan secara turun temurun pada beberapa daerah tertentu di Indonesia (Barlina, 2007). Biji pinang dapat digunakan sebagai bahan pewarna dan penyamak. Biji pinang yang belum terlalu masak dihaluskan dan dicampur dengan alkali dapat menghasilkan warna merah anggur tua. Oleh karena itu, India telah memanfaatkan biji pinang untuk mewarnai kain. Selain itu, biji pinang juga telah dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit karena biji pinang mengandung tanin. Amerika dan Jerman pernah menggunakan biji pinang sebagai bahan penyamak secara besar-besaran. Standar mutu biji pinang yang akan diekspor secara umum adalah kering, tua, bersih dari kulit, tidak berlubang dan bebas dari jamur. (Heyne, 1987).
                                                                                                  







Tabel 1. Komposisi kimia pada biji pinang muda (hijau) dan biji pinang yang telah masak (% bobot kering, kecuali air) :

Komponen

Biji pinang muda
Biji pinang masak
Air
69,4 – 74,1

38,9 – 56,7


Karbohidrat

17,3 – 23,0
17,8 – 25,7

Protein

6,7 – 9,4
6,2 – 7,5

Lemak

8,1 – 12,0
9,5 – 15,1

Serat

8,2 – 9,8
11,4 – 15,4
Polifenol

17,2 – 29,8

11,1 – 17,8
Arekolin

0,11 – 0,14

0,12 – 0,24

Abu

1,2 – 2,5
1,1 – 1,5
Sumber : Jayalakshmi dan Mathew (1982)



BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksankan pada hari Selasa, 09 Mei 2017 Pukul 08.00 WIB s/d Selesai. Bertempat di Laboratorium Analisis Pengolahan Hasil Pertanian, Gedung Barat Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.
3.2 Alat dan Bahan
            Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu spatula, pisau, oven, timbangan, dandang, batang pengaduk, pengadonan kue, kompor, saringan, timbangan digital, alumunium foil, gelas beker, loyang, dan neraca tiga lengan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pinang tua sebanyak 20 butir, tween 0,1 %, dekstrin 3%, dan air.
3.3 Prosedur Kerja
            Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Ditimbang buah pinang tua sebanyak 20 butir. Lalu buah pinang dibelah dengan menggunakan pisau hingga diperoleh biji pinang. Kemudian biji pinang tanpa kulit ini ditimbang kembali lalu dipotong kecil-kecil. Kemudian biji pinang direbus pada perbandingan 1 : 10 ( 1kg : 10 liter air ) pada suhu 80 ᵒCselama 20 menit. Disaring air rebusan biji pinang dan diambil filtratnya sebanyak 400 ml. Selanjutnya ektrak biji pinang ditambahkan tween 0,1 % dan dekstrin 3 %, kemudian dikocok kuat hingga terbentuk buih. Kemudian ekstrak biji pinang diletakkan di loyang dengan beralaskan alumunium foil. Selajutnya dioven selama 24 jam pada suhu 100 ᵒC. Dihancurkan filtrat yang telah dikeringkan dan ditimbang untuk dihitung hasil rendemen.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 2. Hasil Pembuatan Bubuk Pinang
Kelompok
Berat Awal
Pinang (gr)
Berat Setelah
Dikupas (gr)
Berat Bubuk
Pinang (gr)
Rendemen
(%)
1
600
180
9,99
5,55
2
600
210
12,1
5,762
3
742
240
14
5,83
4
925
254,5
11,54
4,534

4.2 Pembahasan
            Pada praktikum ini dilakukan pembuatan bubuk pewarna dari pinang. Bahan baku yang digunakan yaitu buah pinang muda dan buah pinang tua (masak). Buah pinang muda ditandai dengan warna kulit hijau dan buah pinang tua berwarna kuning jingga. Pada proses pembuatan bubuk pewarna pinang digunakan ekstrak dari biji pinang yang muda dan pinang tua. Prsoses ekstraksi diambil dari proses penyaringan biji pinang yang telah diiris  kecil dan direbus pada suhu 80 ᵒC selama 20 menit. Hasil ekstraksi kemudian ditambahkan tween 0,1 % dan dekstrin 3 % hingga proses pengeringan (oven) untuk mendapatkan jumlah persentase rendemen.
            Rendemen merupakan hasil data jumlah produk, persentase pewarna bubuk pinang yang diperoleh dari sejumlah bahan baku ( biji pinang ) dari pinang tua dan pinang muda lalu diekstraksi hingga diperoleh rendemen. Rendemen yang diperoleh dari hasil praktikum adalah 4,53 – 5,83 %. Dalam hal ini rendemen tertinggi diperoleh dari ekstraksi biji pinang tua. Namun untuk hasil rendemen terendah juga berasal dari biji pinang tua. Hal tersebut dimungkinkan karena perbedaan penggunaan air pada saat perebusan biji pinang, pada hasil rendemen 4,53% menggunakan air sebanyak 500 ml berbeda dengan pada literatur penggunaan  dan bahan baku dengan perbandingan 1:10 ( 1kg : 10 Liter air ). Hal tersebut memungkinkan bahan baku (biji pinang) tidak terekstrakvdengan baik karena kurangnya jumlah air yang digunakan sehingga rendemen hasil rendemen sedikit.

            Untuk warna, diperoleh data hasil pengamatan warna dari sampel ke 3 (biji pinang tua) memiliki warna lebih cerah di bandingkan dari sampel 1 dan 2 (biji pinang muda). Ha ini dilihat dari pengamatan visual perbedaan warna tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah bahan yang terekstrak oleh filtrat dan proses pengeringan. Pengamatan dilakukan deharusnya dengan analisa warna seharusnya dilakukan pada adobe photoshop untuk mendapatkan hasil yang valid.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa data hasil rendemen diperoleh berkisar antara 4,53 – 5,83 % dari  biji pinang muda dan pinang tua. Prinsip pembuatan bubuk pewarna pinang adalah bahan baku, dan penambahan bahan lain ( air ), pemanasan ( pengovenan ), dan analisa warna.
5.2 Saran
            Sebaiknya praktikum dilakukan sesuai literatur untuk memperoleh hasil yang baik.








DAFTAR PUSTAKA

Barlina, R. 2007. Peluang pemanfaatan buah pinang untuk pangan. Bul Palma.33: 96–105
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I. Jakarta: Yayasan SaraWana Jaya.
Jayalakshmi A, Mathew AG. 1982. Chemical composition and processing. In:Bavappa KVA, Nair MK dan Kumar TP, editor. The Arecanut Palm, Kerala:Central Plantation Crops Research Institute. hlm 225–244.
[Kementan] Kementrian Pertanian Republik Indonesia. 2009. Basis Data StatistikPertanian. (Diakses dari http://database.deptan.go.id/bdsp/index.asp).
Munin dan Edward. Z. 2011. Pengaruh Pemanasan Terhadap Kejenuhan Asam Lemak Minyak Goreng Sawit Dan Minyak Goreng Jagung. Jurnal Indone Med Assoc 61:248-252
Staples GW, Bevacqua RF. 2006. Areca cathechu (Betel Nut Palm). SpeciesProfiles for Pacific Island Agroforestry. www.tradionaltree.org.















LAMPIRAN
Perhitungan Persentase Rendemen
Kelompok 1 :  % Rendemen   =  x 100 %
 x 100 %
          = 5,55 %
Kelompok 2 :  % Rendemen   x 100 %
=  x 100 %
= 5,762 %
Kelompok 3 : % Rendemen    =  x 100 %
=  x 100 %
= 5, 83 %
Kelompok 4 : % Rendemen    =  x 100 %
=  x 100 %
= 4,53 %



LAMPIRAN

Gambar 3. Pengupasan
 

Gambar 2. Penimbangan
 

Gambar 1. Pinang Tua
 
               
                                                                                                                 


Gambar 6. Penyaringan
 


Add caption
Gambar 5. Perebusan
 

Gambar 4. Pengecilan ukuran biji pinang
 
                    
                                                                                    


Gambar 9. Pengovenan
 

Gambar 8. Homogenisasi
 

Gambar 7. Filtrat dan dekstrin
 
                             
                                                                                                                     



Gambar 11. Bubuk Pewarna Pinang
 

Gambar 10. Filtrat Pinang Kering
 
       


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pembuatan Pewarna Bubuk Alami Pinang"

Post a Comment

Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Tinggalkan Komentar!